Membandingkan Tugu Khatulistiwa Pontianak dan Ekuador

Membandingkan Tugu Khatulistiwa Pontianak dan Ekuador

  Jumat, 23 March 2018 11:00
KHATULISTIWA: Michael Jeno saat berada di taman Mitad del Mundo, Quito dimana tugu ekuator di negara tersebut terletak. Taman ini dikunjung 600 ribu turis asing saban tahunnya. IST

Setahun Dikunjungi 600 Ribu Wisman

Kota Pontianak bukan satu-satunya kota di dunia yang dilintasi garis khatulistiwa, tepat di tengah kota. Kota lain yang punya anugerah serupa adalah Quito, ibukota Ekuador, Amerika Selatan. Negara ini juga menjadikan monumen khatulistiwa dan titik kulminasi sebagai daya tarik pariwisatanya. Anggota DPR RI asal Kalimantan Barat, Michael Jeno menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke taman Mitad del Mundo, Quito dimana tugu ekuator di negara tersebut terletak.

=========

MENURUT dia, Tugu Khatulistiwa di Pontianak menang banyak ketimbang di Quito. “Di sana ternyata garis khatulistiwanya tidak tepat di kawasan taman itu, dan melenceng jauh agak ke hutan. Jadi tugu mereka hanya simbol saja. Walaupun Quito satu-satunya ibukota negara yang dilintasi garis ekuator, tetapi posisi tugu dan tamannya melenceng,” jelas dia.

Dia menjelaskan, jika diukur dari permukaan laut, Quito berada di ketinggian 2.850 m. Lokasinya tersebut menjadikan Quito sebagai ibukota negara tertinggi di dunia. Lokasi Quito yang ada di ketinggian tidak lepas dari fakta bahwa Quito terletak di barisan Pegunungan Andes. Posisi taman tersebut, kata dia, juga jauh dari pusat kota dan dikelilingi bukit batu. Sementara tugu ekuatornya terbuat dari batu yang disusun hingga tinggi. “Karena di perbukitan, di sana lebih adem saja,” ujarnya.

Dia menilai, Tugu Khatulistiwa Pontianak punya nilai jual yang lebih. Pasalnya Tugu Khatulistiwa terletak di pinggiran Sungai Kapuas, yang eksotik. Selain itu Tugu Khatulistiwa dekat dengan keramaian penduduk sehingga memudahkan wisatawan untuk berbelanja dan akomodasi lainnya. “Apalagi kalau dibikinkan kapal wisata yang rutin menyebrang dari Taman Alun Kapuas ke Tugu Khatulistwa,” imbuh dia.

Secara penataan, taman di Quito juga tidak terlalu menarik. Hanya ada padang rumput yang lapang dengan sedikit hiasan bunga. Selain tentu saja ada garis putih di tengah bundaran yang mengelilingi tugu, sebagai penanda belahan bumi utara dan selatan. “Kita tentunya bisa lebih menarik tentunya. Apalagi kalau penataan diperbaiki dan taman diperluas. Beri juga tempat toko-toko souvernir khas Kalbar di sana,” sebut Jeno.

Bila secara potensi nilai jual Pontianak tidak kalah, namun fakta di lapangan berbeda. Jeno mengatakan, rata-rata kunjungan turis asing ke taman ekuator di Quito mencapai 600 ribu orang per tahun. Sementara di Tugu Khatulistiwa Pontianak tidak jelas terdata berapa orang. Bahkan kalau dibandingkan dengan angka wisman ke Provinsi Kalbar saja, sudah kalah jauh. Tahun lalu, jumlah wisman yang datang ke Kalbar baru mencapai 50.000 orang. Bandingkan dengan angka wisman yang berkunjung ke Taman Mitad del Mundo, Quito.

Menurutnya, sudah saatnya Kalbar, termasuk Pontianak menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan baru. Terlebih saat ini ekonomi dunia sedang lesu, sehingga membuat harga komoditas alam dari Kalbar anjlok. Berdasarkan fakta yang ada, pariwisata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap ekonomi masyarakat setempat. Industri pariwisata memiliki multiplier effect paling besar dan inklusif dibanding sektor ekonomi lain. Pariwisata membuka lapangan pekerjaan yang baru untuk masyarakat lokal. Industri perhotelan, kuliner, kerajinan tangan, transportasi, pertanian dan sektor lainnya menjadi lebih berkembang bila sebuah daerah menjadi tujuan wisata.

 Pariwisata juga lebih imun terhadap krisis global. “Harus ada alternatif lain. Pariwisata bisa kita bangun dan pasarkan. Kalbar punya alam indah dan kebudayaan yang kaya serta unik. Apalagi pariwisata terbukti sangat tahan terhadap gejolak ekonomi global. Dimana Bali dan Jogja tetap kuat ekonominya,” pungkasnya. (ars)