Menjaga Lurik Tetap Dilirik

Menjaga Lurik Tetap Dilirik

  Minggu, 24 July 2016 10:33
Merapikan

Berita Terkait

Riwayat tenun tradisional saat ini mengalami pasang surut  dalam gerusan zaman, tak terkecuali tenun lurik asal Kota Pedan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Banyak pengusaha yang tumbang, namun lewat tangan kreatif, tenun kain bermotif garis-garis memanjang itu bertahan.

Oleh: ARIEF NUGROHO, Klaten

SEJAK lama, kawasan Pedan menjadi sentra tenun lurik. Konon, kain bermotif garis-garis itu sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kediri, berlanjut ke masa Mataram, Pajang, Yogyakarta, Surakarta, dan akhirnya sampailah ke Pedan. 

Pada tahun 1938, seorang pengusaha Pedan bernama Suhardi Hadi Sumarto menimba ilmu ke Textiel Inrichting Bandoeng (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Bandung). Sepulang dari Bandung, Suhardi mempraktikkan ilmu membuat tenun lurik bersama saudara-saudaranya.

Akhirnya, tahun 1948, terjadi agresi Belanda yang mengakibatkan hampir semua warga Pedan mengungsi. Selama di pengungsian, karyawan Suhardi memberikan ilmu tenun kepada sesama pengungsi. 

Tahun 1950, ketika situasi kembali normal, pengungsi kembali ke rumah masing-masing dan ikut-ikutan membuka usaha tenun. Banyak warga Pedan yang mendirikan usaha tenun dengan menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin). 

Salah satunya adalah Atmo Prawiro, ayahnda Rachmad yang pada akhirnya dikenal sebagai pengusaha lurik di Kota Pedan. Rachmad yang saat itu sedang mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia, kemudian mencoba ikut mengembangkan usaha lurik ayahnya. 

Ia mencermati mode pakaian orang kota sekaligus mencari tahu bahan busana apa yang bisa mereka kenakan. 

Saat pulang ke Pedan, Rachmad telah membawa bekal ilmu berupa bahan benang yang bagus untuk tenun lurik. Dan Rachmad pun akhirnya memutuskan untuk jadi pengusaha lurik di Pedan. 

Pontianak Post berkesempatan mengunjungi rumah usaha tenun lurik milik Rachmad di Pedan. Toko yang diberi nama Sumber Sandang itu terletak di pinggir jalan sebelah barat pasar Pedan.  Di toko itu, Rachmad dibantu beberapa karyawan dan anaknya menunjukan beberapa tenun hasil produksinya, antaranya kain tenun lurik, kain tenun dobby, sarung, selendang, kain bahan untuk di batik (baron) dan lain-lain. 

Dalam kenangan Rachmad, periode tahun 50-an merupakan masa keemasan lurik. Saat itu, kemakmuran masyarakat Pedan merata. Di masa kejayaan lurik, ada sekitar 500 pengusaha dengan sekitar 60 ribu orang pegawai di seluruh Kabupaten Klaten yang berpusat di Pedan. 

Pemasaran lurik pun sampai ke seluruh wilayah Indonesia. Lurik apa pun yang dibuat selalu laku keras. Bahkan Rachmad mengaku dirinya saat itu bisa mendapatkan untung besar sampai 120 persen.

Menurut Rachmad, keberhasilan para pengusaha lurik tak lepas dari campur tangan negara yang berpedoman berdikari, termasuk di bidang sandang. Segala kebutuhan pokok penduduk kala itu tidak bergantung dengan luar. Bahkan di setiap wilayah Indonesia terdapat koperasi tenun. 

Akan tetapi situasi berubah di masa Orde Baru ketika pemerintah mengizinkan Penanaman Modal Asing. Industri tekstil bermodal besar pun bermunculan. Sampai akhirnya di tahun 1973, usaha rakyat mengalami masa senjakala. 

Usaha lurik pun seperti hidup segan, mati tak mau. Saat itu bertepatan dengan masuknya mesin tekstil yang menyerbu Indonesia. Di antara sekian banyak pengusaha yang tumbang, Rachmad masih bertahan. Ia berupaya terus berinovasi agar lurik kembali terangkat. Pada tahun 80-an, ia sempat pergi ke Bali untuk menjajakan contoh barang. 

Di sana, ia bertemu dengan orang Jerman yang langsung memesan dalam jumlah besar. Rachmad masih ingat, harga per meter kain luriknya saat itu masih Rp5.000. Kemudian dikisahkan Rachmad kembali, lurik sempat kembali terangkat di tahun 80-an. 

Ada beberapa motif lurik yang hingga sekarang penciptanya tidak diketahui. Misalnya saja motif ketan ireng, ketan salak, kijing miring, sodo sak ler, kembang bayem, kembang sembukan, rinding putung, dom kecer (hujan gerimis), dan tumbar pecah.

Namun, perjalanan lurik tradisional kembali mengalami masa surut ketika muncul usaha pabrik yang membuat lurik murah dengan teknik cap. UKM pun ambruk lagi. Tapi lagi-lagi, Rachmad mencoba untuk terus bertahan. (**)

Berita Terkait