Mencoba Peruntungan

Mencoba Peruntungan

  Minggu, 23 June 2019 08:20
foto : Marco Giampaolo

Berita Terkait

Marco Giampaolo memiliki mimpi yang sangat sederhana dalam hidupnya. Dia hanya ingin bekerja dengan bahagia. Namun dua kata yakni ’’bekerja’’ dan ’’bahagia’’ sejatinya adalah entitas yang saling terikat. Seperti kata penyair besar Prancis Honore de Balzac, kebahagiaan hanya bisa lahir jika kita memiliki keteguhan hati serta keberanian dalam bekerja.

Satu hari setelah dia resmi ditunjuk sebagai pelatih baru AC Milan, Giampaolo mengatakan kepada surat kabar olahraga terbesar Italia La Gazzetta dello Sport bahwa ketika kebahagiaan tercerabut, maka masalah akan datang, dan sisi fun dalam melatih akan lenyap.

Ini adalah jenis pernyataan yang solid dan indikator yang kukuh bahwa Giampaolo akan mempertahankan karateristik yang dia percayai selama bertahun-tahun saat bekerja di manapun. Termasuk di klub barunya.

Giampaolo adalah jenis manusia yang tidak takut untuk menjalani kebahagiannnya. Meskipun untuk mencapai tujuan abstrak tersebut, dia pernah berada dalam turbulensi yang merusak diri sendiri.

Pada September 2003, pelatih legendaris Italia Fabio Capello mendapatkan 100 pertanyaan dari majalah kecantikan dan mode Marie Claire. Sebuah pembahasan menarik muncul pada nomor 34. ’’Siapakah dari semua pelatih yang ada di dunia ini yang layak menyandang gelar The New Capello’’?

Tanpa ragu, pria karismatik yang ketika itu menjadi manajer Tim Nasional Inggris tersebut menjawab bahwa yang paling mendekati dirinya hanyalah pelatih Siena bernama Marco Giampaolo.

Capello tidak menjelaskan alasannya karena pembahasan langsung berlanjut ke nomor 35. Jadi, jawaban singkat itu membuat banyak orang terperanjat. Giampaolo itu bukan siapa-siapa. Dia cuma pelatih kelas tiga yang pada tengah musim sebelumnya, dipecat Cagliari akibat menjebloskan tim Pulau Sardinia tersebut sebagai juru kunci Serie A.

Fakta yang lebih parah, saat melatih Ascoli, Giampaolo mendapatkan sanksi dua bulan dari Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) akibat ketahuan tidak punya lisensi kepelatihan layak pakai di Serie A.

Jadi, tidak hanya publik yang kaget dengan label The New Capello langsung dari mulut Capello tersebut. Giampaolo juga tidak habis pikir mengapa seorang pelatih legendaris pemilik sembilan gelar juara liga (belakangan dua dicabut) dan satu trofi Liga Champions, sampai kepikiran menyebut namanya.

Bukannya bangga, kepada jurnalis Football Italia Antonio Labbate, Giampaolo mengungkapkan kegusarannya. ’’Dibandingkan Capello, karir saya itu tertinggal seribu tahun cahaya,’’ katanya. ’’Prestasi Capello bagi saya bukan cuma sekadar mimpi, levelnya sudah seperti utopia. Saya sungguh tak mengerti,’’.

Dan hanya kurang dari dua bulan setelah Capello mengeluarkan komentar tersebut, Siena memecat Giampaolo.

Siena mendepak Giampaolo karena hasil sangat minor; cuma meraup lima poin dari 10 laga awal. Tetapi pemecatan tersebut terasa sangat pedih karena dua hal. Pertama, pada musim sebelumnya, Giampaolo berhasil mempertahankan Siena di Serie A dengan catatan rekor poin tertinggi dalam sejarah klub. Dan yang paling bikin jengkel Giampaolo, pemecatan itu membuat Juventus yang awalnya ingin merekrutnya, memutuskan menarik diri.

Sempat berlabuh di dua tim semenjana Catania dan Cesena, nama Giampaolo semakin rusak saat dia menjadi allenatore klub Serie B Brescia pada 2013. Ketika kalah 1-2 di kandang melawan Crotone, Giampaolo tiba-tiba saja menghilang.

Dia kesal karena jajaran manajemen Brescia memaksanya meminta maaf secara langsung kepada pentolan suporter. Dalam situasi yang panas karena rentetan hasil buruk di awal musim, Giampaolo mengajukan pengunduran diri. Manajemen menolak. Giampaolo desersi selama tiga hari. Dia mematikan telepon. Sama sekali tak bisa dihubungi.

Banyak yang kecewa dengan sikap itu. Sebab Brescia merupakan tim pertama yang memberi Giampaolo kesempatan setelah dua tahun terakhir namanya mulai dilupakan orang. Presiden Brescia ketika itu, mendiang Gino Corioni menaruh harapan sangat tinggi dan merasa Giampaolo akan meraih kesuksesan, menyamai capaian pelatih top Rumania, Mircea Lucescu.

Saat itu, publik bola Italia menganggap bahwa inilah akhir perjalanan karir Giampaolo. Namun, pelatih kelahiran Swiss tersebut tidak tunduk begitu saja kepada nasib. Setahun kemudian, dia memulai dari nol dengan menerima tawaran tim Serie C Cremonese. Walaupun gagal mengangkat tim tersebut promosi, klub Serie A Empoli datang mengulurkan tawaran. Empoli melihat Giampaolo memiliki potensi besar yang tersembunyi.

