Mengatur Bisnis Narkotika dari Penjara

Mengatur Bisnis Narkotika dari Penjara

  Jumat, 19 Oktober 2018 10:00
Ilustrasi

Berita Terkait

Rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan bukang penghalang bagi bandar narkotika menjalankan bisnisnya. Penjara menjadi tempat paling aman untuk mengoperasikan perdagangan narkotika. Mereka leluasa mengorganisasikan jaringannya, mulai memesan barang di luar negeri, memasukannya ke dalam penjara hingga mendistribusikannya. 

***

HAL ini tak bisa dipungkiri karena adanya peran orang dalam yang telah memfasilitasi. Sehingga para warga binaan leluasa beroperasi. Dalam kasus Darmadi Cs, ada sejumlah sipir yang terlibat. Mereka terdiri atas Dedi Rahmadi yang sedang menjalani hukuman atas vonis 8 bulan penjara, kemudian Wahyu Famuriyanto yang belum lama ini ditangkap Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar bersama BNN Kalbar. 

Dedi dan Wahyu adalah pegawai Rutan Klas IIA Pontianak. Berdasarkan catatan, Wahyu sudah dua kali menjadi fasilitator masuknya narkotika jenis ekstasi ke Rutan Klas IIA Pontianak atas perintah Darmadi dengan imbalan Rp500 ribu.

Darmadi bukan pemain baru dalam bisnis haram ini. Sejak 2010, Darmadi sudah berkecimpung dalam pasar gelap narkotika. Tahun 2010, Darmadi pernah dihukum 4 tahun penjara. Pada tahun berikutnya, yakni tahun 2016, kembali menjalankan bisnis haramnya dan divonis 7 tahun penjara. 

Belum usai masa tahanannya, ia kembali terlibat dalam kasus yang sama. Darmadi mengendalikan perdagangan narkotika jenis sabu dengan barang bukti seberat 1 kilogram dan ekstasi sebanyak 1.993 butir yang melibatkan seorang sipir bernama Dedi Rahmadi. 

Atas perbuatan itu, Darmadi divonis 12 tahun penjara. Saat ini, ia baru menjalani hukuman 1 tahun dua bulan penjara. 

Tahun 2018, ia bersama dua rekannya, Burhanudin alias Boang dan Andi Ridwan alias Iwan Pemda, kembali menjalankan bisnis haram itu, kendati berada di balik jeruji besi. 

Burhanudin alias Boang bukan orang baru dalam pusaran bisnis narkotika. Tahun 2013, Boang ditangkap di Tangerang dengan membawa barang bukti sabu seberat 2 kilogram dan divonis 10 tahun. Tidak jera dengan hukuman yang dijalaninya, Tahun 2017, Boang kembali bermain dengan barang haram ini. Di Jalan Tol Pararel Kota Pontianak, Boang ditangkap dengan barang bukti 2 kilogram dan divonis 20 tahun penjara. Saat ini, ia baru menjalani masa tahanan selama 1 tahun. 

Selain Darmadi Cs, Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar menangkap sembilan tersangka penyalahgunaan narkotika. Dua diantaranya merupakan narapidana. Ironisnya, kedua gembong narkotika ini merupakan penghuni sel isolasi Lapas Klas IIA Pontianak.

Kedua napi tersebut adalah Riski Novianto dan Denny Nurdiansyah. Riski merupakan terpidana mati kasus narkotika, sedangkan Denny Nurdiansyah merupakan terpidana kasus narkotika dengan vonis 20 tahun penjara. Dalam menjalankan bisnis haramnya itu, pemuda berperawakan kurus ini berkomplot dengan jaringan narkotika di luar lapas menggunakan alat telekomunikasi handphone. 

Riski dikenal memiliki jaringan yang cukup solid. Sebelum aksinya terendus polisi, Riski adalah seorang kurir narkotika yang membawa sabu seberat 15 kilogram dari Malaysia. Kini, ia dipercaya mengatur perdagangan narkotika dari balik jeruji besi di wilayah Pontianak dan sekitarnya.

Keterlibatan Riski dan Denny terkuak setelah Subdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar berhasil menangkap seseorang bernama M Sufirmansyah dan kurir lainnya.

Tidak ingin kecolongan, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Kalimantan Barat terus melakukan upaya-upaya untuk memutus mata rantai peredaran narkotika dari dalam penjara. 

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM kalimantan Barat Rochadi Iman Santoso mengatakan, upaya itu diantaranya memperketat mekanisme kunjungan kepada warga binaan. 

Menurutnya, setiap pengunjung, harus menunjukan identitas baik kartu keluarga maupun KTP. Hal ini dilakukan agar, jika terjadi sesuatu, maka pihaknya akan lebih mudah untuk melacak. 

Sementara, untuk warga binaan yang berasal dari negara lain, atau warga negara asing, tidak boleh dikunjungi, kecuali ada surat khususnya yang menyatakan pengunjung tersebut merupakan keluarga. 

"Itu khusus untuk warga binaan. Untuk pegawainya, akan dilakukan pemeriksaan urine secara rutin oleh BNN dan BNNK," paparnya. 

Menurut Rochadi, saat ini lapas dan rutan di Kalbar sudah mengalami overload sebesar 170 persen. 

Untuk Lapas Klas IIA Pontianak saja, yang seharusnya dihuni 440 orang, sekarang dihuni 925 orang. Dimana 67 persen merupakan narapidana kasus narkoba. Dari total jumlah penghuni lapas tersebut, sepuluh napi diantaranya merupakan narapidana hukuman mati. Sedangkan hukuman seumur hidup ada 12 orang.    

Kepala Lapas Klas IIA Pontianak Farhan Hidayat mengungkapkan, narkoba merupakan pasar atau bisnis yang paling menguntungkan, di samping memiliki dampak yang membahayakan. 

Hanya saja belum ada formula yang tetap untuk membuat jera bagi para pelaku kasus narkotika. "Banyak napi yang divonis mati, tapi eksekusinya ditunda higga bertahun-tahun. Seandainya, orang diputus hukuman mati, artinya harus cepat dieksekusi. Dengan seperti itu membuat orang jera. Tapi kalau sampai sekarang, sudah beberapa tahun, mereka belum dieksekusi, bagaimana mereka merasa takut? coba kalau seumpanya konsekuen, tuntutan, vonis hukuman mati, ya cepet-cepet dihukum mati. Supaya yang lainnya takut. Kalau ada rasa takut, saya yakin,  mereka tidak akan mengulangi lagi. Yang lain akan memikir dua kali," katanya. 

"Saya pernah berdialog dengan warga binaan asal Malaysia, dia diputus 8 tahun. Padahal sudah enam kali menyelundupkan narkotika. Dia bilang, hukuman di Indonesia enak. Sudah enam kali saya menyelundup narkotika hanya diputus delapan tahun penjara. Nah itu salah satu contoh, hukuman di Indonesia itu ringan. Tidak menakutkan," sambungnya. (arf) 

Berita Terkait