Meminimalisir Aksi Bunuh Diri

Meminimalisir Aksi Bunuh Diri

  Rabu, 3 April 2019 09:38

Berita Terkait

Setiap orang pasti pernah memiliki masalah, termasuk remaja. Bisa persoalan keluarga, percintaan, hingga jadi korban perundungan. Jika tak menemukan solusi, akan semakin berlarut-larut. Akhirnya bunuh diri dianggap sebagai cara paling mudah untuk menyelesaikan persoalan. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia sempat dihebohkan dengan aksi bunuh diri yang dilakukan seorang remaja pria. Aksi nekat ini dipicu karena masalah percintaan. 

Tak lama berselang, adapula seorang siswi bangku sekolah menengah pertama yang memilih jalan mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Melihat dari isi surat wasiat yang ditulis dengan rapi, korban memilih bunuh diri lantaran kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. 

Pelaku bunuh diri beranggapan dengan mengakhiri hidup seluruh masalah yang dihadapi selesai dengan mudah. Psikolog Sarah, S.Psi, M.Psi mengatakan niat bunuh diri diawali dengan depresi. Depresi adalah suatu kondisi dimana seseorang merasa sudah tak menemukan jalan keluar untuk menghadapi masalahnya. 

Orang yang depresi cenderung murung, mudah sedih, dan sering merasa menyesal. Sarah menyatakan untuk melihat alasan terjadinya bunuh diri, harus memetakan permasalahan yang dihadapi pelaku bunuh diri. Misalnya, ia sedang menghadapi masalah keluarga, di mana kondisi rumah tangga orang tua tak berjalan harmonis. Ayah dan ibu tak bisa berperan dengan baik selayaknya orang tua pada umumnya, atau sang anak tak diterima di dalam keluarga.

Masalah asmara bisa dipicu karena persoalan hati. Bisa dikarenakan dirinya tak terima harus berpisah dengan sosok yang dicintai atau gagal move on dari mantan kekasih. Padahal, jika ditelusuri dengan akal sehat tentu ada sosok yang lebih baik dan sesuai dibandingkan mantannya. 

Berkenaan dengan perundungan (bullying), pelaku kerap jadi korban kekerasan. Kekerasan yang terus-menerus diterima membuat korban merasa tak ada jalan lain, selain mengakhiri semuanya. 

Misalnya, setiap membuka mata dan berada di lingkungan, ia selalu menerima kekerasan dari pelaku bullying. Karena tak sanggup, ia memutuskan bunuh diri. 

“Termasuk pula cyber bullying. Meski hanya kata-kata, tapi jika dibaca dengan sepenuh hati dan penuh penghayatan, harga diri bisa saja terluka. Ketika tak menemukan solusi tepat, bunuh diri dipilih sebagai jalan keluar,” ujarnya. 

Apakah pelaku dapat menilai dirinya sedang mengalami depresi? Pegawai di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalbar menuturkan orang yang sedang depresi terkadang tak merasa hal demikian. Ia beranggapan bahwa dirinya hanya merasa stres. Tanpa ia sadar bahwa yang dialaminya lebih dari stress. 

Ia tak mempunyai kekuatan untuk mengeluarkan daya juang dan menyakini bahwa masalah yang dihadapi tak harus dibagikan pada orang lain. Terkadang hal sederhana yang terpikir dan keluar dari bibirnya seperti ‘mati saja’. Kata ‘mati saja’ merupakan tanda awal bahwa dirinya sudah tak mampu menghadapi masalah.

Apakah semakin dicegah tingkat nyali pelaku semakin tinggi?  Menurut Sarah, hal ini bergantung faktor dan diri pelaku. Karena ketika akan melakukan aksi, ada pelaku yang benar-benar sudah niat dan ada yang masih sedikit ragu.

Jika ada yang bisa membujuk dengan kata-kata yang lebih menyenangkan, pelaku bisa berpikir kembali untuk melanjutkan aksinya. “Tetapi, jika tak mengetahui dialog membujuk yang tepat, bisa saja pelaku tetap nekat terjun,” ungkapnya. 

Sarah mengatakan saat sudah atau akan berada pada kondisi memiliki masalah atau terpuruk, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya, mencoba menghibur diri sendiri. Misalnya, meminta izin untuk menenangkan diri sembari mencari suasana baru.

“Cara ini mampu membangkitkan semangat. Karena semangat bisa didapat dari situasi baru atau bertemu dengan orang yang bisa menyemangati,” tambah Sarah. 

Sarah menambahkan orang yang depresi sangat membutuhkan kepedulian dari lingkungan. Baik dari orang tua, keluarga, teman, tetangga, dan lainnya. 

“Lingkungan harus peka jika ada orang terdekat mengalami perubahan, dimana ia mengalami kemunduran. Karena terkadang pelaku membutuhkan teman bicara. Sosok-sosok inilah yang bisa membantu meringankan masalah yang sedang dihadapi pelaku,” ungkapnya. **

Berita Terkait