Melihat Ritual Naik Dango di Menjalin

Melihat Ritual Naik Dango di Menjalin

  Selasa, 29 May 2018 10:00
UCAP SYUKUR: Seni teri suku Dayak menandakan dibukanya tangkaian kegiatan Naik Dango ke-13 tingkat Kecamatan Menjalin, Senin (28/5) lalu. foto MIFTAHUL/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Ucapan Syukur karena Panen yang Melimpah

Bukan sekadar pesta. Naik Dango adalah ritual budaya yang selalu dilakukan oleh masyarakat adat Dayak saat memanen hasil pertanian dan perkebunan. Hasil panen melimpah, selayaknya bersyukur kepada pencipta. Naik Dango menjadi sarana rasa syukur atas anugerah Jubata, Tuhan YME.

Miftahul Khair, Menjalin

RATUSAN masyarakat yang memadati rumah adat dayak Kecamatan Menjalin untuk menghadiri dan mengikuti rangkaian kegiatan Naik Dango ke-13 Kecamatan Menjalin pada, Senin (28/5). Naik Dango adalah ritual budaya yang selalu dilakukan oleh masyarakat Adat Dayak saat mereka memanen hasil pertanian dan perkebunan. Saat hasil panen mereka dapatkan, Naik Dango menjadi ritual ucapan syukur masyarakat adat dayak kepada Jubata Tuhan YME.

Pesta besar yang diungkapkan dalam proses Pesta Naik Dango dengan menyimpan beras di dalam lubung besar ini dimeriahkan dengan ragam ekspresi seni dari Suku Dayak. Pesta panen dibuka dengan tarian suku Dayak di pelataran rumah adat. Sebelum prosesi ritual adat dimulai. 

Hari sebelumnya, yakni pada Minggu (27/5) digelar pawai Karnaval Naik Dango. Pawai tersebut diikuti oleh ratusan remaja dan anak-anak dengan menggunan pakaian khas adat dayak, dengan diiringi musik dari kelompok drumband SMA Negeri 1 Menjalin. Mereka berjalan kaki dalam pembukaan acara Naik Dango yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 27 Mei 2018 hingga 30 Mei 2018.

Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Cornelis yang turut menghadiri acara tersebut mengatakan bahwa masyarakat Dayak yang mau bertani padi, secara tidak langsung telah membantu Pemerintah Daerah dalam menanggulangi krisis pangan. 

Oleh sebab itu, kata dia, setiap tanah atau lahan yang kosong, masyarakat Dayak Kanayan wajib menanamnya dengan tanaman yang menghasilkan, terutama padi.

“Gawai ini selain mengucap syukur kepada Tuhan juga membahas mengenai negara. Jadi kita walau berbeda suku tetapi satu Indonesia,” katanya. (*)

Berita Terkait