Menyoal Predator Anak

Menyoal Predator Anak

  Kamis, 15 February 2018 09:18   212

OLEH: WAHYU SAEFUDIN, S.Psi

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia menerima laporan bahwa ju2mlah kekerasan seksual yang tercatat pada 2015 sebesar 218 kasus. Pada tahun 2016 terjadi penurunan jumlah yang cukup signifikan, di mana yang tercatat berjumlah 120 kasus. Satu tahun setelahnya, pada 2017 Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat penurunan tindak kekerasan seksual hingga menjadi 116 kasus. 

Sementara itu, Kementerian Sosial melalui Divisi Rehabilitasi Sosial Anak menemukan sebanyak 1.956 kasus pada tahun 2016. Peningkatan kasus terjadi pada tahun 2017, di mana Kementerian Sosial menangani sebanyak 2.117 kasus kekerasan seksual. Yang terbaru adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum guru honor terhadap 41 anak di Tangerang, Banten.

Provinsi Kalimantan Barat menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) dalam lima tahun mengalami peningkatan jumlah korban kekerasan seksual. Pelaku kekerasan seksual didominasi oleh orang terdekat korban. Tentu kita masih ingat kasus pemerkosaan yang terjadi pada tahun 2014 di Kabupaten Landak, di mana pelaku adalah ayah kandung dan paman korban. Kasus yang sama juga terjadi di Sintang, hingga di Kubu Raya pada 2016 silam yang membuat korbannya hamil.

Apabila melihat kondisi ini, memang sangat mengkhawatirkan, padahal sejak tahun 2016 pemerintah sudah memberikan pemberatan sanksi pidana pada pelaku dan ancaman hukuman tambahan berupa kebiri kimia. Adapun yang menjadi dasar adalah Undang-Undang No 17 Tahun 2016. Undang-undang tersebut adalah perubahan kedua atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi terhadap generasi penerus bangsa ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena bisa jadi kasus yang tidak tercatat oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia maupun institusi lain jumlahnyalebih tinggi. Hal tersebut karena kurangnya informasi masyarakat mengenai bagaimana harus melaporkannya apabila menjumpai kasus tersebut. Terlebihbagi masyarakat yang berada pada daerah yang memiliki kesulitan akses terhadap Komisi Perlindungan Anak Indonesia, tentu jumlah yang sebenarnya terjadi pada masyarakat kita masih menjadi pertanyaan besar.

Dalam kasus kekerasan seksual pada anak, yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah pelaku kekerasan seksual itu sendiri.Di mana pada kasus yang terjadi, mayoritas pelaku adalah orang yang memiliki kedekatan dengan korban, baik itu ayah kandung, ayah tiri, paman, teman, maupun tetangga. Kedekatan antara pelaku dengan korban memudahkan terjadinya tindakan kekerasan, karena korban maupun keluarga tidak pernah menyangka hubungan yang ada sebagai sebuah ancaman. Meskipun kita tidak boleh memiliki kecurigaan yang berlebihan, hal tersebut menunjukan bahwa pengawasan yang maksimal terhadap anak benar-benar dibutuhkan.

Untuk bisa mencegah kejahatan yang dilakukan oleh predator anak, kita harus mengetahui faktor penyebabnya. Adapun penyebabnya adalah pornografi, historis pernah menjadi korban (pengalaman traumatis), kurangnya pengawasan anak, dan kurangnya pendidikan reproduksi yang diberikan kepada anak.

Pornografi

Randall F. Hyde seorang psikolog senior di Amerika, mengemukakan bahwa pornografi mempunyai dampak negatif yang sangat berbahaya, di antaranya adalah menyebabkankerusakan empat hormon, karena keluar secara berlebihan. Yang pertama adalah Dopamine, hormon yang membuat kita merasakan sensasi bahagia, puas, dan senang. Dopamine membuat orang memiliki candu dan upaya yang terus menerus hingga terwujud dalam perilaku. Neuropiniphrin, hormon ini pada pecandu pornografi menyebabkan segala hal yang terjadi disekitar, membuatnya terangsang untuk berhubungan seksual. Serotonin, hormon ini memberikan efek nyaman ketika pecandu pornografi mengalami stres, dengan melihat hal hal yang berbau pornografi. Oksitosin, hormon ini membuat seorang pecandu pornografi terus menerus untuk selalu mengakses konten porno guna mengobati perasaan rindu.

Pengalaman Traumatis

Pengalaman traumatis berkaitan dengan kejadian yang dialami seseorang yang bersifat psikis (kejiwaan) yang dapat menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif yang dialami korban kekerasan seksual pada masa kecil terus membekas hingga besar apabila tidak ditangani secara serius. Pengalaman ini membuat korban mengalami depresi, sedih, dan memiliki hasrat untuk balas dendam. Hasrat untuk balas dendam kepada oranglain membawa korban kekerasan seksual menjadi pelaku kekerasan.

Pengawasan

Kasus kekerasan yang terjadi dikarenakan kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh orangtua. Pengawasan tersebut tidak hanya di dalam rumah, akan tetapi juga di lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan tempatnya bermain. Banyak orangtua yang merasa anak mereka aman ketika sudah berada di lingkungan keluarga, padahal tidak sedikit kasus yang terjadi di mana pelaku adalah orang terdekat korban. Begitu juga lingkungan sekolah, orangtua tidak bisa lepas tangan begitu saja ketika mengantarkan anaknya ke sekolah. 

Pendidikan Seks / Reproduksi

Pendidikan seks pada anak seharusnya bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk diajarkan oleh orangtua. Namun faktanya pendidikan seks masih dianggap sesuatu yang keliru dan belum layak diberikan pada anak. Pendidikan seks pada anak bisa diajarkan sesuai dengan usia perkembangannya, misalkan anak usia 3-5 tahun, ada baiknya orangtua mulai mengajarkan mengenai bagian tubuh yang bersifat pribadi. Artinya adalah bagian tubuh yang hanya boleh disentuh oleh anak sendiri atau orang lain dengan seizin orangtua. Usia 5-8 tahun anak harus mulai diajarkan melakukan penolakan atau berkata ‘tidak’, ‘jangan’ atau sejenisnya. Pendidikan tersebut harus terus diajarkan hingga anak dewasa.

Kekerasan seksual yang dialami oleh anak adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara, maupun instansi terkait sebagai pelaksana. Tanpa pengawasan yang baik dari orang tua maupun lembaga pendidikan akan meningkatankerawanan anak mengalami kekerasan seksual. 

Penanaman nilai-nilai spiritual dan cara berinternet yang bijak hendaknya diajarkan oleh orang tua maupun sekolah. Nilai-nilai spiritual akan menjadi batasan seseorang dalam berperilaku sehingga dalam aktifitasnya sehari-hari bisa bersikap bijak dalam berinteraksi. Hal tersebut merupakan upaya pencegahan yang relevan apabila melihat penyebab berbagai kasus yang ada. 

Anak sebagai penerus kehidupan sebuah keluarga adalah amanah, dan kaitannya dalam hidup berbangsa dan bernegara adalah aset yang harus dijaga bersama.**

Penulis: Bekerja di Kemenkum HAM Kalbar