Mengenal Buah Pelipis, Hidangkan Buah Pelipis untuk Tamu Berlebaran

Mengenal Buah Pelipis, Hidangkan Buah Pelipis untuk Tamu Berlebaran

  Jumat, 22 June 2018 10:45
PELIPIS: Sejumlah tamu sedang asyik menikmati sajian buah pelipis yang manis. MARSITA RIANDINI/ PONTIANAK POST

Berita Terkait

Buah pelipis. Begitu orang sekitar kampung Penepat Kanan, Desa Peniti Dalam II, Kecamatan Segedong menyebutnya. Buah ini pun menjadi hidangan sedap bagi tamu yang datang berlebaran di kampung tersebut. Sekali hadap, satu orang tamu bisa menghabiskan 10 bahkan lebih buah pelipis. Seperti apa bentuknya?

MARSITA RIANDINI, Pontianak

POHON Pelipis tumbuh subur di sejumlah pekarangan rumah hingga kebun warga desa Penepat Kanan. Tapi, tidak semua warga desa itu menanam pohon pelipis. Beruntung bagi yang memilikinya. Ketika sedang berbuah, sehari bisa memanen satu hingga dua karung berukuran 10 kilogram.

Buah ini menjadi daya tarik tersendiri. Tidak semua kampung memiliki buah pelipis. Di Desa Peniti Dalam II ini, hanya beberapa kampung saja, seperti Desa Penepat Kanan dan Desa Sungai Lohor. Padahal jarak antara kampung satu dengan kampung lainnya tidak begitu jauh.

Buah pelipis menjadi primadona di suasana lebaran kali ini. Tamu lebih menyukai sajian buah yang berukuran sedikit lebih besar dari pinang ini. Daunnya seperti daun pohon  mangga.Begitu pula dengan rasanya, hampir mirip buah mangga tetapi lebih manis. Ketika di buka kulitnya, warna jingga dari buah ini semakin menggoda selera ingin menikmatinya.

“Kalau saya, sekali hadap bisa 20 buah habis,” papar Fauzani Abdulla, pemilik pohon pelipis.

Buah pelipis tumbuh menggantung layaknya buah mangga. Buah pelipis baru bisa dimakan ketika sudah gugur dari tangkainya. Berbeda dengan buah mangga, bila gugur tandanya busuk, sementara buah pelipis bila gugur tandanya siap dimakan. “Kalau pagi pungut gugurnya, bisa dapat satu kantong besar,” tambahnya. 

Tapi hati-hati saat membelah buah pelipis, bagi yang tidak beruntung akan menemukan buah yang berulat di dalamnya. “Tapi hanya satu dua saja yang berulat,” tambah Fauzani.

Buah pelipis di wilayah tersebut tumbuh dari tanaman kakek nenek. Warga tidak tahu pasti kenapa disebut buah pelipis. Jika menanamnya dari biji, maka butuh waktu belasan hingga puluhan tahun baru berbuah. “Lama ini berbuah. Ini tanaman dari saya kecil-kecil dulu. Di tanam dari biji. Tidak tahu kalau di cangkok atau di setek, mungkin bisa lebih cepat,” tambah Kepala Desa Peniti Dalam II ini.

Cara menikmatinya pun unik. Bisa dengan cara mengiris dagingnya, tetapi bisa langsung melahapnya setelah kulitnya dibuka. Fauzani pun biasanya menyiapkan empat hingga lima pisau, agar setiap tamu bisa menikmati langsung, tanpa harus mengantre pisau. “Kalau mangga kan besar, jadi satu buah bisa beberapa orang. Kalau ini emang satu orang satu pisau, biar bisa makan banyak,” katanya tertawa.

Buah pelipis tidak hanya enak dimakan begitu saja. Buah ini juga enak dibuat sambal. Fauzani pun senang menjadikannya pelengkap hidangan makan siang. “Sedap dibuat sambal. Potong tipis memanjang, sedap,” paparnya.

Benar saja, sambal buah pelipis yang diolah dengan cabe dan sedikit terasi begitu menggoda sebagai teman makan nasi hangat. Apalagi ditambah dengan perasan jeruk. Semakin sempurna, bilas dilengkapi dengan ikan asin yang digoreng.

Jika dibawa ke pasar yang ada di Pontianak, lanjut dia harga buah pelipis bisa tinggi. Satu kilo bisa mencapai  sepuluh hingga dua puluh ribu rupiah. Tapi, warga biasanya tidak menjual buah ini. Hanya dinikmati bersama keluarga, terutama musim lebaran kali ini. Banyak keluarga jauh yang datang, dan lebih senang disajikan aneka buah. Bahkan ada yang membawa pulang. 

“Sekarang kebetulan musimnya buah pelipis, yang lain belum ada,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait