Mendesak Kantor Keimigrasian di Ketapang

Mendesak Kantor Keimigrasian di Ketapang

  Senin, 7 December 2015 09:24
LOKASI WHW: Komisi VII DPR RI saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke Kabupaten Ketapang untuk mengetahui progres pembangunan refinery alumina oleh PT Well Harvest Winning (WHW) Alumina Refinery (Harita Group), April lalu. WWW.HUMAS.KETAPANG.GO.ID

Berita Terkait

KETAPANG – Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Ketapang, Susilo Aheng, meminta kepada pemerintah agar segera membuka Kantor Keimigrasian di Ketapang. Pasalnya, diakui dia, tidak sedikit orang asing, khususnya dari Beijing, yang keluar masuk Ketapang sejak beberapa tahun terakhir.

Banyaknya orang asing yang keluar masuk ke kabupaten ini, menurut dia, dikarenakan adanya pembangunan pabrik pemurnian alumina, PT Well Harvest Winning (WHW) di Kecamatan Kendawangan. "Banyak sekali orang asing, khususnya orang Beijing yang keluar masuk Ketapang," kata Susilo, kemarin (6/12) di Ketapang.

Ia menjelaskan, hampir setiap hari orang asing keluar maupun masuk ke Ketapang. "Jumlahnya tidak bisa terhitung berapa? Karena hampir setiap hari keluar masuk. Oleh karena itu, keberadaan Kantor Imigrasi di Ketapang sudah sangat mendesak. Tujuannya untuk mendata keluar masuk orang asing di Ketapang," jelasnya.

Diungkapkan dia, orang-orang asing tersebut berkunjung ke PT WHW. Mereka, menurut dia, di antaranya ada yang hanya sekadar berkunjung atau untuk bekerja. Jika memang datang untuk bekerja, menurut Susilo, berkas ketenagakerjaannya harus lengkap. "Makanya untuk memastikan itu ilegal atau tidak, hanya Kantor Keimigrasian yang bisa mengeceknya," ungkapnya. Terlebih, diingatkan dia bagaimana beberapa waktu lalu ada buronan aparat kepolisian asal Beijing yang ditangkap di Ketapang. "Itu kan membuat malu Ketapang. Berbuatnya di luar Ketapang, tapi ditangkapnya di Ketapang. Jadi, seolah-olah Ketapang ini jadi tempat yang nyaman untuk keluar masuk orang asing," papar Susilo.

Belum lagi smelter yang berada di Desa Sungai Tengar, Kecamatan Kendawangan, menurut dia, dalam waktu dekat akan segera beroperasi. Dengan berdirinya smelter tersebut, dia yakin, akan lebih banyak lagi menyedot tenaga kerja asing. "Bisa ribuan orang asing yang keluar masuk jika pabrik itu sudah beroperasi," ujarnya.

Ia juga mengaku khawatir jika keberadaan orang asing tak terdata dan kemudian hari menimbulkan masalah di Ketapang. Di antaranya, disebutkan dia, jika meninggal dunia atau justru menetap di Ketapang. "Kalau mereka merasa nyaman dan menetap di Ketapang, itu menjadi permasalahan juga. Karena adat dan istiadat mereka berbeda. Itu akan memicu permasalahan di tengah masyarakat," gugah Susilo.

Oleh karena itu, ia mendesak kepada pihak terkait agar segera membuka Kantor Keimigrasian di Ketapang. "Kita hanya tidak ingin Ketapang ini jadi tempat keluar masuk orang asing yang tidak jelas apa tujuannya. Kalau mereka datang dalam rangka berwisata, mungkin itu akan berdampak pada bidang kepariwisataan. Tapi kalau datang untuk bekerja secara ilegal, itu jelas merugikan, baik pemerintah maupun masyarakat," katanya. "Oleh karena itu, segera buka Kantor Keimigrasian di Ketapang. Jangan biarkan jumlah orang asing semakin bertambah masuk ke Ketapang tanpa terdata, terlebih jika mereka datang secara ilegal," pungkasnya. (afi)
 

Berita Terkait