Membangun Karir Generasi Milenial

Membangun Karir Generasi Milenial

  Senin, 10 September 2018 10:21

Berita Terkait

Generasi milenial seringkali dicap sebagai generasi serba instan, pemalas, dan narsis. Ketika berada di dalam suatu perusahaan, generasi baby boomers dan X akan kesulitan menjalin kerja sama yang baik. Tak jarang terjadi pergesekan diantara ketiganya. Namun, harus disadari di era perkembangan teknologi saat ini, generasi milenial justru menjadi kelompok terbesar dalam golongan pekerja. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Teknologi yang semakin berkembang sukses menciptakan generasi yang dapat memanfaatkan teknologi dengan baik. Tak hanya sekadar untuk media berkomunikasi, generasi yang dikenal dengan sebutan milenial ini juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mencari pekerjaan, membangun karir, dan merintis usaha.

Generasi milenial memang dikenal memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mulai dari sifat kreatif yang mempuni, lebih kritis, dan mudah untuk memberikan pendapat. Hubungan (connected) sangat erat dengan teknologi tanpa ada batasan jarak dan waktu. Hal inilah yang membuat generasi ini mendapat informasi dengan cepat. 

Generasi milenial juga dikenal akan sifat multitasking karena dapat mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Sayang, potensi dan kelebihan ini terkadang juga dibarengi dengan perilaku negatif, seperti cepat bosan dan tak mudah mendapatkan masukan dari orang lain. Hal ini dapat dilihat dari cara generasi milenial mempertahankan pribadinya. 

Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi mengatakan generasi milenial juga dikenal kurang memiliki komitmen dalam bekerja. Membuat generasi milenial tergolong cepat bosan dan mudah berpindah pekerjaan, atau dikenal dengan sebutan kutu loncat. Terkadang perilaku kutu loncat inilah yang menyebabkan generasi milenial mudah mengalami stres jika bekerja tak sesuai minat. 

“Ketika stres ia merasa tak memiliki harapan (hopeless) dan mempertanyakan apa yang akan dilakukan. Padahal generasi milenial masih bisa memanfaatkan usia produktif yang dimiliki,” ujarnya.

Stres yang dialami generasi milenial sangat wajar terjadi. Karena stress tak hanya disebabkan dari rasa tak nyaman mengerjakan suatu bidang, tapi juga faktor lainnya. Untuk menghindari stress ada baiknya mencoba untuk berlibur dan keluar sejenak dari rutinitas pekerjaan. Apabila memiliki konflik dengan rekan kerja yang bukan dari generasi milenial, sebaiknya diselesaikan segera. 

Pemilik Biro Psikologi Gaverta ini menuturkan agar tak stres saat berkecimpung di dunia kerja, generasi milenial harus mengenali sifat dirinya, bakat, dan kemampuan yang dimiliki, serta minat terhadap sesuatu. Hasil pengenalan sifat, bakat, dan minat ini akan membantu generasi milenial bertahan pada pekerjaannya. 

Psikolog di SMA Kristen Immanuel ini mengatakan banyak tes yang dapat digunakan, baik tes formal (psikotes) dan tes informal (online). Tes ini dapat membantu generasi milenial mengetahui jenis pekerjaan yang sesuai. Verty menyatakan kebanyakan stress dialami karena generasi milenial tak bias beradaptasi dengan dunia pekerjaan yang sedang digeluti.

Generasi milenial juga bisa meminta bantuan dari mentor yang berkompenten. Misalnya, mencari mentor (influencer) yang bisa dijadikan contoh. Tak ada salahnya mengikuti kegiatan hariannya melalui media sosial. Bila perlu coba untuk mengajaknya komunikasi. Dengan begitu, generasi milenial dapat mengambil pembelajaran secara langsung dan semakin termotivasi. 

Ketika bisa menemukan pekerjaan terbaik cobalah untuk bertahan dan tak mudah melakukan perpindahan pekerjaan. Terlalu sering pindah bekerja akan memengaruhi psikologis dan kehidupan orang tersebut. Apalagi, harus memulai dan beradaptasi dari awal lagi. “Idealnya saat menginjak usia 40 tahun orang yang bekerja harus sudah mapan,” ujar Verty.**

Berita Terkait