Meninjau Kembali Kebudayaan Islam

Meninjau Kembali Kebudayaan Islam

  Kamis, 16 May 2019 15:02   0

Oleh: Husni Mubarok

Pengantar

Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tidak akan bisa terlepas dari konteks lingkungannya tempat dia tinggal. Interaksinya dengan manusia lain menghasilkan apa yang disebut dengan bahasa dan komunkasi. Aktivitas manusia yang berjalan sepanjang sejarah manusia akan membentuk sebuah pola dan model. 

Pola atau model tersebut cenderung mempunyai ciri khas pada setiap pola atau model, inilah yang disebut dengan budaya. Ibnu Khaldun seorang sosiolog pioneer, mengatakan budaya adalah kondisi-kondisi kehidupan biasa yang melebihi dari yang diperlukan.

Sosiolog lain, Taylor mengatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, dogma, seni, nilai-nilai moral, hukum, tradisi-tradisisosial, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang  diperoleh manusia dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat.

Al Sharqawi menjelaskan kebudayaan dalam lisan Arab, yakni Tsaqafah yang menggambarkan spirit, nilai. Secara filsafat kebudayaan dapat didefinisikan sebagai khasanah historis yang terefleksi dalam kredo dan nilai, menggariskan bagi kehidupansuatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalam serta jauh dari kontradiksi-kontradiksi ruang dan waktu.

Islam dan Arab, Dilema Legitimasi Otoritas Budaya.

Islam sebagai agama yang diturunkan di Arab menimbulkan perdebatan yang sengit mengenai apakah sebenarnya dan bagaimanakan Kebudayaan Islam itu? Dalam perjalanan sejarah Islam sempat identik dengan Arab atau Arab identik dengan Islam. Masalah ini perlu untuk kita dudukkan kembali, karena jika memang Arab dan Islam adalah hal yang selalu identik maka Arabisme akan menjadi otoritas atas kubudayaan Islam.

Banyak peneliti Barat menyebut kebudayaan Islam dengan kebudayaan Arab, denganl andasan peran bangsa Arab dan bahasa Arab di dalamnya. Kontribusi bangsa Arab memang tidak dapat dipungkiri dalam penyebaran Islam. Tidak ada yang menentang kontribusi bahasa Arab dalam kedudukannya sebagai bahasa kebudayaan dan ilmu pengetahuan pada zaman pertengahan, kepada bangsa-bangsa di dunia menjadi pendorong sebagian peneliti menyebut kebudayaan Islam sebagai Kebudayaan Arab.

Kawasan kebudayaan Arab saat ini bisa kita sebutkan meliputi wilayah Timut Tengah, Teluk Persia, dan Afrika Utara, dan Bulan Sabit Subur. Timur Tengah menurut Peretz adalah wilayah yang meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Irak, Yordania, Syiria, Mesir dan kerajaan-kerajaan di Teluk Persia.

Bangsa Arab termasuk dalam ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam sub ras Mediterranean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar laut tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia dan Irania. Inilah asal usul bangsa Arab secara Antropologis. Kaum Masehi, Yahudi, dan penganut  Zoroaster dan Shabean  juga sangat berpengaruh pada bangsa Arab sebelum Islam.

Peran politik bangsa Arab dalam memimpin Imperium Islam segera mendapatkan saingan dari bangsa-bangsa lain dengan munculnya unsur-unsur Turki dan Moghul baru yang kemudian memegang tampuk kepemimpinan dunia Islam, setelah Imperium Islam terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil sejak lahirnya dinasti Abbasiyyah. Maka kebudayaan Islam tidak bisa serta merta beratribut Arab dengan makna bahwa pemimpin Imperium berbangsa Arab.

Jika kebudayaan Islam identik dengan kebudayaan Arab maka kita perlu melihat karakteristik budaya unik dari bangsa Turki, Persia, dan Arab, masing-masing mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda. Jika dalam penyebarannya bangsa-bangsa lain menjadi terarabkan maka bukanlah bermakn arasial murni akan tetapi adanya proses metamorphosis bahwa bangsa Arab menjadi salah satu unsur yang dominan dalam kebudayaan ini.

