Mengunjungi Fasilitas Simulator bagi Calon Pilot Lion Air

Mengunjungi Fasilitas Simulator bagi Calon Pilot Lion Air

  Jumat, 16 November 2018 09:53

Berita Terkait

Setelah Lewati Seluruh Tes, 100 Jam Berikutnya Jadi Pilot Peninjau 

Tiap calon pilot Lion Air harus menjalani puluhan sesi simulasi di Angkasa Training Center milik maskapai tersebut. Fasilitas itu dilengkapi sembilan simulator untuk berbagai tipe pesawat. 

TAUFIQURRAHMAN, Tangerang 

TIBA-TIBA seluruh kokpit terguncang. Ruang berukuran tidak lebih dari 3 x 3 meter tersebut serasa ditabrak truk dari kanan. 

Alarm berbunyi nyaring. Horizon seperti diaduk-aduk. Pesawat sempat mendongak tinggi, miring ke kiri, lalu menukik beberapa saat.

Regi Wicaksono dengan cekatan segera mematikan autopilot, lalu menarik dan memutar yoke dengan cekatan untuk menyeimbangkan kedua sayap. Kemudian, mendorong thrust lever untuk menambah kecepatan. 

Tidak sampai sepuluh detik, horizon sudah datar dan autopilot kembali dinyalakan. Situasi berbahaya dapat diatasi. ”Karena kalau pitch up (mendongak) kita kehilangan airspeed, maka kita tambah tenaga dengan mendorong tuas ini,” kata Regi setelah berhasil melewati tes tersebut.

Ya, itulah bagian dari jet upset recovery, tes yang dijalani Regi dan Mohammad Gustiar pada Senin sore lalu (12/11). Instruktur pilot Kapten Soejono menguji dua calon pilot tersebut saat pesawat kehilangan kontrol akibat turbulensi ekstrem. Regi duduk di kursi pilot, Gustiar sebagai kopilot. 

Tes itu berlangsung di simulator Boeing 737-900ER. Yang terletak di kompleks fasilitas Angkasa Training Center (ATC) di kawasan Bandara Mas, Cengkareng, Tangerang, milik Lion Air Group. 

Dalam tes tersebut, saya berkesempatan duduk di kursi instruktur di belakang dua pilot. Sementara itu, Soejono berdiri mempersiapkan skenario di layar. Sembari menjelaskan bahwa manuver dan kemiringan pesawat memiliki batas. 

Untuk pitch down (menunduk) adalah 10 derajat, sedangkan pitch up (mendongak) maksimum 20 derajat. Untuk yaw (miring kanan/kiri), pesawat tidak boleh melebihi 30 derajat. ”Sekarang kita coba hidungnya turun 30 derajat, kemiringannya sampai mendekati 90 derajat,” jelas Soejono.

Senin lalu itu Lion Air mengundang media, termasuk koran ini, ke fasilitas mereka untuk memperlihatkan komitmen maskapai tersebut kepada standar keamanan penerbangan. Lion Air memang tengah jadi sorotan menyusul jatuhnya pesawat mereka bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di perairan Karawang pada 29 Oktober. Pesawat nahas tersebut mengangkut total 189 penumpang dan kru.

Tes yang dijalani Regi dan Gustiar hanyalah salah satu di antara puluhan jam sesi simulasi yang harus dilakoni calon pilot di ATC, Bandara Mas. ATC memiliki total sembilan simulator. 

Perinciannya, 5 simulator pesawat Boeing 737 Next Generation Family (NG), 2 simulator pesawat ATR 72, dan 2 simulator Airbus A320. Itu menjadikan ATC pusat pelatihan penerbangan dengan fasilitas terlengkap di Indonesia. 

Direktur ATC Dibyo Soesito sempat mengajak awak media berkeliling. Mengunjungi 30 hektare fasilitas pusat pelatihan dan perumahan karyawan Lion City di Balaraja, Tangerang, itu.

