Menjadi Orang Tua yang Adil

Menjadi Orang Tua yang Adil

  Rabu, 25 April 2018 11:00

Berita Terkait

Memiliki buah hati lebih dari satu membuat suasana rumah terasa menyenangkan. Namun, tanpa disadari ada orang tua yang kerap memihak ke salah satu anak, karena dianggap yang paling menonjol. Secara tak langsung, hal ini menimbulkan kecemburuan antar-anak dan membuatnya tidak akur. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Saat lahir anak pertama, ibu dan ayah akan mencurahkan kasih sayang dan perhatian pada anaknya. Namun, saat lahir anak kedua, kasih sayang mulai terpecah. Tak banyak anak berpikiran positif ketika kasih sayang orang tua lebih banyak pada adik. Di usianya yang masih kecil, kakak akan merasa ibu lebih sayang pada adik. Ragam aksi gencar dilakukan kakak untuk menarik perhatian ayah dan ibu. 

Kondisi semakin diperburuk ketika orang tua, antara ayah dan ibu mulai membeda-bedakan saat anak mulai tumbuh besar. Seperti, prestasi yang didapatkan adik jauh lebih menonjol dibandingkan kakak. Rasa bangga membuat orang tua lebih perhatian pada buah hatinya yang terlihat menonjol. Akhirnya anak lainnya tak terlalu diperhatikan. Psikolog Endah Fitriani, M.Psi menuturkan, setiap anak memiliki potensi dan akademik masing-masing yang bisa diasah lebih baik. 

“Sebaiknya, ibu dan ayah tak memihak salah satu buah hatinya. Hal ini bisa menjadi jurang pemisah pada anak. Memunculkan rasa iri, dengki, dan dendam,” ujarnya.

Alangkah lebih baik, orang tua sepakat dan belajar memberikan sesuatu kasih sayang dan perhatian dengan porsi sama besar. Psikolog Pusat Pelayanan Konseling Keluarga Sejahtera Asa Khatulistiwa  menuturkan, ia sempat mendengarkan curahan hati siswa yang mengaku nominal jajan yang didapatkannya dengan sang adik sama besar. Padahal, ada perbedaan jam pulang, dan si kakak pulang lebih siang.

Endah menyarankan orang tua peka saat menghadapi situasi ini. Keduanya bisa mengajak kakak dan adik berkomunikasi. Tak ada salahnya mendengarkan keluhan dari kakak. Jika alasan dirasa masuk akal, orang tua bisa bijak dalam mengambil keputusan. Misalnya, harus mengurangi sedikit porsi uang jajan adik. Agar tak ada salah paham, orang tua bisa memberikan penjelasan yang logis. 

“Orang tua bisa berkata, kakak pulang lebih siang, sehingga butuh tenaga dan banyak asupan makanan. Pengertian yang diberikan akan membuat keduanya dapat saling memahami,” tambahnya. 

Namun, jika orang tua selalu mengandalkan salah satu anaknya (kakak), akan berdampak buruk bagi psikologis adik. Ia jadi pribadi yang kurang percaya diri. Apalagi, jika ada perlakuan kasar dari orang tua, karena tak sengaja membuat kakak atau adik menangis. Anak merasa trauma dan orang tua akan menciptakan sibling rivalry atau persaingan antar saudara. Ini berpotensi menciptakan rasa benci dan dendam bagi sang anak. Karena yang merasakan dan menjalani pola asuh adalah anak. 

Anak yang kurang mendapat perhatian di rumah akan mencoba mencari perhatian di luar. Apabila di rumah ia dikenal pendiam, di sekolah perilakunya akan berubah 180 derajat. Cara mencari perhatian pun beragam, salah satunya membuat masalah dengan teman sebaya, atau senior. Anak akan merasa senang ketika dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling (BK). Dengan begitu, ia merasa mendapatkan perhatian.

Endah menjelaskan orang tua perlu menyadari untuk tak selalu menyalahkan kakak sebagai sosok panutan sang adik, terutama saat adik melakukan kesalahan. Sikap membela membuat adik merasa lebih berkuasa di rumah. Namun, ketika bersosialisasi di lingkungan sekitar, adik tak mampu menerapkan kekuasaannya tersebut atau, ada sosok lain yang lebih berkuasa dibandingkan dirinya. Kondisi ini akan menyakitkan bagi buah hati.

Orang tua harus lebih peka. Bersikaplah adil untuk memberi ketegasan pada kedua anak, jika ada yang membuat masalah. Jika dibiarkan berlarut-larut, salah satu anak akan memiliki sifat egois dan keras kepala. Emosi di dalam dirinya juga tak stabil. 

Untuk menghindari perselisihan atau kecemburuan, sebelum menambah anak, Endah menyarankan orang tua harus memberi jarak dan rentang. Ajak anak pertama berkomunikasi dan memberi pengertian. Tanyakan pada anak bagaimana jika ia memiliki adik. Ketika anak pertama tak masalah, orang tua bisa melakukan program memiliki adik. Setidaknya, saat diberi amanah anak pertama sudah siap memiliki adik. Agar menambah wawasan, orang tua bisa belajar dengan orang tua teman anak.

“Bergantung bagaimana orang tua menyiapkan anak. Anak yang sudah siap tak akan merasa terlalu takut dan bisa menerima. Intinya ketika adik lahir, anak tak merasa orang tua pilih kasih,” pungkasnya.**

Berita Terkait