Menghargai Pendapat Anak dalam Memilih Sekolah

Menghargai Pendapat Anak dalam Memilih Sekolah

  Rabu, 11 April 2018 11:00

Berita Terkait

Orang tua dan anak kerap berbeda pendapat dalam memilih sekolah. Ada orang tua yang konservatif dan memaksakan kehendaknya. Padahal, sang buah hati memiliki pilihan sendiri. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri 

Setiap orang tua memiliki pandangan tersendiri dalam mengasuh dan mengatur hidup anaknya. Termasuk dalam menetapkan dan menentukan tempat pendidikan yang tepat bagi anak, sesuai dengan keinginannya. Demi mewujudkan harapannya agar jadi kenyataan, tak sedikit orang tua memaksakan kehendak pada anak. 

Orang tua selalu merasa pilihannya adalah yang terbaik bagi anak. Meski, anak juga memiliki keinginan sendiri, khususnya bersekolah di tempat yang diinginkan. Setiap sekolah memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian dan pola pikir anak. Namun, perlu diingat bahwa sekolah juga bisa jadi momok yang mengerikan bagi anak. 

Jika dipaksakan bersekolah di tempat yang tak disenangi, akan membuat anak sulit beradaptasi dan menerima pelajaran. Ia menjalani hidup dengan keterpaksaan dan di bawah tekanan orang tuanya. Sedikit demi sedikit, hal ini akan membawa dampak buruk, baik perkembangan maupun pendidikannya. Kreativitas anak sulit berkembang. 

Tanpa orang tua sadari, anak sering kali mengikuti kehendak orangtua. Padahal, yang akan bersekolah adalah anaknya. Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan orangtua harus tahu kemampuan akademik anak yang tercatat dalam rapor, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. 

Tak ada salahnya orang tua menghargai k untuk memilih sekolah yang diinginkannya. Orang tua bisa bekerja sama dengan mengarahkan anak tanpa membuat keraguan, kecemasan, dan kegalauan pada anak. Ketika anak memilih sekolah yang diinginkan, ia akan menyampaikannya sejak jauh hari. 

“Momen ini juga dapat dijadikan orang tua untuk mengutarakan harapan dan keinginan agar anak bersekolah di tempat yang telah dipilihkan,” ujarnya. 

Dosen program studi PAUD Untan menjelaskan orang tua dan anak bisa saling menyampaikan kelebihan dan kekurangan sekolah yang diinginkan masing-masing. Jangan sampai keinginan orang tua membebani anak di kemudian hari. Meski, anaknya termasuk siswa berprestasi dan berpotensial untuk mengenyam pendidikan di sekolah populer.  

Keduanya juga bisa saling menyampaikan pertimbangan jika anak memilih bersekolah sendiri atau ketika bersekolah di tempat pilihan orang tua. Dalam dialog ini orang tua dan anak bekerja sama mencari jalan keluar terbaik. Namun, orang tua perlu menghindari sifat paksaan dan ancaman pada anak. 

“Akan jadi beban bagi anak jika ia dipaksa bersekolah di tempat pilihan orang tuanya. Secara tak langsung juga berpengaruh pada penyesuaian diri, kemampuan dalam mengatasi masalah, serta berdampak pada prestasi akademik,” tutur Desni. 

Desni menyarankan orang tua perlu memahami win-win solution. Disini orang tua bisa melihat alasan anak, apakah prinsip atau tidak. Jika alasan anak tak prinsip, orang tua bisa mencoba menekan dan membujuk secara halus, pelan, serta bertahap. Orang tua bisa turut serta membuka pemikiran anak agar lebih terbuka dan sedikit demi sedikit menerima pendapatnya.   

“Terpenting cara yang dilakukan orang tua tak menyinggung atau terkesan memaksa. Perlu orang tua ketahui, anak zaman sekarang lebih terbuka wawasannya. Tak seperti anak dulu yang lebih tertutup, kaku, dan mengikuti aturan orang tua,”pungkasnya.**

Berita Terkait