Merendah untuk Meninggikan Diri

Merendah untuk Meninggikan Diri

  Sabtu, 12 May 2018 11:29

Berita Terkait

Humblebrag adalah sikap menyombongkan diri secara terselubung. Seseorang yang melakukan humblebrag biasanya mengatakan suatu kalimat yang saling bertolak belakang dengan niat aslinya. Kalimat atau ungkapannya seolah merendah tentang suatu hal yang membanggakan. Bagaimana jika yang kerap melakukannya adalah pasangan Anda?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Perkembangan media sosial tak hanya berdampak positif dalam mengembangkan bakat dan karya. Namun, juga memberikan dampak negatif. Keaktifan bermain media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya membuat seseorang semakin pintar menuliskan kata-kata.

Pada dasarnya manusia ingin dilihat atau diakui. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memamerkan sesuatu tanpa terlihat terlalu pamer. Baik pencapaian dalam pekerjaan, kesuksesan materi, kebahagiaan dalam membina keluarga, dan lainnya. Namun, media sosial saat ini seringkali dijadikan ajang pamer terselubung, atau dikenal humblebrag. Contohnya menampilkan foto liburan, dengan caption merendah tapi terkesan meninggi.

Humblebrag adalah seni kerendahan hati yang palsu. Perilaku ini mulai dikenal di tahun 2010 oleh Harris Lee Wittels dari Amerika Serikat. Pengalaman menjalin hubungan dengan seorang humblebrag pernah dirasakan Anuar Dirga. Dulu, pegawai swasta di sebuah perusahaan ternama ini memiliki pasangan yang kerap berperilaku humblebrag, baik secara langsung maupun lewat media sosial.

Awalnya, Anuar tak terlalu keberatan akan perilaku pasangannya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, perilaku ini mulai meresahkan diri Anuar dan lingkungan sekitarnya.

“Pernah suatu ketika ia terlalu sibuk dengan perilaku humblebragnya itu, tanpa memperdulikan saya dan lingkungan sekitar. Melihat gelagatnya yang sudah tak sehat, lingkungan mulai menjauhi kami berdua," ujarnya.

Usaha Anuar memberi pengertian pada sang pasangan selalu gagal. Rasa egois kekasih jauh lebih tinggi. Kini, hubungan yang terjalin selama tiga setengah tahun kandas di tengah jalan. Anuar harus rela mengubur impiannya untuk bersanding dengan sang kekasih.

Psikolog Umi Kalsum, S.Psi., M.Psi mengatakan humblebrag mampu mengubah perilaku seseorang jadi menyebalkan. Sosok humblebrag lebih tertarik berkecimpung di dunia maya untuk memberi kesan hebat dalam dirinya dengan kalimat halus.

Umi menuturkan perilaku humblebrag dalam jalinan percintaan dapat menjadi bumerang dalam suatu hubungan. Awalnya, salah satu pasangan mungkin bisa menerima dan memahami. Namun, perilaku humblebrag yang  semakin menjadi, terlebih kata-kata yang disampaikan tak sesuai kenyataan mulai membuat pasangan merasa gerah, bosan, dan sakit hati akan perilakunya.

Contohnya, pasangan membuat kata-kata di media sosialnya, “Pernikahan aku sederhana aja, kok. Tapi undangan mencapai 1000 orang, lho!”. Atau, bisa menuliskan kalimat, “Nikahnya sih sederhana, tapi dekorasi pernikahan itu, lho tampak mewah bak kerajaan.”

“Bisa dikatakan sepele, tapi jadi beban bagi calon suaminya. Bisa saja ia jadi berpikir calonnya menginginkan pernikahan mewah. Tetapi, faktor ekonomi calon suami yang sederhana tak memungkinkan dirinya mewujudkan konsep itu,” ujarnya.

Tanpa sikap merendah untuk meninggikan diri bisa menjadi beban pikiran pasangannya. Kondisi semakin diperparah dengan intensitas unggahan yang sering. Kondisi terburuk pasangan menumpahkan dengan cara emosi. Ketika emosi diri mulai terganggu, perilaku yang dimunculkan akan mengarah pada hal negatif.

“Lama kelamaan impian itu kandas karena tak sesuai dengan kebutuhan dan sebenarnya,” tutur Umi.

Psikolog di Poli Psikologi RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menuturkan perilaku humblebrag didominasi dari dari pola asuh dan lingkungan sekitar. Pembentukan karakter ini kerap tak disadari pribadi diri humblebrag.

Ketika menemukan pasangan yang berperilaku demikian, sebaiknya pasangan lebih peka untuk mengajak berbicara secara baik-baik dan memintanya menahan diri untuk tak pamer secara terselubung. Pria harus lebih sabar mengarahkan pasangan, jika pasangan perempuan berkeinginan aktulisasi diri.

“Terkadang unggahan yang dimuat dengan tak sesuai dengan realita atau kenyataan yang ada,” tambahnya.

Media sosial memiliki pengaruh besar dalam menilai pribadi seseorang. Pasangan tak bisa menghindari penilaian orang lain. Terlebih jika perilaku humblebrag sudah luar biasa dan meresahkan. Jika tetap ingin mempertahankan hubungan, pria perlu menjaga kekuatan (power), jangan sampai kalah dengan pasangannya.

“Saat pria sudah tak mampu dan merasa gerah, keputusan berpisah bisa dipilih. Sebelum pada berlanjut ke jenjang pernikahan. Kalau sudah sampai pernikahan pasti lebih besar lagi,” pungkasnya.**

 

 

Berita Terkait