Menyikapi Fenomena Aplikasi Tik Tok

Menyikapi Fenomena Aplikasi Tik Tok

  Rabu, 11 July 2018 10:00

Berita Terkait

Tik Tok, platform sosial video pendek yang didukung dengan musik ini cukup terkenal di kalangan anak-anak. Fiturnya yang unik dan lucu mampu mengasah kreativitas anak, mulai dari gerakan bibir (lipsync) maupun gerakan tubuh. Meski banyak yang beranggapan Tik Tok jadi wadah membuat anak lebih kreatif, pola permainan dengan waktu yang cukup sering bisa berdampak, bahkan  dapat berpengaruh pada psikologis buah hati.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Setiap anak memiliki kebebasan dalam mengembangkan kreaivitas. Beragam wadah dan media hadir untuk mempermudah anak berkreasi. Salah satunya Tik Tok. Tik Tok seringkali dijadikan media kreativitas anak-anak, terlebih yang memiliki hobi bernyanyi maupun berjoget. Aplikasi ini juga dianggap mampu memfasilitasi keinginan anak-anak untuk mengaktualisasi diri. Sejak dipublikasikan pada September 2017, sudah banyak masyarakat, khususnya anak-anak mengunggah aplikasi ini.

Kini aplikasi Tik Tok membuat masyarakat, khususnya orang tua jauh lebih kritis. Hal ini dikarenakan banyak anak di bawah umur jadi kecanduan bermain gadget. Anak lebih memilih beraktivitas dengan menghabiskan waktu membuat video Tik Tok di dalam kamar dan mengunggah di laman media sosialnya. Atau, menonton video yang dihasilkan oleh selebgram Tik Tok.

Psikolog Patricia Elfira Vinny, M.Psi mengatakan orang tua perlu mengawasi penggunaan media sosial anak, termasuk Tik Tok. Bukan hal yang salah jika orang tua memberi anak kesempatan dan kebebasan untuk bermain Tik Tok. Namun, harus digunakan secara baik. Misalnya, dengan penggunaan aplikasi ini tak membuat anak lupa makan, minum, dan aktivitas belajar. Karena Tik Tok bisa dijadikan sebagai media hiburan.

“Tapi, jika buah hati sudah kecanduan bermain, orang tua perlu melarang atau membatasi anak untuk bermain Tik Tok,” ujarnya.

Psikolog RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menuturkan dilihat secara psikologis, sebenarnya penggunaan media sosial pada anak belum diperkenankan. Sejatinya, tugas perkembangan anak-anak hanya sebatas menjalin hubungan sosial dengan  teman sebayanya secara baik dan optimal. Orang tua bisa memperkenankan dan memperbolehkan menggunakan media sosial saat anak sudah berusia remaja. Asalkan tak menimbulkan dampak kecanduan.

Ketika anak sudah jatuh hati atau tergila-gila bermain Tik Tok, orang tua bisa memberikan nasihat pada anak. Tujuannya agar anak bisa mengontrol diri. Atau, jika anak sudah pada tahap kecanduan, orang tua bisa mengambil tindakan secara tegas dengan membatasinya. Apabila orang tua tetap membiarkan anak bermain Tik Tok, akan berdampak buruk pada aktivitas belajarnya. 

Langkah awal yang perlu dilakukan orang tua adalah memberi edukasi mengenai aplikasi Tik Tok ini. Hal ini sangat penting agar anak dapat mengetahui dan mengenal aplikasi yang digunakannya. Saat anak mengatakan bahwa Tik Tok adalah kegiatan positif, orang tua juga bisa mengajukan pertanyaan serupa. Tanyakan pada anak atau minta bukti dampak positif apa yang dihasilkan dari bermain Tik Tok. 

Beberapa waktu belakangan, orang tua mulai dihebohkan dengan aksi anak-anak yang meminta uang untuk datang dalam acara meet and great bersama selebgram Tik Tok bernama Prabowo. Selebgram yang akrab disapa Bowo ini cukup viral lantaran aksinya bermain Tik Tok. Keresahan orang tua tak hanya terpaut pada nominal harga tiket yang dipatok relatif mahal untuk kantong pelajar yang didominasi anak SD dan SMP.

Namun, juga ungkapan anak-anak yang terlihat memuja Bowo. Beberapa diantaranya ada yang membuat status ingin menjadikan Bowo sebagai ‘Tuhan’. Bahkan, mengaku rela menjual ginjal demi mendapatkan tiket untuk bertemu dan menggadaikan kehormatan demi dilirik sang selebgram. Patricia cukup miris melihat kondisi tersebut. Dirinya menilai tindakan ini sudah termasuk dalam tahap kecanduan. Orang tua bisa mengambil ketegasan pada anak. 

“Salah satu contohnya meminta anak meninggalkan hal-hal yang dapat berdampak buruk, salah satunya penggunaan Tik Tok tersebut,” ujar Patricia. 

Orang tua juga dapat mengintrospeksi diri, jika anak sudah bersikap demikian. Biasanya sikap yang dilakukan anak ini bergantung pada pengalaman dan pola asuh yang dihadirkan orang tua. Bisa saja anak berperilaku demikian karena kurang mendapatkan kasih sayang. Sehingga, ia mencari kompensasi atas kasih sayang. Baik dengan hal-hal baik, maupun buruk dan di luar nalar orang tua maupun diri anak. 

Patricia juga berharap kepada orang tua yang membiarkan buah hatinya bermain Tik Tok hingga viral dan diundang di televisi swasta agar sebaiknya berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan sampai orang tua melihat hal tersebut sebagai ‘sesuatu’ cara mendapatkan uang dari anak. Sehingga, orang tua sengaja membiarkan anak terjerumus dalam aplikasi tersebut. Secara tak langsung hal ini sama saja seperti eksploitasi anak. 

“Karena masa anak-anak belum semestinya menjalani hal-hal demikian, seperti apa yang ditampilkan di televisi swasta. Sejatinya, Anak-anak masih membutuhkan masa-masanya untuk bermain, belajar, dan mengenal lingkungan,” pungkas Patricia. (**)

Berita Terkait