Menggemakan Tradisi Literasi Melalui Diskusi

Menggemakan Tradisi Literasi Melalui Diskusi

  Senin, 30 July 2018 10:16
LITERASI : Diskusi sederhana karya D. Purnama di warkop V Note, Jalan Ampera. IST

Berita Terkait

Geliat Literasi di Kalbar

Diskusi literasi karya D. Purnama menarik sejumlah perhatian pegiat literasi, Jumat (27/7). Diskusi  literasi yang dimulai sejak tahun 2016 ini kerap membahas isu-isu sosial yang dihadapi di lingkungan sekaligus memenggemakan tradisi literasi. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda literasi yang jadi program rutin dari Komunitas Kalbar Membaca. Diskusi kali ini dipantik Ruth Feliani, Shella Rimang, dan Claudia Liberani ini dihadiri sejumlah pegiat literasi. Dimoderator diskusi Devita, acara malam itu berjalan dengan penuh kehangatan. Masing-masing narasumber mengungkapkan keresahan mereka sebagai perempuan. 

Claudia Liberani sebagai seorang perempuan dan buruh mengungkapkan masih banyak kebijakan negara yang tidak ramah terhadap perempuan. Kondisi ini menyebabkan pemenuhan hak perempuan sebagai manusia yang setara dengan laki-laki belum tercapai. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena tidak banyak perempuan yang dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan publik. “Ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang menempatkan perempuan di ranah domestik saja. Kuota 30 persen yang disediakan bagi perempuan untuk duduk di bangku politik bahkan belum terpenuhi karena sedikitnya SDM (sumber daya manusia) yang mumpuni. 

Dia mengatakan kalau ada yang berhasil mendapatkan jabatan politik, ini tidak menjamin bahwa kesetaraan telah tercapai. Karena bisa dilihat perempuan-perempuan yang berhasil menduduki jabatan politik ini memang perempuan-perempuan dari keluarga yang memiliki ekonomi kuat.

"Ketika mereka mendapat jabatan politik pun, tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk perempuan lain di luar sana. Buktinya meski sudah ada perempuan yang jadi walikota, menteri, bahkan presiden upah buruh perempuan tetap saja masih rendah, tidak sesuai dengan beban kerjanya. Belum lagi banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan," paparnya pada acara yang digelar di warkop V Note, Jalan Ampera, Pontianak Jumat (27/7) malam. 

Claudia mengajak para perempuan tidak ragu lagi untuk berperan aktif di lingkungannya. Misalnya dengan membiasakan diri mengungkapkan ide dan gagasan, baik itu lisan maupun tulisan. Karena menurutnya di banding laki-laki, tidak banyak perempuan yang bisa mengungkapkan ide dan pendapatnya.  "Mulai saja dengan hal sederhana, misalnya menulis keresahan di sekeliling kita. Karena saya percaya tulisan kita punya dampak besar, yang semoga saja bisa mengubah keadaan jadi lebih baik. Sehingga antara laki-laki dan perempuan punya hak sama," jelasnya.

Sementara Shella Rimang, perempuan yang aktif menulis dan sudah mengeluarkan beberapa buku menyampaikan keresahannya mengenai berbagai stigma yang dilekatkan pada perempuan yang akhirnya membuat perempuan tidak bisa mendapatkan haknya.  "Lambat laun saya akhirnya merasa bahwa perempuan itu korban, seperti sebuah kutipan buku yang ada di buku Pelacur Itu Datang Terlambat. Korban dari berbagai stigma yang dilekatkan lingkungan padanya," katanya. 

Dia menceritakan berbagai contoh sederhana yang bisa dijumpai di lingkungan sehari-hari. Misalnya anggapan bahwa perempuan yang pulang larut malam adalah perempuan tidak benar, atau perempuan harus bisa memasak karena kalau tidak bisa memasak berarti menyalahi kodratnya. 

Dalam mewujudkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dilepaskan dari edukasi. Seperti yang diungkapkan narasumber paling muda malam itu, Ruth Feliani. Dia menjabarkan bagaimana konstruksi sosial di masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai urutan kedua. “Padahal seharusnya kita setara, karena kita sama-sama manusia. Tapi masih sedikit yang memiliki kesadaran ini,” katanya. 

Untuk mewujudkan kesadaran dia mengatakan edukasi sangat penting. Edukasi bisa dimulai di lingkup paling kecil, yaitu keluarga. Setelah itu baru di lingkungan pertemanan. "Untuk mulai peduli pada isu-isu perempuan kita bisa mulai dengan hal sederhana. Di sosial media ada banyak media campaign yang bisa kita ikuti sehingga kita bisa megakses banyak informasj," ungkapnya. 

Dengan adanya kesadaran untuk mewujudkan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki, maka berbagai gerakan kolektif bisa dilakukan. Diskusi malam itu ditangapi dengan antusias oleh beberapa peserta. Ada juga yang mencoba memberi perspektif berbeda tentang gerakan perempuan, yang lain mengusulkan agar diskusi seperti ini bisa sering diadakan.Sementara itu penggagas Kalbar Membaca dan juga pendiri penerbit Enggang Media, Varli Pay Sandi berharap kedepannya semoga acara serupa terus berlanjut dan semakin intens dilakukan oleh pegiat literasi. "Pemantik diskusi sengaja kita minta perempuan muda yang bergairah terhadap literasi" paparnya. Diskusi malam itu ditutup dengan manis oleh pembacaan puisi dari Shella Rimang dan penyerahan bantuan buku dari Kalbar Membaca untuk rumah baca di Sintang dan Kapuas Hulu.**

Berita Terkait