Mengenal Lumba-lumba, Mamalia Laut yang Ramah

Mengenal Lumba-lumba, Mamalia Laut yang Ramah

  Kamis, 1 March 2018 11:00

Berita Terkait

Kecerdasan dan keunikan yang dimiliki lumba-lumba, membuatnya sangat dicintai berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Lumba-lumba juga dikenal sebagai hewan yang ramah dan menyenangkan karena kerap berinteraksi langsung dengan manusia. Eits.. meski tinggal di laut lepas, lumba-lumba bukan termasuk spesies ikan, lho! 

· Ciri Umum Mamalia Laut & Jenis Lumba-Lumba

Menurut drh. Dwi Suprapti, M.Si secara biologis, lumba-lumba termasuk dalam Infraordo Cetacea dari Kelas Mamalia. Inilah yang membuat lumba-lumba secara umum disebut mamalia laut. FYI, guys mamalia laut memiliki ciri umum seperti bergerak dengan mengandalkan pergerakan ekor secara vertikal, bernafas menggunakan paru-paru, nggak bersisik, dan menyusui. 

Marine Species Conservations Coordinator WWF Indonesia menuturkan terdapat 90 jenis mamalia laut di dunia dan 35 jenis diantaranya ditemukan berada di Indonesia. Namun, dari 35 jenis mamalia laut yang ada di Indonesia. Hanya terdapat 20 jenis saja yang termasuk dalam keluarga lumba-lumba (Delphinidae), yaitu Long-beaked common dolphin (D. capensis tropicalis).

Short-beaked common dolphin (D. delphis), Pygmy killer whale (F. Attenuata), Short-finned pilot whale (G. macrorhynchus), Risso's dolphin (G. griseus), Fraser's dolphin (L. hosei), Finless porpoise (N. phocaenoides), Irrawaddy dolphin (O. brevirostris), Killer whale (O. orca), Melon-headed whale (P. electra), dan False killer whale (P. crassidens), Indo-Pacific humpback dolphin (S. chinensis).

Australian humpback dolphin (S. sahulensis), Spinner dolphin (S. l. longirostris), Dwarf spinner dolphin (S. l. roseiventris), Striped dolphin (S. coeruleoalba), Pantropical spotted dolphin (S. attenuata), Rough-toothed dolphin (S. bredanensis), Indo-Pacific bottlenose dolphin (T. aduncus), dan Common bottlenose dolphin (T. truncatus).

· Karakteristik Fisik, Habitat, Perilaku, Reproduksi & Usia

Setiap jenis lumba-lumba memiliki karakteristik fisik, habitat, perilaku, siklus reproduksi, dan usia yang berbeda-beda. Namun, beberapa fakta umum menyatakan lumba-lumba memiliki rentang usia antara 24 sampai 70 tahun, dimana masa hamil sekitar delapan sampai 14 bulan dan masa melahirkan satu anak dengan kisaran waktu satu sampai tiga tahun sekali.

“Sedangkan, rentang lumba-lumba menyusui berkisar selama satu sampai satu setengah tahun,” ujarnya. 

Keberadaan lumba-lumba juga mengindikasikan suatu daerah memiliki banyak ikan. Untuk makananannya sendiri, lumba-lumba kerap mengonsumsi kumpulan ikan, cumi-cumi (cephalopod), maupun udang (crustacean) di perairan. Lumba-lumba bersifat sosial serta berkomunikasi, mengatur arah gerak, dan mencari makan dengan gelombang suara.

Meski mencari makan dengan gelombang suara, lumba-lumba sangat sensitif terhadap suara, lho! Bahkan, kecepatan suaranya secara langsung berhubungan dengan kepadatan medium. Hal ini dikarenakan air lebih padat daripada udara, sehingga suara di air melaju lebih cepat dan dengan atenuasi kurang dari pada suara di udara. 

“Kecepatan suara di udara berkisar 340 meter per detik. Sedangkan, kecepatan suara di air laut rata-rata 1530 meter per detik. Namun dapat bervariasi sesuai faktor yang mempengaruhi kepadatan,” cuapnya.

