MEMBUNUH JENUH

MEMBUNUH JENUH

  Sabtu, 21 November 2015 11:09   1

Oleh: Uray Jimmi Gufian Nalaprana, S.Pd

 

Setiap  manusia tentu saja wajar jika merasa jenuh. Jenuh dengan aktivitas sehari- harinya yang terkesan itu-itu melulu. Begitu juga dengan proses pembelajaran di sekolah. Baik guru maupun siswa tentu bisa saja mengidap penyakit "kejenuhan". Penyakit ini tentu saja sangat berdampak terhadap prestasi siswa, kinerja guru, dan akhirnya bermuara pada sisi kualitas sekolah tersebut. Penulis sebagai guru juga pernah menghadapi permasalahan ini. Sekali lagi, penulis tekankan ini hal yang wajar, lumrah. Akan tetapi, jangan mentang - mentang ini adalah hal yang wajar, malah kita selaku guru tidak mencoba mencari solusi untuk masalah ini.

Pertama yang mesti kita cermati dalam hal ini adalah ciri ciri kejenuhan itu sendiri. Kita mesti bisa menganalisa tingkah polah anak didik kita, hasil pencapaiannya, serta respons mereka terhadap stimulasi yang kita berikan dalam setiap proses pembelajaran. Mengutip dari artikel tulisan pena Nanik Dwi Aryanti (Perpustakaan UPI,2013), beliau menuliskan ciri ciri kelas yang mengalami gejala sindrom kejenuhan.Adalah sebagai berikut: 1. Seringnya siswa tidak mengerjakan tugas atau PR yang diberikan kepadanya. 2. Siswa lebih senang bermain- main dikelas saat materi disampaikan oleh guru. 3. Siswa sering mengantuk di kelas saat materi diberikan. 4. Siswa menunjukan prilaku tak betak duduk berlama lama di kelas, semisal sering ijin ke toilet, sering ijin sakit ke uks dan lain lain.

Nah jika kita, para guru, mendapati siswa-siswi kita melakukan salah satu ciri ciri diatas, maka artinya mereka sedang "demam Jenuh" . Dan kita tentu saja harus segera obati mereka. Jika tidak, dalam kurun waktu tertentu, demam jenuh ini akan segera menular dari satu siswa ke siswa lainnya mirip wabah penyakit dan yang tentu saja ujung- ujungnya pencapaian mereka tidak akan berbanding lurus dengan target yang telah kita rencanakan.

Lalu bagaimana caranya mengobati penyakit ini? Nah disini penulis memberikan beberapa tips untuk “membunuh Jenuh” tersebut, yaitu:  Beri mereka  pil "motivasi" setiap hari. Tentunya di setiap awal proses belajar mengajar. Karena mengingat motivasi ini sangat penting sekali dalam setiap kegiatan pembelajaran. Robbin dan Judge (2007) menegaskan bahwa motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.

Bisa dibayangkan jika siswa – siswi kita tak memiliki motivasi dalam belajar. Bisa dipastikan input yang kita berikan kepada mereka tak akan menghasilkan output apapun. Percuma saja kita ngotot mengajar namun nihil dalam memberikan mereka motivasi, iya kan?  Untuk memotivasi semangat belajar dan keingintahuan siswa, kita bisa mengimplementasikan energizer semacam icebreaker, team building activity, atau pun games kreatif yang hanya memakan waktu kurang lebih 5- 7 menit.          

Penulis menyarankan penggunaan icebreak dan games diawal proses pembelajaran karena icebreaker dapat membantu membuka “jalan” menuju proses belajar mengajar yang lebih menyenangkan dan membuka lebar pintu - pintu ide kreatif secara interaktif diantara para siswa.  Bisa dianalogikan semacam pemanasan sebelum melakukan olahraga inti. Icebreaker ini baik sekali digunakan untuk memulai setiap 8proses pembelajaran karena icebreaker ternyata juga dapat melunakan stress dan membuat siswa menjadi lebih rileks. Sebab dalam icebreaker kadang-kadang hadir suasana yang fun, konyol, menyenangkan dan kadang membuat penasaran. Tentu saja hal ini menarik minat siswa untuk lebih banyak terlibat dalam setiap kegiatan belajar ( Di kutip dari The Jet Programme, 2013)

Variasikan media ajar dan metode mengajar. Mungkin tanpa kita sadari ternyata yang membuat siswa kita menjadi jenuh adalah media dan metode ajar yang kita pakai sudah sangat usang dan  monoton alias tidak “up to date”. Ikuti perkembangan modernitas dan trend di kalangan siswa saat ini akan lebih membuat anak bergairah dalam menerima pembelajaran. Ambil sumber- sumber belajar dari google ataupun you tube. Disana banyak sekali materi- materi up to date yang bisa kita jadikan sarana media ajar kita. Yang tentu saja materi tersebut mengena dengan trend yang sedang terjadi didalam kehidupan sehari-hari di jaman kekinian.  Kemudian variasikan metode mengajar kita. Ada banyak metode mengajar, sehingga kita bisa memvariasikannya. Misalnya: ceramah, diskusi kelompok, presentasi, debat, project, diskusi panel,flash cards dan banyak lagi. Jadi setiap hari tak hanya menggunakan satu metode saja. Misalkan metode ceramah, ceramah, dan ceramah saban hari. Sudah tentu hal ini sangat membosankan. Kita saja para guru yang sudah berumur ini, jika mengikuti sebuah bimtek yang pematerinya hanya bermodalkan kemampuan ceramah, pastinya akan merasa bosan mengikuti bimtek tersebut.

