Mengapa Wajib Menyembah Allah dan Berpuasa Ramadan

Mengapa Wajib Menyembah Allah dan Berpuasa Ramadan

  Jumat, 3 June 2016 09:12   1

Oleh; H.SABHAN A.RASYID

MANUSIA sebelum lahir ke dunia ini, ketika Allah mengumpulkan seluruh rohnya di alam roh, sebelum roh ditiupkan kedalam rahim seorang ibu, mulai dari roh manusia pertama sampai roh manusia terakhir, pernah membuat suatu kontrak, perjanjian atau ikatan kepada Allah SWT. Perjanjian tersebut diingatkan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Araf 172.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".(A.S.7 Al’Araf 172)

Pengertian secara bebas, perjanjian yang dibuat manusia dengan pertanyaan Allah “Wahai roh-roh ini semua, apakah nanti kalian, manakala lahir kedunia dan menjadi manusia, tetap akan menyembah Aku (Allah) sebagai Tuhanmu. Dan taat untuk beribadah kepadaKU.Ketika itu seluruh roh menjawab, Ya Allah manakala nanti kami lahir kedunia, dan kami menjadi manusia, maka kami tetap akan menyembah Engkau sebagai Tuhan kami dan kami akan beribadah kepada Engkau.

Tapi apa yang terjadi? Mungkin karena pengaruh lingkungan dan pengaruh dilahirkan dari orang tua yang bukan Muslim. Akhirnya banyak manusia yang sudah lupa kepada kontrak atau perjanjian untuk tetap menyembah Allah.

Kita yang tetap setia kepada kontrak dan perjanjian yang tetap beriman kepada Allah dan Rasulnya,sekurang-kurangnya 5 kali sehari semalam diperbaharui janji tersebut, yakni ketika solat membaca doa Iftitah ”Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,”(A.S.6.Al-An’am 162).

Untuk menguji dan mengetahui siapa orang yang benar-benar setia kepada kontraknya dialam roh, maka Allah memerintahkan manusia untuk beribadah kepadaNya. Sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(A.S.51 Az-Zariyat 56).

Ibadah-ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah, baik ibadah dalam arti khusus (solat, puasa, zakat dan haji) maupun ibadah dalam arti yang luas (tilawah Al-Qur’an, shalawat, doa, wirid, aqiqah,qurban, memberikan dan mendengar tausiah, mengikuti majlis ta’lim dan lain-lain) adalah untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan Allah. Sebab Allah menyatakan “Sekiranya seluruh penduduk di bumi ini beriman dan menyembah Allah, maka kekuasaan dan kebesaran Allah tidak akan bertambah. Demikian pula manakala seluruh penduduk bumi ini ingkar, kafir dan tidak mau beribadah kepada Allah, maka kekuasaan dan kebesaran Allah tidak akan berkurang.”

Salah satu kepentingan ibadah untuk pengampunan dosa. Pengampunan dosa sangat diperlukan, karena manusia mengharapkan surga nanti di akhirat. Surga yang diharapkan hanya disediakan Allah kepada orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firmanNya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(A.S.3 Ali Imran 133).

Salah satu tanda atau ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang mendapatkan pengampunan dosanya dari Allah SWT. Surga hanya ditempati oleh orang-orang yang bersih dari dosa. Orang yang berdosa tidak dimasukkan kedalam surga, akan tetapi dibersihkan dulu dosanya ditempat yang celaka dalam neraka. Setelah dibersihkan dosanya di neraka, barulah dimasukkan kedalam surga.

Ternyata perintah Allah untuk melaksanakan ibadah kepada manusia, termasuk melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan (dan ibadah khusus lainnya,serta ibadah yang luas), pada akhir dan gilirannya untuk pengampunan dosa.

Solat lima waktu adalah untuk pengampunan dosa, sabda Rasulullah “Solat lima waktu, dan solat Jum’at ke Jum’at untuk pengampunan dosa, selama tidak dilakukan dosa-dosa besar.” Demikian pula Puasa Ramadhan untuk pengampunan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas karena Allah, maka diampunkan segala dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu pula ibadah Zakat, adalah untuk pengampunan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah”Selamatkan dirimu dari api neraka (bersihkan diri dari dosa) walaupun kalian hanya bersedekah dengan sebiji kurma.”Berikutnya Ibadah umrah dan haji juga untuk pengampunan dosa. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :”Umrah ke Umrah untuk mengampunkan dosa diantara keduanya, dan haji yang mabrur tidak lain balasannya adalah surga.” Orang yang hajinya mabrur balasannya surga, karena disaat haji, jamaah haji wukuf di Arafah. Disaat wukuf di Arafah, Allah memberikan pengampunan dosa besar-besaran kepada jama’ah haji. Oleh karena itu orang yang hajinya mabrur, diampunkan segala dosa-dosanya, maka pantaslah balasannya adalah surga. 

Mari ingatkan diri dan keluarga kita (suami, isteri, anak, cucu, orang tua) untuk senantiasa menjaga, dan memelihara iman kepada Allah sebagai wujud kesetiaan perjanjian di alam roh, dan ikhlas melaksanakan semua ibadah (termasuk Puasa Ramadhan) untuk mendapatkan pengampunan dosa, dengan mengharap balasan surga.(sabar)