Menumbuhkan Budi Pekerti Luhur Anak

Menumbuhkan Budi Pekerti Luhur Anak

  Kamis, 2 June 2016 08:58   2,979

Oleh: Y Priyono Pasti

ANAK adalah masa depan suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, di pundak merekalah masa depan bangsa ini dititipkan dan dipertaruhkan. Karena itu, semua pihak harus menaruh perhatian serius terhadap berbagai aspek kehidupan generasi peradaban ini agar mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan berkarakter yang berguna bagi bangsa dan negaranya.

Di masa mendatang, anak-anak yang cerdas, berkepribadian mantap, mandiri, disiplin, jujur, bertanggung jawab, kreatif-inovatif, memiliki etos kerja adalah keniscayaan agar mereka memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di tengah arus globalisasi yang begitu dahsyat saat ini. Tugas mulia ini idealnya dimulai dari keluarga melalui komunikasi yang sehat, intensif, dan kultural.

Keluarga yang memiliki budaya komunikasi yang baik, akan mampu menciptakan kondisi yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya kecerdasan anak-anak, mekarnya sikap afektif, dan lahirnya pribadi-pribadi tangguh yang dapat bertahan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kuat, baik dari teman sebaya maupun dari peradaban dan masyarakat sendiri. 

Keluarga harus berinteraksi secara positif dengan cara merespon perilaku anak-anak sejak kecil secara kultural. Dengan cara ini, anak merasa apa yang diucapkan, dipikirkan, dan diangan-angankan dalam proses komunikasi verbal dengan orangtua akan merupakan pengalaman yang positif baginya. Pengalaman-pengalaman positif ini nantinya akan bermanfaat bagi proses berpikir dan pembentukan persepsi anak sewaktu mereka menghadapi situasi lain dalam kehidupannya.

Proses komunikasi yang interaktif secara kultural akan menentukan keberhasilan proses sosialisasi anak. Proses sosialisasi ini sangat penting karena dalam proses itu akan terjadi transfer sistem nilai positif kepada anak. Nilai adalah standar-standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Nilai-nilai yang baik akan menjadikan orang lebih baik, hidup lebih baik, dan memperlakukan orang lain secara lebih baik pula. Karena itu, penanaman nilai-nilai kepada anak, baik nilai-nilai nurani (values of being) maupun nilai-nilai memberi (values of giving) mutlak diperlukan.

Anak-anak yang berangkat dari kondisi tanpa nilai (value) akan terkatung-katung tak tentu arah, dan hidup mereka tidak akan pernah menjadi milik mereka sendiri. Itulah sebabnya mantan presiden AS, Ronald Reagen, mengingatkan “Dalam hal memahami prinsip-prinsip kalkulus anak-anak boleh saja dibiarkan menemukan jalan mereka sendiri, tetapi cara yang sama tidak boleh diterapkan dalam hal etika, moral, dan budi pekerti.”  Etika, moral, dan budi pekerti harus diajarkan, dibiasakan, dan dikonsistenkan hingga menjadi budaya. Pada titik inilah, penumbuhan (dan penguatan) budi pekerti di kalangan anak menjadi keniscayaan.

Menyadari betapa pentingnya penumbuhkan budi pekerti luhur di kalangan anak-anak dalam membentuk  insan yang berkarakter itu, pada Juli 2015, Kemendikbud mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). PBP ini mengatur ihwal pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang dimulai sejak orientasi siswa baru sampai dengan kelulusan, dari jenjang SD sampai SMA/SMK, dan sekolah pada jalur pendidikan khusus.

PBP ini akan difokuskan pada kegiatan-kegiatan nonkurikuler di seluruh jenjang pendidikan dan disesuaikan dengan tahapan usia perkembangan siswa. Di SD, misalnya, pelaksanaannya lebih fokus kepada perilaku positif guru dan kepala sekolah sebagai sosok yang diteladani siswa. Di tingkat SMP dan SMA, pelaksanaannya dilakukan dengan metode yang lebih pada kemandirian siswa. Karena difokuskan pada kegiatan-kegiatan nonkurikuler, PBP ini lebih bersifat persuasif dan partisipatif, sehingga tercipta iklim yang menyenangkan bagi seluruh warga sekolah.

Berdasarkan Permen Nomor 23 Tahun 2015 tersebut, lingkup kegiatan PBP ini dibagi menjadi 7 (tujuh). Pertama, menumbuhkembangkan nilai moral dan spiritual. Pada lingkup ini, para siswa dilatih menghayati hubungan spiritual dengan sang pencipta dan diwujudkan dengan sikap moral keseharian untuk menghormati sesama makhluk hidup dan alam sekitar.

Kedua, menumbuhkembangkan nilai kebangsaan dan kebinekaan. Melalui nilai ini, para siswa dilatih untuk teguh menjaga semangat kebangsaan dan kebinekaan bangsa melalui berbagai kegiatan.

Ketiga, mengembangkan interaksi positif antarpeserta didik dengan melatih mereka peduli terhadap kondisi fisik dan psikologis kawan, adik, dan kakak kelas. Membangun sikap simpati dan empati terhadap semua.

Keempat, mengembangkan interaksi positif dengan guru dan orang tua, antara lain dengan melatih mereka menghormati guru, kepala sekolah, warga masyarakat sekolah, dan orang tua. Kelima, menumbuhkan potensi diri siswa secara unik.

Keenam, pemeliharaan lingkungan sekolah, antara lain, dengan melatih kebersihan seperti diterapkan para guru di sekolah tersebut. 

Ketujuh, pelibatan orang tua dan masyarakat, seperti mengajak serta mereka dalam kegiatan-kegiatan khusus sekolah. Di sini, penguatan peran orang tua dalam menumbuhkan budi pekerti pada anak melalui pendidikan dalam keluarga dan di rumah menjadi penting.

Menumbuhkan budi pekerti di kalangan anak adalah sebuah gerakan besar dan mulia dalam membangun insan-insan yang berkarakter di negeri ini. Karena itu, peran dan partisipasi aktif kita semua menjadi penting. Tugas kita semua untuk menciptakan iklim keluarga dan sekolah yang kondusif agar anak-anak kita, generasi peradaban negeri ini berbudi pekerti luhur sebagaimana yang kita cita-citakan.  

* Penulis Seorang Pendidik Alumnus USD Yogyakarta Humas SMP santo F. Asisi Tinggal di Kota Pontianak