Memenuhi Kebutuhan Gizi Anak Usia Sekolah, Tak Boleh Asal Kenyang

Memenuhi Kebutuhan Gizi Anak Usia Sekolah, Tak Boleh Asal Kenyang

  Jumat, 12 April 2019 09:07

Berita Terkait

Seiring bertambahnya usia, anak tidak hanya makan makanan rumah. Pada usia sekolah dasar, mereka punya pilihan makan. Bisa membawa bekal, membeli di kantin, atau penjaja makanan yang lain. Apa pun pilihannya, kebutuhan nutrisi anak harus dipenuhi.

Pada usia SD, usia 7–12 tahun, kebutuhan gizi tiap anak berbeda. Porsi makan antaranak tak sama. “Bergantung kepada tinggi dan berat badan anak, serta aktivitas mereka,’’ kata Hesti Agustina SGz. 

Meski demikian, dia menyatakan, Departemen Kesehatan membagi rata-rata kebutuhan kalori harian berdasar usia dan jenis kelamin. Ahli gizi RS Adi Husada Kapasari, Surabaya, tersebut menjelaskan, kebutuhan energi itu idealnya dipenuhi lewat lima kali makan. Tiga kali makan utama ditambah selingan pagi dan sore. 

“Pengaturannya sudah sesuai dengan pengosongan lambung anak, yakni 2–3 jam sekali,’’ papar Hesti.

Meski demikian, dia menegaskan, makanan yang dikonsumsi anak tidak boleh asal mengenyangkan. “Porsinya pas dan kandungan gizinya komplet. Sebab, apa yang dimakan anak akan menjadi ’bensin’ untuk beraktivitas,’’ tuturnya.

Karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan zat gizi yang lain, sambung Hesti, harus terpenuhi. Suplai 

air dan serat juga pas. Alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menganjurkan orang tua  menerapkan kebiasaan makan yang baik. Langkah pertama, membiasakan makan teratur. Dimulai dari sarapan. Hal itu ditegaskan dr Meta Hanindita SpA. Sebab, makan pagi merupakan waktu makan terpenting. 

“Sarapan penting untuk menambah gula darah sebagai sumber energi, terutama otak. Jadi, anak bisa

menerima pelajaran dengan baik,’’ urainya. 

Spesialis anak dari RSUD dr Soetomo, Surabaya, itu menambahkan, makan pagi bisa membantu

menghindari kalap makan. Meta menjelaskan, dalam tiap makan utama, harus ada sumber  karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta sayur atau buah. Porsinya pun tidak dibedakan pada makan pagi, siang, atau malam. 

“Porsi makan siang tidak perlu dikurangi karena tidak ada hubungannya dengan mengantuk,’’ ungkapnya.

Menurut Hesti, idealnya, porsi makan siang justru lebih banyak. Mencapai 30 persen, lebih tinggi ketimbang makan pagi atau malam, yang proporsinya 25 persen dari kebutuhan makan perhari.  Nutrisi dari makanan yang dikonsumsi menjadi ‘bahan bakar’ pertumbuhan anak. Meski begitu, makan saja tidak cukup. Meta menegaskan, tumbuh kembang perlu didukung aktivitas fisik.

Nah, aktivitas fisik dikategorikan cukup jika anak melakukan latihan fisik atau olahraga 30 menit perhari, 3–5 hari seminggu. 

“Tidak harus saklek olahraga. Bisa main petak umpet, gobak sodor, atau permainan yang  membutuhkan gerak,’’ imbuhnya.

Meta menjelaskan, pola makan yang baik bisa membantu anak terhindar dari malanutrisi. Baik kelebihan maupun kekurangan gizi. 

“Status  gizi ini tidak tecermin dari gemuk atau kurusnya anak,’’ tegasnya.

Meta menambahkan, status gizi bisa diketahui dari kurva pertumbuhan versi WHO atau CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, Red). Yang paling simpel, bisa digunakan rumus indeks massa tubuh (IMT). Rumusnya, berat badan (dalam kg) dibagi tinggi badan (dalam meter) kuadrat. (*/fam/c4/nda/JP)

Berita Terkait