Membendung Mr Perfect

Membendung Mr Perfect

  Minggu, 2 Oktober 2016 10:39

Berita Terkait

LONDON – Mauricio Pochettino masih ingat pengalaman tujuh tahun silam. Ketika itu, Pochettino baru sebulan menahkodai Espanyol. Sebagai “anak baru” di La Liga, mampu memenangi derby Catalan melawan Barcelona di Camp Nou – homeground Barcelona – menjadi momen yang tidak terlupakan. 

Ya, Pochettino memimpin Espanyol memutus rekor tidak terkalahkan El Barca di 22 pertandingan La Liga pada musim 2008-2009. Bukan hanya itu. Kemenangan ketika itu juga memutus tren selalu menang Barcelona dalam derby Catalan melawan Espanyol yang bertahan selama 27 tahun. Itu terjadi pada jornada ke-24, 21 Februari 2009. 

Dan, sosok di balik Barcelona saat itu adalah Josep Guardiola. Sosok itulah yang kembali dihadapi pelatih berkebangsaan Argentina tersebut malam nanti WIB. Tidak lagi Espanyol dan Barcelona. Melainkan antara Tottenham Hotspur dan Manchester City di White Hart Lane. 

Nah, kali ini mampukah Pochettino mengulangi pencapaiannya dengan Espanyol ketika itu untuk menandai reuni tujuh tahunnya melawan Guardiola? ''Seperti yang saya katakan pada pemain saya ketika itu (pemain Espanyol), tidak ada yang tidak mungkin. Begitu juga dengan besok (malam nanti),'' kata Pochettino sebagaimana dilansir ESPN. 

Kebetulan, kondisi Guardiola saat datang ke London malam nanti juga tidak jauh berbeda seperti tujuh tahun silam. Guardiola membawa status sebagai Mr Perfect setelah mampu membawa The Citizens – julukan City – selalu memenangi enam pekan Premier League musim ini. 

Tidak hanya membawa City mengokohkan posisinya di puncak klasemen, victory di kandang Spurs bakal menjadikan Guardiola sebagai pelatih anyar paling sempurna di awal musim. Guardiola bakal melewati rekor enam kali menang Carlo Ancelotti di awal musim 2009-2010 bersama Chelsea.

Hanya, Pochettino tidak mau terjebak dalam romansa itu. Karena, dia yakin City yang dihadapinya saat ini tidak seperti Barca-nya Guardiola tujuh tahun silam. ''Karena, sepak bola itu tentang saat ini, dan masa depan. Bukan masa lalu. Bagi saya, terpenting saat bertemu lagi dengannya adalah bermain bagus, tunjukkanlah kualitas terbaik kami, lalu dapatkan tiga angka. Dan, tentunya ucapkan hello kepadanya (Guardiola),'' ungkap pelatih yang melatih Spurs tiga musim terakhir itu.

Seperti kata Pochettino, tidak ada yang tidak mungkin. Peluang Pochettino untuk kembali mengganjal rekor sempurna Guardiola masih terbuka. Ingat, musim lalu skuad yang berjuluk The Lilywhites itu mampu menaklukkan City back to back. Di London 4-1, lalu di Manchester 2-1.

Lagipula, Pochettino hingga pekan keenam Premier League ini juga masih belum sekalipun tersentuh kekalahan. Meski tidak selalu menang. Spurs mengawali musim ini dengan empat kemenangan dan dua kali imbang. Di atas kertas, yang perlu dipersiapkan Pochettino adalah menguati defense-nya. 

Pasalnya, Hugo Lloris dkk untuk sementara ini menjadi klub dengan pertahanan terbaik di Premier League. Dari enam laga, defense Spurs yang dikomandani oleh Jan Vertonghen baru kebobolan tiga gol. Bahkan, ketika bermain di kandang sendiri hanya satu gol yang mampu menjebol gawang Spurs.

Kebetulan, malam nanti tidak ada perubahan dalam back four Spurs. Masalahnya, City klub paling superior dalam menyerang di Premier League. Baru enam laga, pemain City sudah mencetak 18 gol. Porsinya pun tidak jauh berbeda antara laga home atau laga away-nya. Sembilan gol di laga home, sembilan gol di laga away. 

''Ini bukan laga terpenting untuk membuktikan sesuatu. Kami pun bukan tim yang terbaik dalam pertahanan. Tetapi, laga itu penting untuk mereduksi gap poin dengan City (untuk sementara terbentang empat angka). Ini laga yang sangat penting,'' lanjut nahkoda yang baru mencatatkan 51,3 persentase menangnya untuk Spurs itu. 

Satu-satunya masalah Spurs ada di lini depan. Itu terkait dengan absennya bomber Harry Kane. Top skor Premier League musim lalu itu mengalami cedera ligamen engkel, dan harus absen sampai bulan depan. Spurs tinggal berharap Vincent Janssen bisa bebas dari paceklik golnya. 

Dengan formasi 4-2-3-1, Janssen akan didukung Christian Eriksen, Erik Lamela, dan Son Heung-min. Nama yang terakhir disebut selalu mencetak gol di dalam dua laga terakhir Spurs. Dari dua laga, Son mencetak tiga gol. Berbeda dengan Spurs yang masih mencari solusi tetap agresif tanpa Kane, City makin doyan mencetak gol. 

Meski rekor selalu menangnya di segala ajang sudah terputus ketika ditahan oleh Glasgow Celtic dalam matchday kedua Grup C Liga Champions (29/9), City tetap dapat mencetak tiga gol ke gawang lawan. Dilansir Manchester Evening News, Guardiola pun penasaran dengan kekuatan defense Spurs. 

Dengan tetap mengandalkan formasi 4-1-4-1-nya, Aguero bakal menjadi momok bagi pertahanan Spurs. ''Karena saya selalu yakin, pertahanan terbaik itu adalah dengan menyerang,'' klaim pria yang semasa aktif bermain menempati posisi sebagai gelandnag bertahan itu.

Bedanya, City kembali bermain tanpa Kevin de Bruyne. Pemain yang dijuluki The Ginger Pele itu cedera hamstring. Melawan Celtic lalu, Guardiola mencoba memainkan Ilkay Guendogan. Dalam laga tersebut, Guendogan menyumbangkan empat key passes, 87 sentuhan dan 92,2 persen akurasi passing-nya. 

Menanggapi perbedaan antara defense-nya dengan Spurs, Guardiola tidak peduli dengan klubnya yang baru sekali mencatatkan cleansheet. Tidak seperti Spurs yang bisa melakukan tiga kali cleansheet dari enam laga Premier League. Bagi Guardiola, paling penting adalah bagaimana timnya memperbanyak peluang gol. 

Rata-rata, City mencatatkan peluang gol di atas 20 kali untuk tiap pertandingan di musim ini. Baik itu di Premier League, Piala Liga, ataupun di Liga Champions. ''Kalau saya boleh memilih, saya ingin punya tim dengan banyak peluang. Meskipun, tidak bisa saya pungkiri kami masih berupaya untuk memperkuat defense kami musim ini,'' tegas Guardiola. (ren)

Berita Terkait