Di kota mini tersebut berbagai fasilitas pelatihan dibangun. Mulai untuk pramugari, karyawan, mekanik, sampai pembuatan makanan. Sementara itu, di Bandara Mas, dekat Soekarno-Hatta, ada fasilitas khusus training pilot.

Dibyo mengungkapkan bahwa pelatihan di ATC telah memiliki approval standard. Baik dari pemerintah Indonesia, Malaysia, maupun otoritas penerbangan internasional. Misalnya, Federal Aviation Administration (FAA/Amerika Serikat) dan European Civil Aviation Conference (ECAC/Eropa).

Untuk bisa menjadi pilot dan benar-benar menerbangkan pesawat berpenumpang, seorang calon pilot lulusan sekolah penerbangan harus melewati setidaknya tiga tahap. Pertama, advanced aircraft bridging course. Itu untuk membiasakan pilot dari menerbangkan pesawat baling-baling berkecepatan rendah ke pesawat jet berkecepatan tinggi.

Setelah itu, mereka akan melewati tes pengetahuan umum penerbangan. Di antaranya, navigasi, lalu lintas, dan hukum udara. Lalu, menjalani tes untuk mendapatkan type certificate yang meliputi tes berbasis komputer (CBT), sebelum kemudian beranjak ke simulator.

Mulai simulator statis tak bergerak (fixed based simulator/FBS) hingga simulator bergerak. Yang dilengkapi kemampuan menirukan pergerakan pesawat alias full flight simulator (FBS). 

”Ini ujiannya negara. Artinya, bukan pihak ATC yang menguji. Tapi pemerintah,” ungkap Dibyo. Seluruh proses memakan waktu empat bulan. Setelah fase itu selesai pun, siswa belum jadi pilot. Untuk 100 jam selanjutnya, para pemegang type rating akan dipersilakan terbang sebagai pilot peninjau di kursi belakang kokpit. 

Lalu, setelah selesai, mereka baru diperbolehkan duduk di kursi first officer (FO) dengan ditemani satu instruktur pilot untuk memantau kecakapan si pilot baru. ”Biasanya 75 hingga 100 jam, bergantung kecakapan dia (pilot baru, Red),” ujar Dibyo.

Bahkan, kata Dibyo, untuk type rating pesawat terbaru B-737 seri MAX saja, ATC menerapkan standar yang lebih tinggi daripada ECAC dan Boeing. Untuk bisa mengemudikan 737 MAX, pilot pemegang type rating B737 NG cukup menjalani beberapa jam tes CBT. 

Namun, Lion Air Group menerapkan standar lebih tinggi, yakni si pilot harus punya minimal 500 jam terbang di B737 NG. Kemudian, harus menjalani tiga jam CBT. Dan, terakhir si pilot harus sudah familier, baik sebagai pilot penerbang (pilot flying) maupun pilot pemantau (pilot monitoring). 

”Jadi, sebenarnya standar kami sudah lebih tinggi,” kata Dibyo. 

Pascainsiden jatuhnya Lion Air JT 610, Dibyo mengatakan, seluruh sistem pelatihan di ATC tengah diaudit. Baik oleh Ditjen Perhubungan Udara maupun oleh setiap customer ATC (Lion Air, Batik Air, Wings Air, Malindo, Thai Lion).

Selain itu, Dibyo mengatakan, Lion Air Group sudah menerapkan peringatan yang dikeluarkan Boeing dalam buletin layanannya. Tentang potensi malafungsi instrumen penerbangan dengan mengetatkan pelatihan bagi pilot dalam mengatasi tiga keadaan. 

Yakni, kecepatan yang tidak akurat (airspeed reliability), pengatur ketinggian (runaway stabilizer), serta cara memulihakn pesawat dari posisi terbang yang tidak terkontrol (jet upset recovery).

”Prosedur-prosedur ini ditambahkan dalam fase recurrent mendatang, saat pilot-pilot memperbarui type rating mereka selama enam bulan sekali,” jelas Dibyo. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait