Membedakan Alergi dan Maldigestif pada Anak

Membedakan Alergi dan Maldigestif pada Anak

  Jumat, 26 April 2019 10:35
Si kecil bentol-bentol setelah mengonsumsi makanan tertentu. Misalnya, kacang. Namun, reaksi itu tidak muncul ketika dia mengonsumsi makanan lain yang juga mengandung kacang. Belum tentu dia alergi. Bisa jadi, ada gangguan lain.

Berita Terkait

Bingung. Itulah yang dirasakan Asther Dwi Ananda ketika buah hatinya, Muthi yang saat itu berusia setahun batuk tak kunjung sembuh. Sang anak tak mengalami demam. Namun, sempat mengalami sesak pada bagian pernapasan. 

Akhirnya pegawai negeri di salah satu Puskesmas Pontianak Timur ini pun membawa anaknya ke dokter spesialis. Setelah diperiksa dan berkonsultasi, buah hatinya dinyatakan alergi pada susu sapi yang selama ini dikonsumsi. Sejak saat itu,  dia lebih selektif saat akan memberikan sang buah hati susu sapi. Dia tak ingin kejadian alergi ini terulang kembali. 

“Alhamdulillah, sekarang alergi itu tak dialami lagi,” ujar Asther dan saat ini Muthi berusia enam tahun.

Berbeda halnya dengan Ayu. Sejak kecil, ia tak pernah mengalami alergi makanan apapun. Namun, ketika beranjak remaja, tubuhnya sering mengalami bentol-bentol seperti alergi. Ini terjadi saat perubahan cuaca.

“Misalnya, tiga hari cuaca panas terik. Namun, kemudian tiba-tiba hujan deras. Biasanya bentol-bentol,” jelas Ayu.

Begitu pula ketika ia banyak beraktivitas dan keletihan, tubuhnya juga muncul bentol besar-besar dan disertai demam. Ternyata berdasarkan keterangan dokter, kondisi tubuh ayu berhubungan dengan imunitas tubuhnya.

Medical advisor Komunitas Autoimun Indonesia dr Novi Arifiani MKK Dipl ABRAAM mengatakan kondisi semacam itu dikenal dengan sebutan maldigestif. Tanda-tanda klinisnya memang mirip dengan alergi makanan. Tetapi, penyebab dan penanganannya berbeda. Jika salah penanganan, anak rawan mengalami malanutrisi. 

Dia menjelaskan, risiko malanutrisi terutama bisa terjadi pada anak-anak yang sejatinya mengalami maldigestif. Perbedaan mendasar terdapat pada reaksinya. Dalam kondisi alergi, reaksi bersifat konsisten terhadap makanan tertentu. Sedangkan reaksi maldigestif tidak menentu.

Faktor yang memengaruhi cukup kompleks. Misalnya, siklus hormonal, cuaca, atau gaya hidup yang kurang sehat. Orang tua yang mengira anaknya mengalami alergi cenderung menghindarkan buah hati dari makanan tertentu. Padahal, jika maldigestif, sejatinya si anak masih bisa menerima dan membutuhkan gizi dari makanan tersebut. 

“Dalam beberapa kasus, si anak sudah masuk tahap malanutrisi ketika orang tua berkonsultasi karena mengira anaknya alergi makanan,” terang Novi.

Ada kemungkinan alergi dan gangguan maldigestif pada anak merupakan turunan. Namun, persentasenya hanya 20 persen. Ketika anak mengalami alergi, Novi menyarankan orang tua betul-betul menghindarkan buah hati dari makanan tersebut. Atau, pada kondisi tertentu bisa dilakukan metode reinduksi. Yakni, makanan diberikan dalam porsi sedikit-sedikit dan ditambah secara

bertahap. Tentu cara itu dila kukan dengan pengawasan dokter. Sedangkan pada kondisi maldigestif, makanan itu tidak perlu dihindari. 

“Tetapi, dicari penyebab makanannya tidak bisa dicerna dengan baik,” terang Novi. Bisa saja penyebabnya adalah peradangan atau inflamasi di bagian tubuh tertentu. Misalnya, lambung. Jadi, reaksi akan berbeda-beda, tidak seperti alergi yang sudah pasti menyasar satu organ tertentu.

Kondisi maldigestif pada bayi bisa dikenali lewat bahasa tubuh. 

“Misal, anak lebih senang tengkurap. Kalau ditelentangkan, akan rewel. Itu tanda-tanda ada masalah di perutnya,” jelas Novi. 

Tanda-tanda lain, lanjut dia, bayi kerap gumoh. Juga, jika bayi buang angin, baunya seperti telur busuk atau fermentasi tape. Orang tua juga disarankan untuk membikin food diary buat anak-anak yang mungkin mengalami alergi makanan atau maldigestif. Yakni, mencatat jenis makanan dan reaksi yang timbul atau yang dirasakan anak setelah makan. 

“Kalau ada yang bermasalah, tinggal buka food diary dan lihat apakah ada pola berulang,” terang dia.

Anak dengan kondisi maldigestif masih bisa menerima makanan yang dianggap bermasalah tersebut. Caranya, bahan itu bisa diolah menjadi makanan lain. Misalnya, telur. Bukan dimakan bulat-bulat, telur bisa diolah menjadi kue. “Karena struktur proteinnya berubah,” jelas dia. 

Selain jenis olahan, asal muasal bahan makanan juga berpengaruh. Con toh nya daging dan sayuran. Bahan makanan yang dipro duksi di luar negeri dan dalam negeri memiliki kandungan zat yang  berbeda. Karena itu, tidak heran, ada anak yang tidak bisa minum susu sapi impor tapi bisa minum susu sapi lokal. 

“Untuk pasien alergi dan maldigestif, biasanya dokter menyarankan konsumsi makanan lokal saja karena sesuai dengan kebutuhan tubuh,” terang Novi.

Dengan food diary, lanjut Novi, orang tua juga bisa tetap memenuhi kebutuhan gizi anak yang mengalami alergi atau maldigestif. Makanan diupayakan bervariasi. Sebab, tidak ada satu jenis makanan saja yang bisa memenu hi kebutuhan gizi anak. (ghe/deb/c11/nor/JP)

Berita Terkait