Menjadi Kurus dengan Kopi

Menjadi Kurus dengan Kopi

  Senin, 21 March 2016 10:35
GAYA HIDUP: Karina Anastasya minum kopi di salah satu gerai. Jika dikonsumsi dalam takaran dan waktu yang tepat, kopi bisa bermanfaat. GHOFUUR EKA/JAWAPOS

KOPI sekarang bukan sekadar minuman, tapi juga gaya hidup. Jika sebagian orang menyesap cai ran hitam itu dalam kondisi dan jam tertentu untuk memaksimalkan kenikmatan rasa dalam setiap tetesnya, sebagian lagi menenggaknya dalam jumlah besar untuk tujuan lain. Menjadi kurus. ’’Pahitnya kopi membuat saya mengonsumsi makanan yang lain dalam ukuran sedikit,’’ kata Frida Paskah Aprilia, 26, beralasan. Setiap pagi perempuan yang akrab disapa April itu meminum americano, yakni espresso dengan tambahan air, yang disiapkan dalam tumbler ukuran 500 ml. Bagi dia, tidak masalah kopi tersebut diolah dari biji jenis yang mana.

Asalkan terasa pahit, cukup. Menurut perempuan yang bekerja sebagai staf perhotelan itu, kopi berfungsi sebagai polisi dalam perutnya. Bahkan, April merasa kini berat badannya selalu stabil. Kopi membuat dia tidak berlebihan makan. Bahkan, sekarang dia merasa li dahnya sudah ti dak mau mene rima rasa ma nis. Metode itu telah dua bu lan ini diterapkan April.

Hal serupa dilakoni Stephana Refriera. Promotion coordinator Ciputra World itu setiap pagi minum kopi sebelum nge-gym. ’’Ini bikin aku tambah semangat sih,’’ ungkap Riera, sapaannya. Cuma, volumenya lebih kecil. Hanya 250 ml. Setelah itu, dia memulai aktivitas olahraga di gym. Sampai sekarang, berat badannya terkontrol.

Dokter spesialis penyakit dalam Prof dr Hans Tandra SpPD-KEMD PhD menjelaskan, kopi sebe narnya tidak berhubungan lang sung dengan pengurusan badan.

Namun, kopi memang bikin bersemangat sehingga tubuh terasa segar dan terstimulasi untuk beraktivitas. Dengan begitu, tubuh akan bergerak dan membakar lemak. Kondisi itu terjadi karena kopi mengandung kafien yang membuat adrenalin meningkat. Selain itu, kafein dalam dosis kecil menjadi antioksidan yang baik untuk tubuh. ’’Kopi kan sudah menjadi lifestyle. Kalau nggak ngopi dibilang kuper. Silakan nikmati, tapi juga batasi,’’ katanya.

Kopi bersifat adiktif. Karena itu, penikmat kopi biasanya rutin mengonsumsinya. Meski begitu, konsumsi dalam jumlah besar dan jangka panjang kurang disarankan. Sebab, kopi bisa mem bebani kerja jantung, membuat tulang keropos, dan memicu mag. (cik/nir/c5/any)