Mengantisipasi Siswa Terpapar Radikalisme

Mengantisipasi Siswa Terpapar Radikalisme

  Selasa, 19 June 2018 09:26   385

Oleh Y PRIYONO PASTI

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan banyak kampus di Indonesia yang terpapar paham radikal. Sejumlah kampus favorit justru ada di posisi atas dalam daftar tersebut. Itulah sebabnya para rektor diminta untuk melakukan deteksi dini dan tindakan tegas terhadap radikalisme tersebut.

Terkait temuan BNPT tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meminta para pemimpin perguruan tinggi mendeteksi, mendata secara serius, dan menindak tegas dosen atau mahasiswa yang terindikasi terpapar radikalisme dan intoleransi.

Temuan BNPT tersebut tentu sangat meresahkan. Apa jadinya negeri ini jika dosen dan mahasiswanya banyak terpapar radikalisme? Mau dibawa ke mana negeri ini? Itu di kalangan dosen dan mahasiswa, bagaimana dengan para siswa? Bukankah para siswa sangat mudah terpapar radikalisme? Bagaimana kita mengantisipasinya?

Menjadi Pengarusutamaan

Semangat antiradikalisme di kalangan siswa harus menjadi pengarusutamaan. Ini sangat penting mengingat para siswa sangat rentan terpapar paham radikal. Berdasarkan hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) terhadap 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri, 48,9 persen siswa bersedia terlibat aksi kekerasan yang terkait dengan agama dan moral. Survei yang dirilis 2011 ini juga menunjukkan 63,8 persen siswa bersedia terlibat dalam penyegelan rumah ibadah penganut agama lain.

Dua tahun lalu (2016), survei yang dilakukan Setara Institute terhadap siswa SMA di Jakarta dan Bandung menunjukkan 2,4 persen siswa masuk dalam kategori intoleran aktif atau radikal dan 0,3 persen siswa berpotensi menjadi teroris.

Pada 2017, hasil penelitian Marwan Idris, mahasiswa pascasarjana Universitas Paramadina tentang hubungan artikel radikal terhadap sikap siswa menegaskan bahwa siswa sangat rentan (mudah) terpapar paham radikal. Penelitian dalam bentuk eksperimen yang dilakukan terhadap 75 siswa SMA ini, setelah mereka diberikan artikel yang berisi tentang konten radikal, terjadi peningkatan intensi (kehendak) siswa untuk melakukan perbuatan radikal.

Mudahnya siswa terpapar pada konten atau paham radikal ini, paling tidak ada dua pemicu utamanya, yaitu minimnya literasi media dan belum optimalnya penanaman dan internalisasi nilai-nilai luhur Pancasila di kalangan siswa.

Mereka tidak (belum?) memiliki pengetahuan dan pemahaman dasar yang memadai untuk melakukan konfirmasi dan verifikasi terhadap konten berita yang dibacanya. Pada titik ini, penggalakkan literasi media dan pendidikan akseptansi di kalangan siswa untuk mengantisipasi siswa terpapar radikalisme menjadi keniscayaan.

Guru yang merupakan orangtua kedua siswa di sekolah mesti memberikan pengetahuan dan pemahaman literasi media, menanamkan dan memperkuat nilai-nilai untuk menghargai harkat dan hakikat manusia sebagai ciptaan Ilahi, mendidik generasi peradaban ini untuk mencintai bangsanya, dan menghargai pluralisme (keberagaman), bukannya menjadi prototipe (contoh) buruk nasionalisme sempit dan picik.

Sekolah, tentu saja melalui aksi guru-gurunya, mesti memberikan pendidikan toleransi (akseptansi yang inklusif) kepada siswanya. Sekolah mesti proaktif melakukan transfer nilai-nilai terkait pentingnya menghargai perbedaan dan keberagaman. Para guru harus meningkatkan kepekaannya agar mampu mendeteksi hal-hal negatif yang berpotensi menyebabkan munculnya radikalisme dan intoleransi di lingkungan sekolahnya.

