Menyakiti Diri Sendiri Saat Marah

Menyakiti Diri Sendiri Saat Marah

  Rabu, 19 June 2019 10:31

Berita Terkait

Beberapa balita memiliki kebiasaan tertentu saat marah. Ada yang hanya diam saja atau menangis histeris. Ada pula yang menyakiti diri sendiri seperti memukul, mencubit, hingga menggigit anggota tubuhnya. Wajarkah hal tersebut? 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Beberapa orang tua pernah melihat buah hati tercinta menyakiti dirinya sendiri. Seperti kebiasaan memukul kepala atau membenturkannya ke dinding maupun ke lantai sambil menangis. 

Ada juga anak yang kerap menjambak rambut, mencakari pipi, hingga memukulkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri hingga kesakitan. Perilaku ini pasti membuat khawatir. Tidak jarang orang tua berpikir bahwa ini berkaitan dengan psikologis yang dialami buah hati. 

Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan seringkali anak berlaku demikian saat merasa marah, kecewa, atau putus asa. Hal ini wajar terjadi mengingat balita belum bisa mengungkapkan kemarahannya secara verbal. Dia masih memiliki keterbatasan kosa kata atau belum memahami apa yang ingin disampaikan. 

Menurut Desni, anak tahu betul saat melakukan hal tersebut, orang tua akan bereaksi marah, takut, atau segera menuruti keinginan. Jika membiarkan hal ini berlanjut, anak akan melakukannya hal tersebut secara berulang agar keinginannya terpenuhi.

Desni menyarankan orang tua segera mengambil alih dan mencegah anak agar tak menyakiti diri secara berulang. Perilaku menyakiti diri sendiri ini termasuk dalam kategori agresivitas negatif. Jangan sampai dilakukan terus hingga dewasa. 

“Ia menganggap perilaku ini sebagai hal baik. Menurutnya, menyakiti diri sendiri lebih baik dibandingkan menyakiti orang lain,” ujarnya. 

Pimpinan di Biro Konsultasi Psikologi Indigrow ini menuturkan pembiaran juga memiliki dampak buruk lainnya. Pertama, anak akan belajar mengekspresikan emosi dengan cara tak tepat (dalam hal ini agresivitasnya). Kedua, menganggap memukul dan menyakiti dirinya adalah hal biasa. Ketiga, anak belajar bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara menyelesaikan masalah. Keempat, anak dapat membahayakan dirinya sendiri. Kelima, anak bisa jadi contoh negatif untuk lingkungannya.

Orang tua harus bijaksana menghadapi perilaku tersebut. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Saat akan memukul diri, orang tua bisa langsung mencegah dengan cara memeluk dan membujuk anak sambil mengatakan sayang padanya. Pelukan, belaian, dan bujukkan yang disampaikan orang tua akan menenangkan hati anak. Atau, mengalihkan anak dengan mainan yang disukai. 

Dosen prodi PG-PAUD FKIP Untan ini menyarankan orang tua agar tidak berkata ‘jangan’ atau ‘tidak’ saat anak akan memukul dirinya. 

“Ketika anak mendengar ‘jangan’ atau ‘tidak’, maka akan semakin kuat ia memukul dirinya,” jelasnya.

Hindari juga untuk memarahi atau menasehati anak saat itu. Ketika anak marah atau emosi, ia tak akan mau mendengarkan omongan orang lain. Hal ini juga akan memperburuk situasi.

Desni menambahkan orang tua perlu mengajarkan pada anak cara meluapkan emosi secara positif. Ketika situasi sedang tenang dan bahagia, orang tua bisa memberikan nasihat pada anak. Sampaikan pada buah hati bahwa ketika dia merasa marah atau kecewa, bisa menyampaikan alasannya pada ayah atau ibu. Selain itu, bisa juga dengan membacakan buku cerita yang berisikan pesan moral dan menonton film edukasi. 

“Orang tua harus bisa membimbing dan menasehati anak untuk tak melakukan hal negatif. Ajarkan anak cerdas secara emosional, khususnya mengenali emosinya. Dan jangan lupa untuk mengatakan bahwa memukul bukan hal positif,” tutupnya. **

Berita Terkait