Menjejak Cultural Visit Media Gathering

Menjejak Cultural Visit Media Gathering

  Selasa, 24 July 2018 10:00
INDAH: Tebing yang dipangkas dan menjadi lokasi wisata yang indah. Awalnya hanya lokasi tambang batu breksi.GARASIJOGJA

Berita Terkait

Eksplore Budaya dan Pamer Potensi Anak Negeri 

Dua candi popular di Jawa Tengah ditaruh pada posisi tengah saat Culture Visit Media Gathering PT Djarum yang dihelat awal Juli kemarin. Upaya yang ditangkap, sesuai dengan temanya, panitia ingin mengeksplore kebudayaan yang sudah mendunia. Lainnya, mengangkat potensi anak negeri lewat sekolah animasi RUS, SMK Raden Umar Said Kudus serta melihat dari dekat PB Djarum menggodok calon-calon juara dunia bulutangkis.

MOESLIM MINHARD, Kudus

SEBELUM menjelajah ke kawasan yang sudah dipatok panitia—kawasan wisata—100 pewarta dari kawasan Indonesia bagian Barat diajak menikmati penampilan pahlawan-pahlawan bulutungkis nasional dalam Final Blibli Indonesia Open yang dilaksanakan di Istora Senayang.

Pagi 8 Juli, memasuki kawasan Istora, pengunjung sudah mengular, antre tiket. Memasuki siang, menjelang pertandingan tiket ludes. Sold out. Panitia buru-buru meyakinkan agar media dari Culture Visit untuk segera masuk, meski final masih belum berlangsung.

‘’Supaya tidak berbenturan dengan penoton. Ini sudah dipastikan tiket sold out hingga pasti susah masuknya,’’ kata panitia mewanti-wanti.

Penonton pun langsung memadati stadion.

Melelahkan? Bisa jadi iya. Tapi, lebih banyak wah-nya. Sebab, lapangan badminton yang berada di tengah disulap bak panggung konser. Lengkap dengan tata lighting komplit. Demikian juga sound membahana.

Yohanes Adhiartha Tirtaaji dari PT Djarum menyebutkan konsepnya memang demikian. Ada kekhawatiran, kalau penonton hanya disuguhi dengan pertandingan saja, meski babak final, bisa saja menjenuhkan. Supaya tidak bosan, pergantian antara pemain satu pemain lainnya dibuat sedemikian rupa.

Hasilnya, saat babak final berlangsung, puluhan ribu mata tetap fokus ke lapangan. Perkenalan satu persatu artis yang akan bertanding dibuat sedemikian rupa, hingga sangat mengesankan.

‘’Itu memang konsepnya. Unsur entertainnya diperkental. Tujuannya supaya nggak mbosenin aja,’’ kata Yo, panggilan karibnya yang sepuluh tahun lalu juga menangani visit media ini.

Usai menikmati Indonesia Open, tujuan berikutnya Jogyakarta. Memasuki Jogja langsung menggelinding ke dua pusat budaya di Jawa Tengah. Candi prambanan dan Borobudur.Yang pertama ke kompleks prambanan. 

Kawasan candi yang terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Jawa Tengah. Berjam-jam peserta dibuat kagum atas candi Prambanan yang letaknya berdekatan dengan candi Sewu yang sedang dalam pengerjaan perehaban.

Candi yang karib dengan legenda Bandung Bondowoso dan Loro Jongrang ini, terus saja menggaet kunjungan. Wisatawan mancanegara mau pun domestic. Bisa jadi, inilah wujud keakbaran Nusantara di masa silam.

Bangunan candi yang tinggi menjulang, terbuat dari susunan batu.

Saya menjajal naik ke salah satu candi. Melawati celah –celah dan menuju ke pucuk. Hingga pada akhirnya, tibalah di puncak hanya hanya berbentuk ruangan kosong. Gelap dan pengap. Di tengahnya ada arca dewa Whisnu.

Itu hanya satu candi, sedangkan Prambanan adalah komplek candi. Beberapa candi berdekatan adanya. Di tengah, candi yang paling besar, di situlah adanya arca Loro Jongrang. Tapi, saya tidak masuk ke sana. Nafas saya terlalu memburu, usai menaiki satu candi yang ada dewa Whisnu tadi.

Usai dari prambanan, malamnya, masuk ke Yogjakarta eksplore pertamanya adalah Malioboro. Menggunakan 35 andong, seluruh peserta diajak ke Alun-alun Utara. Di situ ditinggal. Semalaman menikmati malioboro yang seolah tak pernah mati itu, Penjaja kaki lima berjejal. Uniknya, di balik pagar pun mereka masih bisa berjualan.

Yang dijual, salah satunya kaos khas Jogya. Juga aneka macam oleh-oleh. Mulai batik, aneka mainan tempo doeloe sampai arloji.

Murah-murah, kata seorang teman. Tetapi, jelas tidak semuanya. Makin asli dan berkelas, tentu harganya tidak akan sama yang digelar di kaki lima. Kalau untuk kuliner mungkin iya. Tapi bisa pula tidak. Untuk jenis yang sama, jualan di kaki lima dengan di hotel berkelas tentu beda harga.

Jadi penilaiannya relatif. Mau mahal atau tidak. Tergantung dari kesukaan pembelinya . Penjual bisa menaruh harga murah, tentu memiliki alasan tersendiri. Tapi, yang pasti sesuai di kantong. Nongkrong di Malioboro, menikmati makanan dan minuman saat malam tentu lebih menyenangkan, ketimbang sendirian nonton teve di kamar hotel. (*)

Berita Terkait