Menyusun bagian ‘Pendahuluan’ Artikel Ilmiah

Menyusun bagian ‘Pendahuluan’ Artikel Ilmiah

Sabtu, 9 December 2017 08:23   1
Ilustrasi; www.3dprinter.net

Banyak tanggapan yang diterima atas sajian tentang membuat abstrak (Pontianak Post 26-11-2017) dan menyajikan hasil suatu artikel ilmiah (Pontianak Post 3-12-2017). Oleh karena itu, tema menulis artikel untuk jurnal ilmiah akan diteruskan dalam beberapa nomor. Sajian edisi ini berisi tentang ‘bagian pendahuluan’.

Sedikit berbeda dari abstrak, bagian pendahuluan sebuah artikel ilmiah disusun untuk memenuhi ke-ingintahu-an pembaca tentang latar belakang dari penelitian yang bersangkutan serta betapa penting penelitian itu dalam situasi yang sesungguhnya.

        Abdullah Armağan, Departemen Urologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Bezmialem Vakıf İstanbul, Turki, 2013, menganalogkan bagian pendahuluan sebuah artikel ilmiah dengan pintu gerbang sebuah kota. Ketika seseorang memasuki pintu gerbang suatu kota, di dalam benaknya terbayang sesuatu yang ada di kota itu. Sayang, di pintu gerbang suatu kota jarang dtemukan informasi, walau pun singkat, tentang  apa yang ada di kota itu. Akibatnya, sering terjadi apa yang dibanyangkan berbeda dari kenyataannya.

Kasus serupa bisa juga terjadi pada saat seseorang mulai membaca suatu artikel ilmiah. Karena itu, bagian pendahuluan suatu artikel ilmiah mesti diusahakan menjadi pintu gerbang yang memberi petunjuk apa isi dari artikel itu (lihat juga: Dr. Jay N Shah, Ketua Editor ‘Journal of Patan Academy of Health Sciences’, 2017).

Dr. Anglle Borja, dari Spanyol, 2014, menyatakan bahwa ‘pendahuluan’ suatu artikel berfungsi untuk meyakinkan para pembaca bahwa temuan yang disajikan dalam artikel yang bersangkutan sungguh berharga (baik bagi ilmu pengetahuan maupun dlam kehidupan sehari-hari). Pendahuluan yang baik harus menjawab sejumlah pertanyaan berikut ini. Apa masalahnya?, Apakah sudah ada penyelesaiannya? Yang mana yang terbaik?, apakah keterbatasan-keterbatasan utama? Serta apa yang diharapkan?

Sebagai editor yang berpengalaman, ia berharap perspektif suatu artikel ilmiah konsisten dengan perspektif jurnal yang menerbitkannya. Beberapa tips yang disarankan adalah: ringkas dan ‘to-the-point’, sajikan intinya lebih dahulu sebelum menunjukkan detailnya, bagian pendahuluan mesti membawa pembaca dari yang umum ke yang spesifik, hati-hati dalam menggunakan kata: “sangat penting”, “belum ada sebelumnya”, “yang pertama”, serta beberapa istilah yang sejenis. Kata-kata semacam ini kurang  menarik para reviewer.

Dalam buku Pedoman Karya Tulis Ilmiah ‘Massachusetts Institute of Technology’  disebutkan beberapa kekeliruan yang sering terjadi dalam bagian pendahuluan. Di antaranya adalah: latar belakang kurang relevan, melebih-lebihkan arti penting temuannya, tidak mengakar pada konteks yang jelas, serta kurang fokus.

       Sandro Etalle, guru besar bidang keamanan sistem jaringan di ‘Technische Universiteit Eindhoven’, Belanda, 2004, menyatakan bahwa bagian pendahuluan suatu artikel ilmiah terdiri atas tiga (3) hal, yaitu: latar belakang, masalah, serta penyelesaian yang diusulkan. Dalam bagian ‘Latar belakang’ disajikan keadaan terkini baik tentang lapangan maupun tentang kondisi ilmu pengetahuan sebidang. Masalah yang ada di lapangan harus disajikan. Ingat,  jika tidak ada masalah maka tidak perlu ditulis suatu artikel. Bagian terakhir dari ‘pendahuluan’ adalah usulan penyelesaian masalah yang akan dilakukan.

        Pedoman Penulisan Makalah Ilmiah Universitas Negeri Colorado, AS, menunjukkan contoh proses penulisan bagian pendahuluan secara rinci. Diawali dengan dua atau tiga kalimat yang menempatkan artikel yang bersangkutan pada konteksnya. Dilanjutkan dengan deskripsi masalah yang terjadi dan riwayatnya, termasuk penelitian-penelitian sebelumnya. Diikuti dengan apa yang dilakukan untuk menangani jurang antara penyelesaian dan masalahnya. Diakhiri dengan informasi apa yang disajikan dari artikel itu.

        Perhatikan contoh berikut ini.

Penelitian pendidikan fisika dalam empat dasa warsa terakhir ini dipenuhi dengan temuan-temuan yang menunjukkan miskonsepsi siswa tentang berbagai konsep fisika. Miskonsepsi ini ternyata lintas jenjang pendidikan, lintas etnis, lintas negara dan bahkan lintas tingkat kemampuan siswa.

Berikut disajikan beberapa penelitian sejak tahun 1980-an hingga kini. Trowbridge dan McDermot, 1980, menggali miskonsepsi siswa tentang kecepatan. leo Sutrisno, 1990, menemukan miskonsepsi siswa tentang bunyi serta meremediasinya. Neşet Demirci, 2005, mengungkap dan sekaligus meremediasi miskonsepsi siswa tentang gaya. Tatiana V. Goris dan Michael J. Dyrenfurth, 2012, mengumpulkan miskonsepsi siswa di bidang rekayasa.

Usaha untuk mengatasi miskonsepsi juga telah dilakukan. Kegiatan ini disebut kegiatan remediasi kesulitan belajar untuk para siswa normal. Remediasi dilakukan setelah proses pembelajaran dievaluasi. Para siswa yang belum mencapai kompetensi yang ditetapkan diwajibkan mengikuti kegiatan remediasi.

Tidak banyak guru yang sungguh melakukannya. Ada banyak alasan yang disampaikan. Di antaranya adalah perlu tambahan waktu dan tentu saja usaha.  Mungkinkah dilakukan kegiatan remediasi yang terintegrasi langsung dalam proses kegiatan pembelajaran?

Penelitian ini merupakan salah satu jawaban dari pertanyaan itu, yaitu mengintegrasikan kegiatan remediasi dalam proses pembelajaran fisika. Proses pembelajaran dilaksanakan dalam tradisi konstruktivisme dengan strategi ‘refutation teks’.

Perlu diingatkan lagi, kemahiran menulis ilmiah itu lebih banyak bersifat ‘art’ ketimbang ‘science’. Karena itu, selain mempunyai pengetahuan secara kognotif, latihan menulis tetap diperlukan. Silahkan berlatih membuat pendahuluan suatu artikel ilmiah sebanyak mungkin. Bandingkan hasilnya menurut kronolagi waktu menyusunnya.**

Leo Sutrisno