Meraup Rupiah dari Tempelan Stiker

Meraup Rupiah dari Tempelan Stiker

  Kamis, 28 January 2016 08:14

Berita Terkait

Prospek usaha cutting stiker cukup menjanjikan. Apalagi pelaku usaha di sektor ini juga belum terlalu ramai, di Pontianak dan sekitarnya. Koran ini mencoba melihat perjalanan mereka yang terjun di bisnis ini. Ramses L Tobing

Tidak sulit mencari pelaku usaha di sektor ini. Sebab mereka sudah memiliki brand sendiri. Begitu disebutkan namanya, sebagian besar orang sudah tahu. Misalnya Domino, Djogja Sticker, Bintang atau nama-nama lainnya.

Konsumen mereka adalah pencinta modifikasi kendaraan, baik itu mobil atau motor. Sering ikut andil kontes modifikasi membuat nama bisnis ini semakin terkenal. Ujung-ujungnya mereka akan diburu konsumen. Diva Erlinda misalnya. Owner dari Jogja Stiker ini mengaku mendirikan usaha ini bersama suaminya dari tahun 1997. Kala itu belum berdiri di Pontianak. Sesuai dengan namanya, usaha ini berbasis di Yokyakarta. “Saya waktu itu masih kuliah di sana dan suami yang menjalankan usaha ini,” kata Diva saat ditemui wartawan koran ini.

Dia menilai pangsa pasar kota pendidikan itu sangat bagus. Masyarakat sudah familiar dengan modifikasi motor menggunakan stiker. Lokasi yang strategis membuatnya tidak kesulitan mencari pelanggan. Tahun 2004, Diva dan suaminya memutuskan kembali ke Pontianak. Pasangan suami istri ini membuka bisnis yang sama di kota 1000 parit ini. Begitu hijrah, usaha ini dibuka di rumah orangtuanya, Jalan Apel, Pontianak Barat.

Meskipun awalnya ada ketidakyakinan dari keluarga usaha ini akan berkembang di Kota Pontianak, akhirnya anggapan itu berhasil digubris. Dua tahun kemudian, lokasi usaha pun pindah di Jalan Agus Salim, Pontianak. Prospek yang bagus menjadi alasan berpindah tempat usaha.

Diva mengaku harus berpromosi segencar mungkin untuk mengenalkan cutting sticker ke masyarakat Pontianak. Maklum ketika itu, usaha ini belum terlalu familiar. Promosi mulai dari mengikuti kontes hingga membagikan pamflet dan brosur ke anak-anak yang kerap nongkrong di pinggir jalan. “Hal ini memberikan efek besar. Djogja Sticker lebih dikenal masyarakat,” ujarnya.

Perlahan tapi pasti, usaha ini semakin dikenal. Nama Djogja Sticker sudah tidak asing lagi di kalangan pencinta modifikasi kendaraan. Diva awalnya hanya memiliki tiga karyawan dan kemudian bertambah menjadi tujuh.

Sungguhpun demikian, jumlah itu masih kalah jika dibandingkan di Yokyakarta. Bayangkan saja di sana dia memiliki 15 karyawan. Itu belum digabung dengan bagian yang lain, pasang hingga desain stiker. “Pangsa pasar di sini bagus, tapi di sana lebih bagus. Tetapi perlahan-lahan orang semakin kenal dengan bisnis ini,” ungkapnya.

Bagi Diva, kecepatan kerja, pelayanan maksimal dan kualitas adalah kunci utama dalam mempertahan konsumen. Meski lokasi usahanya terbilang sempit, tidak membuat surut pelanggan yang datang. Saban hari tetap saja ada pelanggan yang datang. Dia mencatat ada 50 pelanggan dalam sehari dengan berbagai keperluan.  Apakah itu pemasangan cutting stiker, beli atau hanya desain. Untuk tarif pun ditawarkan beragam. Apalagi toko ini tidak hanya menawarkan cutting stiker saja. Ada juga stiker yang sudah siap pakai. Mengenai motif dan bentuk desain adalah karya dari Djogja Sticker.

Soal kendala, Diva mengaku tidak terlalu banyak. Resiko terbesar yang dihadapi adalah kerusakan mesin. Jika sudah seperti itu, maka perlu mendapatkan teknisi untuk memperbaiki. Otomatis akan dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit.  Soal bahan baku, menurut Diva juga tidak sulit mendapatkannya. Ada yang sebagian di datangkan dari lokal, ada juga dari distributor luar. Hanya saja nilai tukar rupiah terhadap dollar yang masih tinggi berdampak pada harga bahan baku. Kendati demikian dia mengaku harga jasa di konsumen belum ada perubahan. **

Berita Terkait