Mengajar Bahasa Indonesia di Inggris

Mengajar Bahasa Indonesia di Inggris

  Selasa, 12 February 2019 10:20
Legina Lestari, M. Pd // Penerima Program BIPA

Berita Terkait

Legina Lestari amat mencintai Bahasa Indonesia. Dia ingin masyarakat negara lain juga mengetahui bahasa tersebut. Melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), perempuan yang akrab disapa Lesti ini mengajar dan memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat di luar negeri. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri 

Indonesia turut berperan dalam pergaulan antarbangsa di duni. Hal ini pun menempatkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang dipandang penting di dunia. Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri pada tahun 2012, Bahasa Indonesia memiliki penutur asli terbesar kelima di dunia, yakni sebanyak 4.463.950 orang yang tersebar di luar negeri.

Keberadaan Bahasa Indonesia yang dipandang penting di dunia ini menjadi faktor pendukung bagi pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Hingga akhirnya, dibentuklah program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

BIPA adalah program pembelajaraan keterampilan berbahasa Indonesia, mulai dari berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan bagi penutur asing. Selaim itu, program ini juga memfasilitasi lembaga-lembaga penyelenggara BIPA yang memerlukan dukungan dan bantuan berupa penyediaan tenaga pengajar dan bahas ajar.

Lesti pun tertarik melihat besarnya dukungan pemerintah Indonesia terhadap lembaga penyelanggara program Bahasa Indonesia di luar negeri (Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud). Dia pun ingin berkontribusi dan terjun langsung mengajarkan Bahasa Indonesia di negara lain. 

Dia pun mengikuti program yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud pada bulan Agustus 2016. Setelah dinyatakan lolos seleksi berkas, pada bulan September Lesti mengikuti tes lanjutan berupa materi ajar, surat izin dari lembaga, dan surat keterangan sehat.

Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Untan ini kembali mengikuti tes terakhir, yakni wawancara, psikotest, tes tertulis, dan micro teaching di Jakarta. Hingga akhirnya, Lesti dipanggil kembali ke Jakarta untuk mengikuti pembekalan pengajar BIPA untuk luar negeri pada tanggal 22 November hingga 1 Desember 2016 di Depok.

“Seharusnya di tahun 2017 saya berangkat dan mengikuti program BIPA. Sayangnya, saat itu saya berhalangan karena harus mengikuti kegiatan lain. Sehingga, saya baru dialokasikan mengajar program BIPA pada tahun 2018,” ujarnya. 

Saat mengikuti program BIPA tahun 2018, lulusan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Untan ini ditempatkan di Whitefield School an Academy, Inggris dan KBRI. Di sana Lesti mengajar Bahasa Indonesia dan budaya Indonesia, termasuk permainan tradisional. Usia peserta didiknya pun beragam. Di Whitefield School an Academy peserta didik tak hanya dari level 7 sampai 11.

“Saya juga mempersilahkan warga sekolah (guru atau staff) yang tertarik belajar Bahasa Indonesia bersama. Sedangkan, saat mengajar di KBRI saya mengajar masyarakat umum mulai dari usia 17 hingga 60 tahun,” tutur Lesti. 

Tak ada kesulitan signifikan yang dirasakan Tutor Bahasa Indonesia Bimbingan Belajar Intensif untuk STAN ini saat mengajar. Karena peserta didik memang memiliki niat untuk belajar Bahasa Indonesia. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang berniat ikut darmasiswa (beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk mahasiswa luar negeri yang akan mempelajari budaya Indonesia di Indonesia). 

“Ada yang Ingin bekerja di Indonesia dan memiliki pasangan dari Indonesia. Masih memiliki keturunan darah Indonesia, pernah liburan ke Indonesia, serta memang memiliki ketertarikan Belajar bahasa Indonesia,” jelas perempuan yang pernah terpilih sebagai Juara 3 Duta Lingkungan Hidup Eco-Region Kalimantan ini.

Lesti juga mendapat tantangan saat mengajar di sana. Karena pelajaran Bahasa Indonesia hanya berupa klub (di Whitefield School) ataupun kelas belajar (KBRI) bebas biaya dan tak terikat, para peserta jadi tak selalu hadir setiap jadwal. Sehingga, tak ada komitmen yang begitu besar dari peserta didik. Tak heran setiap Minggu perempuan kelahiran Pontianak, 23 Februari 1986 ini memiliki peserta didik baru.

“Namun, harus ekstra membagi waktu untuk mengajar peserta didik baru dari awal lagi,” jelasnya. 

Banyak pengalaman yang dimiliki perempuan yang pernah menjadi pembaca berita di TVRI Kalbar selama mengajar. Di sana ia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara karena di Whitefield School kebanyakan merupakan siswa imigran. Sehingga Lesti tak hanya berbagi tentang bahasa dan budaya Indonesia tetapi juga belajar budaya yang beraneka ragam.

“Baik itu budaya negara setempat maupun budaya dari siswa-siswi imigran yang datang ke Inggris,” tambah Lesti. 

Perempuan yang terpilih sebagai Duta Bahasa Kalimantan Barat 2008 ini juga mengisi acara (menari) di acara ulang tahun sebuah keluarga yang masih memiliki keturunan jauh orang Indonesia (buyutnya) di Inggris. Kemudian, mengisi acara Year End Bazaar yang diselenggarakan oleh KBRI di Inggris. 

Lesti juga hadir dan mengikuti berbagai kelas yang ada di KBRI. Misalnya, kelas wayang, kelas tari Jawa dan Bali, dan kelas musik gamelan. Selain itu, berbagai acara yang diselenggarakan KBRI seperti acara Indonesian Kontemporer di Universitas SOAS yang diselenggarakan pada tanggal 6 Oktober 2018.

Adapula acara Workshop on Sundanesw and Balinese Gamelan and Sundanese and Balinese Dance untuk acara reuni darmasiswa di KBRI Inggris pada tanggal 16 November 2018. Kegiatan Coffee Day 2018 pada tanggal 21 November 2018, pengajian bulanan di KBRI, Ikut serta menari dan Fashion show di acara Year End Bazaar 2018, dan berbagai diskusi yang diselenggarakan oleh KBRI. **

Berita Terkait