Menjenguk Bayi Baru Lahir

Menjenguk Bayi Baru Lahir

  Jumat, 6 July 2018 10:00

Berita Terkait

Tahu Diri dan Batasi Waktu

Kelahiran adalah momen yang paling ditunggu. Saat si bayi lahir, semua menyambut antusias.  Keluarga, teman, dan kerabat berebut mengunjungi ibu dan si kecil. Bahkan, ketika mereka masih dirawat di rumah sakit.

Saat melahirkan, tidak semua orang –termasuk anggota keluarga– boleh berada di kamar bersalin.

“Ibu hanya boleh didampingi suami atau perwakilan keluarga, dokter, bidan, atau perawat. Selebihnya sebaiknya tidak berada di dalam ruangan,” ungkap bidan Ni Ketut Suadnyani SKep Ners MKep.

Tujuannya, lalu lintas petugas medis lebih lancar dan ruangan tidak sesak lantaran kebanyakan orang.

Setelah persalinan, ibu dan anak belum boleh dikunjungi setidaknya hingga dua jam mendatang. “Jadi, setelah si bayi lahir, kami lakukan inisiasi menyusu dini (IMD). Dengan catatan, kondisi bayi dan ibu sehat,” kata Ketut.

Bidan RKZ (RS Katolik St Vincentius a Paulo) Surabaya itu menambahkan, selepas IMD, ibu dan bayi dipisah untuk perawatan. Yohana Fransisca S. AMdKeb, bidan di RS yang sama, menjelaskan bahwa tim dokter, bidan, dan suster bakal melakukan observasi setiap setengah jam. Jika kondisi baik, barulah ibu dan bayi disatukan di ruang rawat gabung.

Ketut dan Yohana mengungkapkan, saat ini ibu dan si bayi bisa dijenguk sesuai dengan jam kunjung rumah sakit. Meski begitu, jumlah pembesuk masih dibatasi. Sebab, kapasitas satu ruangan bisa sampai tiga ibu, bergantung kelas ruang rawat inap.  Mereka menyatakan, kondisi tersebut diberlakukan untuk menjaga kondisi ibu dan si kecil. Tidak bisa dimungkiri, persalinan itu menguras

energi. Jadi, sebaiknya tamu tidak terlalu banyak dan lama. Tujuannya, ibu bisa istirahat dan berfokus

kepada anaknya. Kebijakan tersebut, lanjut Yohana, diterapkan demi mengurangi risiko penularan dari pengunjung ke bayi baru lahir yang rentan terinfeksi.

Itulah yang dibenarkan dr Aulia Rahman SpOG MSc. 

“Saat lahir, mereka memang punya imunitas dari ibunya. Tapi, sifatnya pasif sehingga tidak sekuat imun bayi yang usianya sudah 6 bulan, misalnya,” papar spesialis kebidanan dan kandungan RSAL dr Ramelan Surabaya tersebut.

Nah, untuk membentuk “benteng tubuh”, bayi idealnya segera mendapat suplai air susu ibu (ASI) setelah lahir. ASI yang diproduksi selama seminggu pertama tinggi kolostrum. 

“Jumlahnya memang enggak banyak, tapi kaya kandungan antibodi,” ungkap Aulia.

Kandungan gizi ASI, lanjut dia, lebih komplet dan mudah dicerna ketimbang susu formula. Dokter kelahiran Surabaya, 7 Juli 1983, itu menuturkan, untuk mendukung produksi ASI, kondisi ibu sebaiknya tenang dan mood-nya baik. Terlebih, pada tiga minggu pertama pasca persalinan, produksi ASI memang belum lancar. Banyak kejadian, ibu capek setelah melahirkan karena dapat banyak

kunjungan. 

Akhirnya, ibu stres. Lalu, produksi ASI-nya terganggu. Bagaimana dengan risiko tertular infeksi? Dokter Lucia Pudyastuti Retnaningtyas SpA menjelaskan, di antara sekian banyak infeksi, yang paling kerap menular pada bayi baru lahir adalah infeksi saluran napas atas (ISPA). 

“Masa inkubasinya (mulai kuman masuk sampai muncul gejala pertama, Red) paling cepat. Selain itu, penularannya mudah karena lewat udara,” jelas spesialis anak dari RKZ Surabaya tersebut.

Untuk mengurangi penularan, Lucia menyarankan kontak dengan bayi harus diminimalkan. Penjenguk sebaiknya tahu kondisi dirinya. Kalau memang tidak enak badan, pengunjung tidak usah memaksakan diri ikut besuk. Sebagai langkah antisipasi, pengun jung sebaiknya patuh pada aturan di rumah yang dikunjungi. Misalnya, si empunya rumah menye diakan hand sanitizer serta meminta memakai masker penutup hidung-mulut. Toh, semua itu dilakukan demi kebaikan si kecil. (*/fam/c14/nda/JP)

Berita Terkait