Metamorfosis Warung Kopi Tradisional

Metamorfosis Warung Kopi Tradisional

  Senin, 6 June 2016 09:30
MERACIK KOPI: Barista di warung kopi Bandar Muzzaki sedang menyeduh kopi untuk pelanggan. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Minum kopi setiap hari sudah menjadi rutinitas bagi banyak orang. Wajar saja jika ini menjadi gaya hidup. Berbagai tempat tongkrongan yang menyajikan secangkir kopi pun menjamur di Pontianak. Akan tetapi tidak banyak yang memberikan warna yang berbeda. Menyajikan kopi dalam konsep yang tidak biasa. 

Ramses L Tobing

KOPI Bandar Muzzaki satu dari sekian banyak coffee shop yang tumbuh di seantero kota seribu parit ini. Perbedaan yang terlihat, jelas berbeda jika dibandingkan dengan warung kopi, atau tempat yang menyajikan kopi tiam.

Coffee shop dibangun dengan konsep modern. Seakan sebagai metamorphosis dari warung kopi. Mulai dari segi tampilan penyajian, dekorasi ruangan dan jenis kopi yang disajikan ke konsumen.

Kopi Bandar Muzzaki tidak serta merta lahir dengan konsep yang lebih modern. Coffee shop ini awalnya juga lahir dari warung kopi biasa. Warung yang menjual kopi tradisional atau yang juga sering disebut kopi tiam.’

Tiga tahun bergelut dalam konsep tradisional membuat Kopi Bandar Muzzaki harus berubah. Perubahan itu menggambarkan jika ngopi tidak sekedar trend. Sebab, sebagian besar orang sudah ingin tahu sumber asal dari kopi yang diminum.

“Rasa keingintahuan itu yang membuat kami berubah. Selain itu kopi mengalami perkembangan fase gelombang ke III. Artinya tak hanya nongkrong di warung kopi, tapi menggambarkan cita rasa kopi,” ungkap Muhammad Iswahyudi owner Kopi Bandar Muzzaki.

Yudi menilai dirinya tidak salah langkah dalam mengusung konsep modern untuk penyajian kopi. Banyak faktor yang mendukung. Mulai dari peta kopi di seluruh dunia dan Indonesia termasuk dalam kategori terbesar penghasil kopi.

Kemudian di setiap provinsi di Indonesia penghasil kopi memiliki cita rasa berbeda. Tentunya dengan penyajian yang berbeda pula. Lalu didukung dengan berkembangnya teknologi alat kopi. Yang sebelumnya manual beralih ke mesin otomatis. “Dari situlah coffee shop muncul. Dan secara harfiah sama dengan warkop. Hanya berbeda dalam menyediakan kopi serta menu turunannya,” kata Yudi.

Selain konsep, Yudi juga mengubah jenis kopi yang disajikankanya. Jika di Negara ini lebih banyak penikmat kopi robusta, maka Yudi berbeda. Dia menawarkan jenis kopi Arabica kepada pelanggannya. 

“Kenapa kami memilih jenis kopi Arabica karena bisa dieksplor dalam berbagai rasa. Dan akan sulit sekali jika itu dilakukan untuk jenis kopi robusta,” kata dia.

Namun Yudi menyadari berubah konsep bukanlan hal yang mudah. Banyak yang diperlukan. Termasuk sumber daya manusia yakni barista. Untuk membutuhkan itu dia harus vakum satu tahun. Lalu belajar bagaimana meracik kopi dan berbagai variannya.

Ketika kemampuan itu sudah didapat, Yudi tidak langsung membuka coffee shop. Akan tetapi dia bereksperimen tentang kopi yang akan disajikan. Dengan cara seperti ini dia tidak hanya menjual secangkir kopi saja, tapi berikut dengan produk turunannya.

Di perjalanan bisnis inipun Yudi merasa berat. Sebab tidak semua coffee shop di kota ini menyediakan teknik seduh kopi. Belum lagi cita yang disajikan karena dari jenis yang berbeda.

Umumnya, masyarakat Pontianak terbiasa menikmati kopi dengan rasa pahit. Karena memilih jenis kopi arabika, maka rasa yang dinikmati tidak hanya pahit tapi ada rasa asam. Dan tidak semuanya terbiasa dengan varian rasa ini.

“Ini yang dirasakan cukup berat. Di mana orang terbiasa dengan kopi pahit lalu kemudian dicampur gula. Dan ini berbeda, rasa asam dan tetap pahit. Tapi tanpa gula dan memang tidak saya berikan,” kata dia.

Kendati berat, Yudi merasa ini menjadi tantangan untuk mengedukasi masyarakat tentang jenis kopi yang dinikmatinya. Dari mana kopi itu berasal, di tanah, hingga sampai di tangan barista Kopi Bandar Muzzaki.

Dan menariknya coffee shop di Jalan Ali Anyang ini tidak mengambil kopi dalam bentuk bubuk. Justru dalam bentuk biji agar bisa memberikan varian rasa yang berbeda.

“Proses dari hulu ke hilir itu panjang dan itu kami jelaskan. Sampai kepada penyajian kopi sekian gram, air yang disajikan dan teknik lainnya kami jelaskan. Dari sini konsumen benar-benar tahu rasa yang dinikmati berbeda. Jadi tidak sembarangan dan benar-benar terjaga,” ungkap pria kelahiran Kabupaten Sanggau ini.

Lantas bagaimana dengan respon pelanggan? Yudi merasa respon pelanggan cukup bagus meski bisnis ini belum jalan setahun. Ini dilihat dari kunjungan pelanggan ke Kopi Bandar Muzzaki.

Meski harga yang ditawarkan cukup tinggi tidak mengurangi animo pelanggan untuk menikmati kopi. Harga secangkir kopi paling rendah sekitar Rp16 ribu. Harga paling tinggi kisaran Rp25 ribu.

Dengan harga segitu, menjelang akhir pekan, dari Jumat hingga Minggu bisa sampai 60 pelanggan yang datang ingin menikmati secangkir kopi di sini. Beda lagi jika hari biasa, rata-rata pelanggan yang mampir ke coffee shop ini 20 – 30 orang. (*) 

 
 

Berita Terkait