Selain itu, tindakan yang mesti dilakukan untuk mengantisipasi  siswa terpapar radikalisme adalah dengan cara menanamkan, menginternalisasikan, dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan ber-Indonesia. Nilai-nilai luhur Pancasila dan semangat kebhinnekaan yang menjadi kekayaan bangsa ini harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita melalui pendidikan.

Pancasila mesti menjadi roh pendidikan kita. Pendidikan kita mesti berpedoman secara murni dan konsekuen pada nilai-nilai luhur integralistik Pancasila. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila yang merupakan kristalisasi pemikiran jenius dan jernih para Founding Fathers kita tentang kehidupan yang paling baik bagi bangsa Indonesia, diyakini mampu menghadirkan generasi Indonesia yang lebih baik, cendekia, disiplin, bertanggung jawab, berkarakter, toleran, humanistik, dan menghargai keberagaman.

Melalui pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur-integratif Pancasila, anak-anak kita diyakini mampu memahami ideologi negara secara utuh dan benar, mampu membangun inklusivisme dan pluralisme, serta mampu memahami tentang konsep demokrasi secara benar sehingga mereka mampu menjadi warga negara yang baik untuk berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam penciptaan kehidupan ber-Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan.

Indonesia adalah negara multikultur dan pluralistik. Para Founding Fathers (dan kita juga mestinya) sungguh menyadari hal ini dan menaruh perhatian besar terhadapnya. Dengan demikian, Indonesia sudah seharusnya mempraktikkan pendidikan berlandaskan nilai-nilai luhur-integratif Pancasila itu. Bagaimana implementasi kongkritnya?

Praktik pendidikan berbasis pada nilai-nilai luhur-integratif Pancasila ini dapat dilakukan (dimulai) dengan cara, pertama, membuka ruang perjumpaan antara peserta didik yang berlatar belakang agama, budaya, etnis, suku, status sosial, dan bahasa beragam. Melalui proses perjumpaan yang inklusif itu, komunikasi dialogal akan berjalan dengan sendirinya. Gejala ketakutan menerima keberadaan kelompok lain dengan segala perbedaan yang dimilikinya tak akan terjadi dengan model pendidikan yang demikian.

Kedua, persepsi guru dalam memfasilitasi dan membimbing peserta didik yang berlatar belakang berbeda harus diubah. Setiap peserta didik tentu mempunyai karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Guru harus menekankan aspek toleransi, bela rasa, dan kebersamaan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian akan tercipta pandangan yang pluralis-humanistik  di antara mereka.

Ketiga, materi pelajaran harus dikemas dengan mengedepankan nilai-nilai luhur-integralistik Pancasila, kaya nilai-nilai universalitas, humanistik, dan kearifan lokal.

Keempat, Kecintaan terhadap NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi empat pilar kokoh tegak berdirinya negeri ini, harus kita tumbuh-kembang-suburkan di kalangan siswa kita, generasi peradaban negeri ini sejak dini.

Musuh Kemanusiaan

Radikalisme dan intoleransi adalah musuh kemanusiaan. Radikalisme dan intoleransi adalah musuh kita bersama. Karena itu, keluarga dan sekolah harus  bersatu padu, bersinergi, terlibat aktif untuk melakukan tindakan mengantisipasi (preventif) siswa terpapar radikalisme dan intoleransi.  

Keluarga dan sekolah-sekolah harus membentengi anak-anak dan siswanya dari paham radikal. Rumah dan sekolah harus menjadi tempat-tempat yang menyenangkan, damai, dan penuh cinta kasih sehingga semaian keberagaman, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai luhur Pancasila, dan semangat kebangsaan (nasionalisme) tumbuh subur.

Melalui penguatan literasi media dan praktik pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur-integratif Pancasila ini diharapkan lahir generasi peradaban yang inklusif, pluralis, toleran, berbela rasa, berdisiplin, berkarakter, berohani, mempribadi, dan memahami serta menghargai perbedaan (keragaman) sebagai harta kekayaan negara-bangsa Indonesia yang tak ternilai. Semoga demikian!

*) Penulis,  Alumnus USD Yogya, Kepala  SMP /Guru SMA Asisi, Pontianak-Kalimantan Barat