Di jaman serba internet seperti sekarang ini sangatlah mudah untuk mencari ide- ide tentang tehnik mengajar yang aktif dan kreatif, dan tentu saja sebagai guru kita tak boleh gagap teknologi apalagi anti tehnologi terbaru, itu syarat utamanya. Pahami Typical siswa kita yang unik tersebut. Dalam hal ini perluas pengetahuan kita mengenai teori pedagogi dan psikologi. Setiap guru sudah seharusnya menguasai ilmu ini.. Ini penting, karena melalui ilmu ini kita bisa memahami karakter setiap siswa yang kita hadapi sehari-hari. Melalui ilmu ini pula kita bisa menemukan solusi atas permasalahan yang kita temui sehari-harinya.  

Menurut Florence Littauer ( Buku personality Plus, 1992), sesungguhnya tiap individu manusia merupakan campuran dari empat watak dasar kepribadian. Yaitu: Kepribadian Sanguinis Populer, Kepribadian Melankolis Sempurna, Kepribadian Koleris Kuat dan Kepribadian Phlegmatis Damai. Tiap-tiap kepribadian ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing. Misalnya, kepribadian Sanguinis itu cenderung suka humor, ingatannya kuat terhadap warna, emosional dan demosntratif, lugu dan polos, berhati tulus. Sedangkan kepribadian melankolis sempurna cenderung analitis, serius dan tekun, filosofis dan puitis and idealis. Sementara koleris kuat cenderung berbakat sebagai pemimpin, dinamis dan aktif, berkemauan keras dan tidak mudah patah semangat. Lalu yang terakhir kepribadian phlegmatic damai cenderung rendah hati, diam, tenang, sabar, tenang dan bisa menyembunyikan emosi.

Itu tadi baru sebagian ciri khusus tiap kepribadian menurut buku personality plus. Nah kita sebagai pendidik setidaknya memahami teori ini agar mempermudah kita mengenal kepribadian siswa-siswi kita sehingga ini bisa memudahkan kita dalam memberikan treatment terhadap masing- masing siswa kita yang unik tesebut.

Selain itu, perlu juga kiranya kita memahami teori modalitas yang pernah dikemukakan oleh Bobbi De Poter & Mike Hernack (buku Quantum Learning),  menurut mereka secara umum gaya belajar manusia dibedakan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial dan gaya belajar kinestetik.  Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, mengamati, memandang, dan sejenisnya. Kekuatan gaya belajar ini terletak pada indera penglihatan. Bagi orang yang memiliki gaya ini, mata adalah alat yang paling peka untuk menangkap setiap gejala atau stimulus (rangsangan) belajar. Orang dengan gaya belajar visual senang mengikuti ilustrasi, membaca instruksi, mengamati gambar-gambar, meninjau kejadian secara langsung, dan sebagainya.

Selanjutnya adalah Gaya belajar auditorial yaitu gaya belajar dengan cara mendengar. Orang dengan gaya belajar ini, lebih dominan dalam menggunakan indera pendengaran untuk melakukan aktivitas belajar. Dengan kata lain, ia mudah belajar, mudah menangkap stimulus atau rangsangan apabila melalui alat indera pendengaran (telinga). Orang dengan gaya belajar auditorial memiliki kekuatan pada kemampuannya untuk mendengar.

Dan yang terakhir adalah Gaya belajar kinestetik yaitu gaya belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Maksudnya ialah belajar dengan mengutamakan indera perasa dan gerakan-gerakan fisik. Orang dengan gaya belajar ini lebih mudah menangkap pelajaran apabila ia bergerak, meraba, atau mengambil tindakan. Misalnya, ia baru memahami makna halus apabila indera perasanya telah merasakan benda yang halus. Individu yang bertipe ini, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan, dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara atau penglihatan.

Demikianlah tips “ membunuh Jenuh” ini, semoga bisa bermanfaat bagi para guru dan pendidik semuanya dalam memberantas kejenuhan di kelas. Mari kita bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa ini dengan merevolusi mental mengajar kita menuju kearah yang lebih baik. Ayo Kerja!. *) Guru SMPN 7 Nanga Biang, Sanggau