Menghormati Guru

Menghormati Guru

  Sabtu, 10 September 2016 09:30   1

Oleh: Zubairi

GENERASI bangsa kita, sedang krisis moral dan sopan santun. Kenapa tidak, beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh sebuah pemberitaan bahwa seorang murid plus orang tuanya, memukuli seorang guru. Anehnya, mereka memukuli gurunya, lantaran tidak terima, di saat guru menegur murid yang tidak mengerjakan tugas. Tidak hanya itu, sebelumnya dunia pendidikan juga dihebohkan dengan seorang murid dan orang tuanya, yang menuntut seorang guru kepengadilan.

Selama ini guru mendapatkan gelar “Guru tanpa jasa” gelar ini bukan hanya isapan jempol belaka. Dengan perjuangan guru yang tidak mengenal lelah, dalam mengajari murid-muridnya sudah sepentasnya guru mendapatkan itu gelar itu. Namun demikian masih banyak orang tua dan murid yang tidak menghargai dan menghormati seorang guru. Padahal dengan perjuangannya, guru mampu menciptkan para ulama, para profesor dan bahkan menciptkan wirausaha yang handal. 

Para orang tua mesti mampu memahami keadaan guru. Karena dalam mendidik, sangatlah  berat dalam peran dan perjuangan seorang guru. Kenalan  para siswa bermacam-macam tingkahnya. Seharusnya para orang tua sadar dan percaya bahwa dalam hal demikianlah, guru memiliki peran dalam mengarahkan kenalan-kenalan yang tidak wajar, untuk tidak di lakukan seorang murid. Seperti seorang murid yang tidak mengerjakan tugas. Sudah seharusnya peran seorang guru menegur dan mengingatkannya, sebab tugas sekolah akan mengajarkan murid bertanggung jawab atas tugasnya.

Namun apa jadinya, ketika peran guru tersebut di tentang dan di anggap salah oleh seorang murid dan orang tuanya. Hal ini bukan saja, mengurangi esensi sebagai guru, akan tetapi lebih dari itu, akan menimbulkan sebuah efek social negatif, karena generasi bangsa, hasil karya cipta pendidikan tidak tercapai, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Hal ini harus menjadi catatan penting dalam dunia pendidikan, bahkan menteri pendidikan sebagai penanggung jawab pendidikan nasional, mestinya, segera melakukan sebuah konsuliasi untuk membahas  masalah yang satu ini.

Kenapa tidak, sebagai bangsa yang masih berkembang, bangsa ini, mestinya belajar dari Negara-negara maju, untuk  dijadikan pelajaran. Hal ini untuk merangsang, dunia pendidikan kita yang masih, semeraut. Khususnya dalam  menghormati, seorang guru.  Dalam bukunya, Nanang Qosim yusuf, One Minete Awareness ( 2012:22) d diceritakan bahwa orang Jepang, sangat menghormati seorang guru dan menempatkannya pada posisi yang tinggi.

Tidak ada jalan  lain, negara manapun mengakui bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk bangkit dari keterpurukan. Lagi-lagi bangsa ini mesti berkaca kepada negara Jepang, dimana saat Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh Amirika Serikat. Petinggi Jepang tidak bertanya berapa  banyak insinyur, jendral, petani, atau pejabat yang tersisa, melainkan bertanya” berapa banyak sisa guru yang masih ada?” 

Eronis, jika generasi kita saat ini, tidak menghormati seorang guru, yang paling penyedihkan perbuatan memalukan demikian, didukung oleh orang tuanya. Dan yang paling aneh lagi, apabila pemerintah tidak menghiraukannya’ dalam tanda kutip’ tidak hanya memberi sanksi saja, melainkan melakukan sebuah terobosan, bagaiamana perbuatan serupa tidak terulang-ulang, terhadap guru-guru yang lain.

Seperti yang dikatakan di atas bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemajuan. Kalau demikian sudah pasti guru adalah penunjukkan arah menuju kemjuan tersebut. Guru ibarat sebuah kompas, jika kita berjalan ditengah hutan yang rimba. Maka guru akan menjadi menunjuk yang tidak akan menyesatkan.

Di dalam agama islam mengenal yang namanya “ Barokah Seorang Guru” untuk mendapatkan barokah tersebut seorang murid, mesti manut dan taat atas perintah-perintah guru dalam tanda kutip, perintah yang baik. Menurut beberapa keterangan “berokah seorang guru” akan memiliki dampak terhadap kepribadian dan bahkan masa depan seorang murid kelak.

Sejatinya seorang guru tidak pernah mengajarkan seorang murid-murid yang tidak baik. Karena seseorang yang menjadi guru sudah pasti sudah teruji baik keilmuannya maupun kepribadiannya. Misalnya guru pendidikan formal maupun yang tidak formal, sudah pasti memiliki potensi menjadi seorang guru. Karena mereka yang sudah pasti sudah melewati serangkaian pendidikan bagaimana menjadi guru yang baik.

Jejak rekam seorang guru sudah terbukti dalam menciptakan sumber daya manusia yang handal. Maka sebagai mayarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan, kita mesti mempercai seorang guru dalam proses belajar mengajar di dalam sekolah. (*)

*)  Ketua GMNI Pontianak