Bagi Giampaolo, ini adalah kesempatan kedua yang sangat sayang untuk disia-siakan. Selain kembali ke divisi teratas, Giampaolo akan melanjutkan kerja fenomenal Maurizio Sarri yang saat itu angkat kaki ke Napoli.

Pada 2014-2015, Sarri memang hanya mampu menempatkan Empoli ke posisi 15 klasemen akhir. Sepanjang musim dia sibuk bertarung menghindarkan timnya dari jaring degradasi. Namun, gaya bermain mereka sangat memikat. Cara pemain Empoli menguasai bola dan mengalirkan serangan ke depan benar-benar mempesona.

Saat Sarri dan banyak pemain penting pergi, banyak yang memprediksi klub kota kecil wilayah Tuscan itu akan terdegradasi. Namun, Giampaolo mematahkan pesimisme banyak orang dengan mengatrol Empoli ke posisi ke-10 klasemen akhir, peringkat tertinggi dalam sejarah klub.

Kunci keberhasilan Giampaolo adalah tetap mempertahankan cetak biru 4-3-1-2 peninggalan Sarri. Alih-alih secara egois memaksakan metodenya sendiri, Giampaolo tetap memakai garis pertahanan yang tinggi. Dengan demikian, jarak antara empat pemain belakang dan gelandang sangat pendek.

Giampalo memerintahkan dua pemain depannya konsisten menekan dan mengaduk-aduk jantung pertahanan musuh, lalu menciptakan ruang bagi para gelandang dan fullback untuk menusuk ke depan.

Di tangan Giampaolo, Empoli menempati posisi keenam dan ketujuh dalam akurasi umpan dan penguasaan bola di Serie A. Empoli juga mencatat 32 persen serangan dari tengah, terbanyak dari tim manapun di Italia. Massimo Maccarone adalah pemain yang paling menikmati sentuhan agresif Giampaolo. Berumur 36 tahun dan terabaikan, Maccarone masih bisa menggigit dengan mencetak 13 gol.

Pencapaian Empoli ini memunculkan desas-desus bahwa AC Milan tertarik memakai jasa Giampaolo. Namun, negosiasi tidak pernah berlangsung. Musim itu, AC Milan tetap memakai Cristian Brocchi. Presiden AC Milan Silvio Berlusconi menegaskan bahwa Brocchi adalah masa depan klub.

Namun nasib sang masa depan hanya berusia dua bulan karena Sang Presiden menggantinya dengan Vincenzo Montella. Sementara itu, Giampaolo meretas jalannya sendiri dengan pergi ke Sampdoria.

Dalam tiga musim terakhir, kalau diamati dari atas kertas, perjalanan Giampaolo memang tidak impresif. Sampdoria hanya dua kali berada di peringkat 10 dan sekali ada di posisi ke-9.

Namun dia berhasil membawa stabilitas pada Sampdoria. Hidup Giampaolo juga lebih mapan. Sebab, bertahan tiga musim merupakan periode terlamanya melatih sebuah klub.

Dalam urusan taktik, pola diamond 4-3-1-2 milik Giampaolo sangat menghibur meskipun tidak konsisten dalam hasil. Musim lalu, Sampdoria bisa menang melawan Juventus, Napoli, dan AC Milan. Namun pada hari yang lain, Il Doria malah keok di kandang sendiri melawan dua tim yang akhirnya terdegradasi, Frosinone dan Empoli.

Uniknya, sekali lagi, ada pemain tua yang berjodoh dengan Giampaolo. Musim lalu, Fabio Quagliarella yang berusia 36 tahun, berhasil mencetak 26 gol dan menjadi capocannoniere Serie A. Selain itu, dia sukses mengorbitkan pemain yang akhirnya disantap tim yang lebih besar. Sebut saja Lucas Torreira (Arsenal), Milan Skriniar (Inter Milan), atau Patrik Schick (AS Roma).

Giampaolo memang tidak pernah sekalipun juara. Dia bukan pelatih seterkenal Antonio Conte, Carlo Ancelotti, atau Sarri. Bahkan, pada masa lalu, tim-tim kecil dengan enteng mendepaknya. Selain memahat sejarah di Empoli, hal yang mungkin paling Giampaolo banggakan adalah pernah membawa Ascoli promosi ke Serie A pada musim debutnya sebagai pelatih.

Namun apapun itu, sekarang dia berada di Milan, tim yang pernah diantarkan Capello empat kali merajai Serie A dan sekali menjadi kampiun Eropa.

Soal strategi, Giampaolo mungkin akan tetap mempertahankan format favoritnya 4-3-2-1. Meskipun pendahulunya, Gennaro Gattuso, hampir selalu memakai 4-3-3 sepanjang musim 2018-2019.

Taktik Giampaolo memberi peluang kepada Krzysztof Piatek dan Patrick Cutrone untuk bermain bersama di depan. Sedangkan gelandang berbakat Brasil Lucas Paqueta, berdiri tepat berada di belakang dua penyerang.

Penunjukkan Giampaolo ini bisa saja berhasil. Bisa juga memperpanjang masa berkabung AC Milan yang sudah enam musim beruntun gagal menembus empat besar. Tetapi formula baru harus dicoba. Ini jauh lebih segar ketimbang terjebak romantisme basi dalam merek-merek seperti Brocchi, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, atau Filippo Inzaghi. (JP.Com/*)

Berita Terkait