Menuju Industrialisasi, Kalbar Butuh PLTN

Menuju Industrialisasi, Kalbar Butuh PLTN

  Rabu, 26 June 2019 10:26
SEMINAR: Tim ahli perusahaan listrik Prancis Electricite de France (EDF) saat memaparkan potensi PLTN untuk Kalimantan Barat, di Aula Rektorat Untan, kemarin. ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Kedutaan Besar Perancis dan perusahaan listrik negara tersebut, Electricite de France (EDF) melakukan kunjungan ke Kalimantan Barat. Selain akan bertemu dengan Gubernur Kalbar Sutarmidji pada hari ini (26/6), Selasa (25/6) kemarin mereka menggelar seminar di Universitas Tanjungpura. 

Acara yang digelar Fakultas Teknik Untan ini mengambil tema dukungan energy nuklir terhadap rencana industrialisasi di provinsi ini. Hadir dari EDF; Sandro Baldi, Frederic Fontan dan Benoit Lepouze. Sementara Kedubes Prancis mengutus  Nicolas Gascoin. Tampak pula wajah Rektor Untan Prof Dr Garuda Wiko serta perwakilan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dan perwakilan Kemristekdikti Dr Tumiran.

Sementara itu, Dekan FT Untan Ir RM Rustamaji MT menyebut Kalbar sangat membutuhkan reaktor nuklir untuk kelistrikan dan sektor kemanusiaan lainnya. Bahan bakar minyak dan batubara, sebut dia akan segera habis. Komoditas ini juga rawan terjadi gonjang-ganjing harga, lantaran sangat ditentukan harga internasional. Sementara potensi listrik dari tenaga air juga sedang dilihat seberapa besar mampu memenuhi kebutuhan industri. 

Sumber energi yang paling murah menurut dia adalah energi nuklir. “Semua negara industri besar di dunia ini menggunakan energi nuklir. Mereka bisa menjadi negara besar karena menggunakan energi nuklir. Karena memang murah ini,” sebutnya. Lanjut dia, di era teknologi yang semakin canggih sekarang ini, faktor keamanan bukan lagi menjadi isu yang seharusnya dipertentangkan.

Apalagi, kata dia, Kalbar yang tidak rawan gempa, salah satu ancaman reaktor nuklir. “Kalbar ini relatif aman, karena tahan gempa. Selain itu dekat dengan sumber bahan baku,” ujarnya. Sudah menjadi rahasia umum, Kabupaten Melawi melimpah cadangan uraniumnya. 

Menurut dia, hal ini juga menjadi visi gubernur Kalbar, yaitu industrialisasi. Pabrik-pabrik pengolahan dan lainnya, kata dia, hanya bisa berdiri apabila listriknya mencukupi. Nuklir dipandang tepat lantaran efisien. “Nuklir ini sangat efisien, sekitar 3 sen dolar AS per kilowatt per jam. Kalau dibandingkan dengan energy fosil jauh sekali perbandingan harganya,” ucapnya. Ditambah lagi, tingkat polusi udara dari PLTN paling rendah dibanding sistem lainnya.

Sejauh ini, kata dia, sudah banyak pihak yang tertarik untuk membantu pengembangan PLTN di Kalbar. “Sudah ada beberapa negara yang datang dari Prancis, Amerika Serikat, Rusia, dan Korea Selatan. Bahkan saya juga sudah diutus gubernur ke Jepang untuk melihat reaktor nuklir di sana. Prancis sudah 60 tahun membangun PLTN. Begitu juga dengan Jepang dan negara lainnya. Bahkan Banglades sudah memulai PLTN-nya,” imbuh dia.

Indonesia sendiri tergolong terlambat untuk membangun industri nuklir. Sebagai informasi Badan Tenaga Atom Nasional dibangun pada tahun 1960-an. Sedangkan rencana untuk bangun reaktor sudah sejak 1972. (ars)

Berita Terkait