Mengelola Emosi di Rumah Tangga

Mengelola Emosi di Rumah Tangga

  Jumat, 8 February 2019 09:21   2

Oleh: Dr.Harjani Hefni, Lc, MA

Suami istri adalah dua insan asing yang berkomitmen untuk hidup bersama dengan ikatan pernikahan dan didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang. Namun, perbedaan pandangan, sikap, dan karakter tidak mungkin dihindarkan. Selain itu, upaya pihak lain yang tidak senang dengan kebahagiaan mereka berusaha untuk membuat fitnah dan merusak. Jika pasangan ini tidak bijak menyikapi perbedaan pandangan dan tidak matang menghadapi fitnah, bisa saja rumah tangga akan karam. Berikut ini dua kisah rumah tangga Rasulullah menghadapi dua kenyataan di atas.

Haruskah dengan marah ?

Marah adalah pangkal bencana. Oleh sebab itu, berfikirlah yang matang sebelum kemarahan itu keluar. Kehidupan suami istri itu suatu saat akan bertemu dengan angin badai atau masalah-masalah lainnya. Nabi SAW pernah menghadapi berbagai tuntutan  dari para istrinya, seperti tuntutan tambahan uang belanja setelah para istri beliau melihat kaum muslimin sudah mulai merasakan kemakmuran. Nabi tidak setuju mengubah pola hidup bersahajanya dengan kehidupan borju, dan memilih untuk mengalirkan harta yang dimilikinya untuk bersedekah. Rasulullah SAW tidak senang melihat gelagat para istrinya tersebut, dan beliau memilih menyepi dari para istri dan sahabatnya untuk pembelajaran.

Rasulullah sendiri sebenarnya tahu bahwa tuntuan itu adalah keinginan alami para istri. Sehingga beliau tidak setuju dengan tindakan Abu Bakar yang ingin campur tangan akan memukul puterinya Aisyah, karena turut melakukan aksi tuntutan, begitu juga Umar yang akan memukul Hafshah.

Beliau tahu bahwa apa yang diinginkan istrinya itu adalah masalah perasaan dan kecenderungan manusiawi, yang senantiasa pasang surut, yang tidak dapat dipadamkan dengan kekerasan atau ditekan dengan tangan besi. Beliau membiarkan masalah itu sampai turun ayat, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah aku berikan kepadamu. Aku akan memberikan apa yang kamu minta dan akan menceraikanmu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantara kamu pahala yang besar.” (Al Ahzab :28-29)

Ternyata semua istrinya, tanpa tekanan dan paksaan, telah memilih Allah dan Rasul- Nya. Akhirnya masalah ini berlalu dengan hasil yang indah. Beliau hadapi dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, dan akhirnya beliau berhasil sebagai pemenang. Dalam menghadapi kemelut rumah tangganya, acapkali beliau atasi seorang diri dengan modal “bersabar dalam menghadapi kemarahan”. Sesungguhnya kebakaran dapat terjadi hanya disebabkan oleh sebatang korek api yang kecil. 

Menghadapi Fitnah

Isu tentang perselingkuhan Aisyah dengan sahabat Shafwan bin Mu’atthal sangat terkenal. Intinya adalah adanya suara sumbang tentang Aisyah saat Aisyah dan Shafwan datang ke Madinah hanya berdua, karena tidak bisa mengejar rombongan yang lain. Shafwan adalah sahabat yang ditugaskan mengikuti pasukan dari belakang. Shafwan terperanjat melihat Aisyah sendirian di tempat sepi karena ditinggalkan oleh rombongan. Karena itulah Shafwan akhirnya mempersilahkan Aisyah untuk naik ke atas kudanya dengan dituntun oleh Shafwan. Shafwan mempercepat untanya agar dapat menyusul rombongan, namun usahanya tidak berhasil. Dan, baru masuk Madinah di saat hari sudah siang.

Peristiwa ini digoreng oleh kelompok yang tidak suka dengan Rasulullah. Mereka pun mengemas kejadian ini dengan target rusaknya nama Rasulullah dan hancurnya rumah tangga beliau. Terdengar desas-desus orang yang menggunjingkan Aisyah. “Kenapa Aisyah tertinggal dari pasukan dan pergi berdua dengan Shafwan, padahal Shafwan seorang laki-laki tampan yang masih muda belia?”

Aisyah sendiri tidak tahu isu ini beredar apalagi setelah beberapa hari tiba di Madinah, beliau jatuh sakit. Aisyah dirawat di rumah ibunya lebih dari 20 hari sampai beliau sembuh. Akhirnya berita tersebut pun sampai ke telinga Aisyah, disampaikan oleh seorang wanita dari kaum muhajirin. Setelah mendengarnya, hampir saja ia tidak sadarkan diri, karena fitnah  yang sangat besar itu. Ia pergi menemui ibunya untuk menegurnya kenapa tidak memberitahukan berita itu kepadanya. Dengan suara yang tercekik di kerongkongan dia berkata, “Semoga Allah mengampuni dosamu ibu, orang di luar menggunjingku, namun ibu tidak memberitahukan hal itu kepadaku.”

Aisayh lantas teringat dengan sikap Rasulullah yang mendadak berubah, agak dingin kepadanya, tidak suka bercanda seperti biasanya, dan kalau didekati, beliau bagai orang yang kehabisan kata-kata. Namun Aisyah juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rasulullah pun tidak kalah gelisah dan bingungnya seperti Aisyah. Beliau merasa sangat terganggu dengan gunjungan terhadap istrinya. Akhirnya ia terpaksa mengundang beberapa sahabat pilihan untuk meminta pendapat mereka. Beliau pergi memanggil Ali dan Usamah bin Zaid, dan meminta pendapat mereka. Setelah itu beliau pergi menemui istrinya di rumah orang tuanya. Klarifikasi informasi terus dilakukan sampai turun wahyu kepada Nabi tentang pembebasan Aisyah dari fitnah. Alhamdulillah, makar untuk meruntuhkan nama baik keluarga Rasullah gagal karena sikap Rasulullah yang bijak menghadapi persoalan tersebut.

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut. Pertama, agar selalu mawas diri dalam menghadapi hal yang meragukan, terutama dalam hal yang menyangkut nama baik seseorang dan menyangkut keutuhan rumah tangga. 

Kedua, suami jangan mengungkapkan keraguannya hanya karena mendengar cerita orang, agar tidak menambah keruh permasalahan. Ketiga, ketika membicarakan hal yang meragukan, hendaklah dengan kelembutan dan sikap hati-hati, jauh dari emosi dan sikap memojokkan si tertuduh. Keempat, sebaiknya memberitahukan masalah itu kepada istri setelah beberapa waktu, agar tidak termakan oleh emosi yang akan mengganggu istri, dan menghindari gambaran yang tidak pada tempatnya.

Mengelola emosi dan bersikap tenang serta tergesa-gesa menghadapi situasi yang tidak ideal adalah di antara cara kita menyelamatkan keluarga dari berbagai rintangan yang membahayakan. Semoga keluarga kita senantiasa sakinah, mawaddah wa rahmah. **

*Penulis adalah Dosen Komunkasi Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Pontianak.