Faktor fisik utama yang mempengaruhi kepadatan air laut adalah salinitas, suhu, dan tekanan. Setiap kenaikan salinitas satu persen, kecepatan akan meningkat satu setengah meter per detik. Setiap satu derajat celcius penurunan suhu, kecepatan akan berkurang empat meter per detik, dan untuk setiap kedalaman 100 meter, kecepatan meningkat satu koma delapan meter per detik. 

Sehingga, kecepatan suara dalam air sebesar empat koma lima kali lebih cepat daripada di udara. Artinya, suara kebisingan diudara dapat merambat ke air empat koma lima kali lipat lebih nyaring dibandingkan di udara. Dengan demikian, polusi suara di udara yang merambat ke dalam air dapat mengganggu sistem sonar atau gelombang suara pada lumba-lumba.

· Habitat & Konservasi

Populasi lumba-lumba di alam nggak diketahui secara pasti mengingat distribusi lokasi dan wilayah jelajah lumba-lumba sangat terbuka diperairan luas. Berbeda halnya dengan lumba-lumba air tawar, seperti pesut mahakam yang hidup terbatas di wilayah perairan Sungai Mahakam. Sehingga, dapat diiketahui populasinya berkisar 90 ekor.

Perempuan berhijab ini mengatakan, menjaga habitat hidup lumba-lumba melalui perlindungan kawasan adalah salah satu bentuk upaya konservasi lumba-lumba di Indonesia. Lumba-lumba dapat hidup, makan, bermain dan bereproduksi dengan bebas, seperti halnya di kawasan Taman Nasional teluk Cenderawasih, Taman Nasional Wakatobi, KKPD. 

Begitu pula di Raja Ampat dan lain sebagainya yang merupakan salah satu tempat hidup dan berkembang biaknya lumba-lumba. Oh, ya guys pengertian konservasi lumba-lumba nggak selalu berupa pemeliharaan khusus hingga berkembang biak dalam sebuah penangkaran, salah satunya adalah melalui upaya perlindungan habitat. 

Dwi menyarankan salah satu bentuk kontribusi masyarakat yang bisa dilakukan dalam mendukung upaya konservasi atau turut menjaga populasi lumba-lumba di alam adalah salah satunya dengan menjaga habitat alaminya serta tidak memburu dan mengonsumsi daging lumba-lumba.

· Menjaga Populasi & Kontribusi Masyarakat

Dalam lima tahun terakhir, beberapa daerah di Kalimantan Barat, yaitu Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, dan Mempawah  masih sering dijumpai kasus pemanfaatan lumba-lumba untuk tujuan konsumsi. Khususnya, lumba-lumba hidung pesek atau biasa disebut Pesut laut (Irrawady dolphin). 

Nggak hanya sekadar menjaga habitat, mengurangi perburuan dan mengonsumsi daging lumba-lumba. Dwi berharap masyarakat dapat berkontribusi dengan nggak membuang sampah dan limbah sembarangan ke perairan yang dapat berdampak kepada kesehatan lingkungan maupun lumba-lumba. Selain itu, apabila berlalu lintas menggunakan kapal atau speed boat sebaiknya menghindari lokasi yang menjadi jalur migrasi lumba-lumba.

“Jika nggak ada pilihan maka dapat mengurangi kecepatan mesin kapal apabila melintasi area atau habitat lumba-lumba,” ujar Dwi. 

Dan, apabila masyarakat atau nelayan nggak sengaja menjaring lumba-lumba, sebaiknya langsung melepaskan lumba-lumba kembali ke alamnya agar dapat memberikan kesempatan hidup yang lebih besar bagi lumba-lumba, dibandingkan harus di jual, dipelihara ataupun dikonsumsi.

“Namun, apabila lumba-lumba dalam kondisi sakit ataupun mati segera laporkan kepada aparat terkait diantaranya BKSDA, PSDKP, BPSPL maupun DKP,” pungkasnya.(ghe)
 

Berita Terkait