Menyikapi Pertanyaan Kritis Anak dengan Bijak

Menyikapi Pertanyaan Kritis Anak dengan Bijak

  Rabu, 30 January 2019 09:04

Berita Terkait

Anak yang banyak bertanya menandakan kritis, cerdas, dan kreatif. Namun, banyak orang yang tak sabar menghadapinya. Padahal respons positif orang tua dalam menjawab pertanyaan anak sangat penting.  Bagaimana cara tepat dalam menyikapinya? 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Menyaksikan pertumbuhan buah hati dari hari ke hari adalah momen yang paling membahagiakan bagi orang tua. Namun, seiring pertambahan usia, anak-anak akan cenderung lebih kritis. Karena di usia di atas dua tahun, keingintahuan anak terhadap berbagai hal cukup besar. Pemahaman bahasa anak pun mulai berkembang. Sehingga, dia akan banyak mengajukan pertanyaan kepada orang dewasa, baik ayah, ibu, kakak, kakek, nenek, atau anggota keluarga lainnya.

Ada saja pertanyaan yang terlontar dari bibir mungilnya setiap hari. Psikolog D.Islamiyah, M.Pd.I, M.Psi mengatakan orang tua tak perlu kaget, jika suatu hari anak bertanya sesuatu yang membuat ayah dan ibunya kesulitan mencari jawaban. Bahkan, cenderung sangat sulit untuk dijawab secara sederhana. Karena sebenarnya pertanyaan yang kerap ditujukan pada orang tuanya adalah bentuk keingintahuan anak tentang dunianya.

Anak berusaha memecahkan keingintahuan tersebut dengan menanyakan kepada orang dewasa yang paling dekat dengannya seperti ayah, ibu, kakak, kakek, nenek, anggota keluarga lain, atau objek lekatnya. Contoh, anak bertanya, “Ini apa?”. Jawaban orang tua atau orang dewasa di sekitarnya anak akan menambah perbendaharaan kosa katanya. Pertanyaan anak berkembang seiring dengan perkembangan usianya.

Seiring dengan perkembangan otak anak, pertanyaan yang muncul juga berkembang, mulai dari apa bekembang menjadi mengapa, dan pada akhirnya pertanyaan yang dilontarkan tergantung pengalaman ‘si anak’ dan apa yang dilihatnya. Misalnya, “Mengapa mobil bisa berjalan, mengapa pesawat bisa terbang, dan lainnya.”. Anak juga bisa saja menanyakan hal paling umum seperti ‘Darimana ia berasal?’. Orang tua tak perlu menjawab pertanyaan ini secara detail.

Orang tua bisa memberi tahu pada buah hati bahwa sebelum dilahirkan, ia tumbuh dan berkembang di dalam perut ibu. Ketika mencapai usia sembilan bulan, ayah dan ibu pergi ke rumah sakit dan ia pun dilahirkan dengan bantuan dokter dan bidan. Katakan pada anak bahwa semua orang, termasuk ayah dan ibu mengalami hal yang sama dengan yang dialami anak. Menjawab yang sederhana, tapi tak berbelit-beli akan membuat anak lebih mudah.

D. Islamiyah mengungkapkan sikap kritis anak dalam bertanya adalah hal yang wajar. Pertanyaan yang muncul pada anak menandakan otak anak sedang berkembang dan jenis pertanyaannyan pun berjalan sesuai dengan usia si anak. Jawaban Anda sebagai orang dewasa sangat berpengaruh pada proses perkembangan tersebut. Apabila Anda merespon dengan baik dan sabar, akan membantu bertambahnya pengetahuan anak dengan cepat.

“Begitu juga sebaliknya. Karena anak akan belajar dari jawaban-jawaban yang orang tua jelaskan padanya,” ujar D.Islamiyah.

Seringkali orang tua merasa jengkel dan marah ketika anak melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi atau saat anak tak puas dengan jawaban orang tua yang dinilainya terlalu sederhana. Menghadapi hal ini, D.Islamiyah menyarankan orang tua bersabar dalam menghadapi sikap kritis anak. Karena hakikatnya pertanyaan yang terlontar dari anak menandakan bahwa otaknya sedang berkembang dan bekerja aktif. 

“Sehingga, timbul rangsangan untuk mengetahui sesuatu sesuai dengan apa yang anak lihat dan rasakan. Hendaknya orangtua menjawab setiap pertanyaan anak dengan rinci dan jelas menggunakan bahasa yang mudah dipahami berdasarkan usia anak,” tutupnya. **  

Berita Terkait