Pada abad pertengahan kebudayaan bercorak spiritual atau keagamaan dan ide nasionalisme yang berdasarkan ras belum muncul. Sedangkan kebudayaan Islam dan idealisme sosialnya berdasarkan pada landasan keagamaan bukan berlandaskan rasial. Berlanjut di Eropa pada saat kebangkitan rasionalisme maka beralihnya budaya yang berdasarkan Agama (gereja) terlepas sama sekali atau dikenal dengan Humanisme sebagai bentuk baru.

Dominannya peran bangsa Arab tidak mampu menimbulkan atribut Islam yang identik dengan Arab. Atribut kebudayaan Islam lebih tepat, karena Islam adalah agama yang dominan dalam kebudayaan ini dan Syari’at adalah pengikat satu-satunya bagi penganutnya yang diberbagai belahan dunia

Walaupun kesatuan admistratif Imperium Islam tidak bertahan lama. Namun, disintegrasi politik Imperium Islam tidaklah begitu berarti bagi mayorotas Muslim yang memandang semua negeri Islam adalah tanah airnya sendiri, dimanapun berada. Nasionalisme yang berkembang pada masa itu adalah Nasionalis merohaniah yang mempertautkan seluruh Muslim dengan ikatan persaudaraan dan persamaan.

Islam menurut para peneliti mampu mewarnai kelompok-kelompok, rasdan bangsa dengan corak kebudayaan agama pada umumnya tanpa membuat kelompok, ras, dan bangsa ini kehilangan warna khusus perasaan mereka berkenaan dengan mistisisme dan magis yang mereka geluti dalam kehidupan pribadi mereka.

Keseiringan dan keharmonisan kebudayaan Islam dalam kegiatan rohaniah dan kegiatan praksis kehidupan menjadi pandangan optimis dan kreatif memandang pemakmuran Bumi sebagai wujud kewajiban agama yang merupakan tugas suci. Inilah tempramen filosofis yang mewarnai kebudayaan Islam dengan corak yang sama, sehingga membuat kita akhirnya dapat menyatakan bahwa ini merupakan satu kebudayaan, meski adanya keanekaragaman wilayah dan teritorial yang di lingkupinya.

Agama Peradaban

Budaya (Culture) dan peradaban (Civilization) merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan dalam perjalanan sejarahnya. Peradaban akan mengalami fase lahir dan runtuh dalam sejarah, sedangkan budaya bersifat lebih langgeng dan terinternalisasi dalam diri anggota masyarakat.

Budaya merupakan identitas sebuah komunitas menjadi ciri khas komunitas tersebut. Pada realitas aktual sekarang, peradaban Islam tinggallah puing-puing bangunan dan lembaran-lembaran halaman buku. Akan tetapi kebudayaan Islam seiring dengan nafas denyut pergolakan spiritual umat masih mengalir dalam tradisi umat  Islam  seluruh  dunia.

Ibadah sebagai perilaku wajib muslim menunjukan nilai dan semangat berperadaban. Seperti Ibadah Haji menjadi simbol egalitarian/ kesetaraan manusia dalam pandangan Islam dimana Muslim seluruh dunia berkumpul dalam satu tempat dan waktu untuk menunaikan rukun Islam. Bentuk lain adalah puasa yang menjadi madrasah pembentuk empati Muslim terhadap kaum lemah dan bentuk latihan pegendalian diri akan nafsu. Islam juga memberikan keutamaan orang berilmu dan ilmu pengetahuan. Melalui kecintaaan terhadap ilmu pengetahuan, Kebudayaan Islam mampu menjadi peradaban unggul pada masanya dan meredup karena meninggalkannya.    (**) 

Penulis: Tinggal di  Jalan Abdurahman Saleh No 37A, Kota Pontianak dan sebagai peneliti