Merdeka Bagi Anak Pontianak

Merdeka Bagi Anak Pontianak

  Jumat, 17 Agustus 2018 11:16

Berita Terkait

Hari ini bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-73. Sukacita merayakan kemerdekaan ditunjukkan dengan beragam hal. Mulai dari  upacara pengibaran bendera, lomba panjat pinang hingga balap karung. Anak-anak yang paling menantikan hari ulang tahun kemerdekaan. Mereka tidak sabar untuk mengikuti ragam pertandingan 17 Agustusan. Lantas apa makna kemerdekaan bagi anak-anak?

Pontianak Post mewawancarai tiga anak tentang makna kemerdekaan bagi mereka. Kemerdekaan bagi anak-anak tidaklah sama seperti makna kemerdekaan bagi orang dewasa. Tidak pula layaknya pejuang bangsa yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk kejayaaan Indonesia. 

Fazriel Putra Siregar, murid kelas 3 MIN Teladan Pontianak ini mengatakan merdeka baginya bisa bermain bola sepuasnya. “Seru pasti. Bisa lari-lari karena lapangannya luas dan bisa teriak-teriak,” katanya. 

Fazriel hobi bemain sepak bola dan futsal. Anak sembilan tahun ini paling senang diajak bermain ke tempat neneknya.  Ia bisa bermain sepak bola di halaman rumah nenek yang luas. Bertambah seru permainan, ketika banyak teman-teman sebayanya yang ikut bermain. Suasana libur pagi hari itu pun begitu gembira dirasakan Fazriel. 

“Tiap hari minggu itu ke rumah opung. Pagi main bola sampai siang, baru latihan futsal, ikutan les futsal gitu,” paparnya.

Di luar hari libur, setiap pagi Fazriel belajar di Taman Pendidikan Alquran, dilanjutkan les mata pelajaran. Siang hingga sore ia sekolah. Sementara malam hari, ia bermain bersama adiknya.  

Tak jauh beda dengan Zacky Pratama Chaniago. Bagi siswa kelas 6 sekolah dasar ini, kemerdekaan itu bisa memiliki kebebasan untuk belajar dan bermain dengan aman. Kebebasan mendapatkan hak milik, dan kebebasan meraih cita-cita. “Merdeka itu kalau bisa main sama teman, main sepak bola, sama bersepeda keliling bersama teman,” ungkapnya. 

Zacky memang senang bermain bola, juga bersepeda bersama teman-temannya. Setiap hari minggu, ia dan teman-teman bersepeda dari pukul 06.00 hingga 09.00. Bahagia yang ia rasakan, bisa menikmati hari libur keliling sekitar tempat tinggalnya. 

“Kadang, sore hari lanjut gowes lagi bersama teman. Sampai-sampai papa menjuluki Zacky si bolang,” katanya.   

Di hari lainnya, waktu lebih banyak dihabiskan dengan belajar. Sekolah dari pukul 07.00 hingga 13.30. Pulang ke rumah tidur, dan sore baru bangun. Sedangkan main game hanya dibolehkan pada malam libur dan hari libur saja. 

Beda halnya makna kemerdekaan bagi Ghea Juliantika. Ghea memaknai kemerdekaan adalah hari yang menyenangkan. Bisa bermain bermain sepuasnya, dan bisa ikut kegiatan di sekolah sepuasnya. “Kemerdekaan itu adalah hari yang menyenangkan. Bisa ikut perlombaan, bisa main sepuasnya, bisa ikut  drumband, juga paskibra,” jelasnya. 

Siswa kelas enam SD 08 Pontianak Barat ini setiap pulang sekolah mengisi waktu dengan latihan drumband dan paskibra. “Senang saja ikut banyak kegiatan di sekolah,” tambahnya. 

Psikolog Fitri Sukmawati mengatakan, makna kemerdekaan bagi setiap orang berbeda, termasuk bagi anak yang satu dengan anak yang lain.  Merdeka bisa dimaknai terhindar dari tekanan secara fisik dan psikis. Ada juga yang mengartikan kemerdekaan itu sebuah kebebasan. 

Perbedaan makna kemerdekaan, lanjut Fitri, dipengaruhi perbedaan kehidupan yang dijalani, dan apa yang dirasakan masing-masing anak.  Seperti perbedaan pola asuh, juga perbedaan minat dan bakat anak. 

“Makanya yang hobi bola bilang merdeka itu bisa main sepak bola sepuasnya, dan yang hobi sepedaan menganggap merdeka bisa main sepeda sepuasnya. Beda lagi dengan anak lainnya yang punya minat dan bakat yang tidak sama,” kata Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalbar ini.   

Pada anak-anak, bisa bermain sepuasnya adalah bentuk dari kemerdekaan fisik dan psikis. Mereka bisa bebas bermain hingga senja. Menghabiskan banyak waktu dengan hal-hal yang disenangninya. “Bermain bagi anak itu kebutuhan. Jika waktu bermainnya dibatasi, bahkan apa yang ia sukai dilarang, anak merasa terkekang, tidak bebas, tidak merdeka. Karena masanya anak-anak itu adalah masanya bermain,” tambahnya. 

Misalnya ada orang tua yang melarang anaknya bermain dengan teman di lingkungan rumah. Secara fisik, anak merasa dia dikekang. Hanya boleh main di rumah saja. Secara psikis juga begitu. Anak merasa apa yang diinginkan tidak boleh, apalagi jika anak mulai membandingkan dengan temannya, menganggap diperlakukan berbeda.  

Fitri mengatakan, makna merdeka tidak selalu diartikan bebas bermain. Bisa juga, kata Fitri, ada anak yang merasa merdeka itu berarti tidak sakit. Misalnya pada anak yang harus rutin cuci darah, atau sering sakit-sakitan. Merdeka juga bisa berbeda bagi anak yang bermasalah dengan hukum. “Jadi makna merdeka bagi anak-anak itu sama dengan seperti orang dewasa. Luas, dan beragam sesuai dengan situasi dan kondisi yang dirasakan anak-anak itu,” terangnya. 

Bagi anak yang senang ekstrakurikuler di sekolah, bisa menganggap merdeka itu bisa ikut banyak ekstrakurikuler. Tapi ada orang tua yang membatasi. Menurut Fitri, orang tua punya pertimbangan, misalnya khawatir anaknya terlalu lelah dan mempengaruhi aktivitas belajar di kelas.

“Bukannya orang tua melarang, tetapi ada anak yang aktif sekali. Pramuka ikut, drumband ikut. Pulang sekolah sudah sore, lanjut lagi, kegiatan. Akhirnya tidak mempertimbangkan kesehatan, sementara si anak merasa dia senang melakukan aktivitas tersebut,” jelasnya.

Peran orang tualah, kata Fitri, memberikan pemahaman kepada anak terhadap pola asuh, atau pun aturan-aturan yang diterapkan di rumah. Sampaikan kepada anak alasan kenapa sesuatu itu dibatasi, dibolehkan, dan kenapa dilarang. 

“Kuncinya bagaimana orang tua menyampaikan itu dengan komunikasi yang baik dan tepat,” pungkasnya. (mrd) 

Berita Terkait