Menghadapi Debt Collector

Menghadapi Debt Collector

  Senin, 25 January 2016 09:05

Berita Terkait

Memiliki kesulitan membayar tagihan ke bank sehingga harus berhadapan dengan debt collector? Sebenarnya ini bukan suatu permasalahan yang terlalu besar, jika Anda memahami tugas dari debt collector dan tahu trik bagaimana mengatasi debt collector yang datang menagih. Oleh : Marsita Riandini

Debt collector merupakan istilah lain dari penagih hutang yang diambil dari Bahasa Inggris. Orang-orang yang menjadi debt collector ini ditunjuk oleh industri komersil, yang umumnya adalah bank, untuk mengingatkan para kreditur atau orang yang memiliki kredit atas tunggakan kreditnya. Demikian yang disampaikan oleh Dr. Helma Malini, MM kepada For Her. “Debt Collector menjadi pihak ketiga yang ditunjuk oleh bank untuk mengingatkan, bukan menagih hutang. Jadi mereka bukan karyawan internal bank yang ditugaskan untuk mengingatkan kreditur yang mengalami kredit macet,” papar dosen Ekonomi Untan ini.

Jasa mereka digunakan untuk menagih kredit yang bersifat konsumtif. Seperti kredit handphone, motor, mobil, dan lainnya. “Kalau seperti rumah itu khan jangka waktunya lama. Rumah jarang sekali mengalami kredit macet. Untuk barang konsumtif seperti handphone itu yang sering,” beritahunya.

Atas dasar itulah, Helma mengingatkan jika ingin kredit barang, pastikan mampu membayarnya. Jangan mengikuti hawa nafsu, sementara pendapatan tak cukup membantu. “Gaji cuma 2 juta perbulan, tetapi ingin beli HP yang 10 juta. Bank tetap memberi, tetapi nanti kalau tidak membayar akan repot sendiri,” ujarnya mengingatkan.

Wajah-wajah debt collector umumnya di masyarakat terkenal tinggi, besar, dengan suara yang keras dan “menakutkan”.  Sengaja dipilih orang-orang yang berwajah demikian, agar para kreditur yang menunggak pembayaran kredit menjadi lebih lunak dan berusaha membayar tunggakan.  Keuntungan lain penggunaan jasa mereka, demi menghindari malu karena kedatangan para penagih, para kreditur berusaha membayarnya. “Hati-hati kalau mau kredit terutama yang bersifat konsumtif, nanti barang yang lain dijual untuk membayar kredit tersebut. Belum lagi menjadi beban pikiran setiap bulannya,” tutur dia.

Biasanya debt collector baru turun tangan, bila kreditur sudah melakukan tunggakan sekitar 3 bulan lebih. “Sebelum mereka yang beraksi, pihak bank biasanya sudah mengingatkan melalui surat peringatan,” paparnya. Tapi pada dasarnya, kreditur tidak perlu khawatir menghadapi debt collector ini. Sebab dalam menjalankan tugasnya, mereka juga terikat oleh aturan-aturan. “Mereka tidak boleh sembarangan menagih. Mereka itu hanya mengingatkan kreditur saja, tanpa boleh melakukan tindakan kekerasan kepada kreditur,” ucap dia.

Hal penting lainnya, lanjut  Helma, debt collector juga tidak berhak mengambil barang ketika menagih. “Ketika mereka menagih, dan memaksa mengambil barang, maka sebisa mungkin untuk mempertahankan barang tersebut. Sebab jika sudah di tangan mereka, akan sulit melewati prosedur yang sebenarnya ada hak-hak yang harus diterima oleh kreditur juga,” terangnya.

Dia menjelaskan, ketika seseorang kredit motor dan sudah membayar beberapa bulan kredit motor tersebut. Nah, ketika dia tidak mampu membayarnya, kreditur bisa menyelesaikannya dengan bank melalui pengadilan. “Nanti pengadilan yang menentukan berapa hak-hak yang bisa diterima kreditur. Tapi biasanya tidak semua kreditur juga bank memilih jalur pengadilan, sebab tidak mau dipusingkan dengan prosedurnya. Makanya mereka memilih negosiasi dengan kreditur,” jelas dia.Demikian pula jika terjadi teror yang dilakukan oleh debt collector. Hal ini kata Helma sudah mengarah pada tindakan kriminal, dan bisa dilaporkan ke kepolisian. “Debt collectoritu tidak boleh melakukan tindakan kekerasan, mengambil barang, ataupun bersentuhan fisik dengan kreditur, termasuk melakukan teror,” pungkasnya.  **

 

Berita Terkait