Melihat Gawai Dayak Forum Ketemenggungan

Melihat Gawai Dayak Forum Ketemenggungan

  Kamis, 26 July 2018 10:00
GAWAI: Forum Ketemenggungan Kapuas Hulu saat menggelar gawai Dayak yang dibuka Asisten I Pemprov Kalbar, Alexander Rambonang. MUSTAAN/PONTIANAKPOST

Bukan Hura-hura, Jaga Seni Budaya Leluhur

DAD Kapuas Hulu sepenuhnya mendukung Gawai Dayak dari Forum Ketemenggungan. Bahkan, sudah diterbitkan surat, bahwa forum Ketemenggungan mendapat bansos dengan kegiatan Gawai Dayak Forum Ketemenggungan Dayak Kapuas Hulu. 

Musta’an, Putussibau

GAWAI Dayak yang diadakan Forum Ketemenggungan Kapuas Hulu resmi dibuka Asisten I Pemprov Kalbar, Alexander Rambonang, Selasa (24/7). Pembukaan berlangsung meriah, dengan nuansa adat budaya multi etnis.

Ketua Panitia Kegiatan, Fabianus Kasim menuturkan, gawai dayak adalah wujud syukur kepada Allah, serta doa untuk memohon berkat. 

"Gawai dayak Kapuas Hulu selalu aktif. Namun hingga 2017 belum laksanakan gawai Dayak. Untuk menjawab keriduan itu kita laksanakan gawai sekarang ini," ujar Kasim.

Mewakili Dewan Adat Dayak (DAD) Kapuas Hulu, Petrus Kusnadi menuturkan, gawai dayak dalam konteks dahulu adalah ritual syukur atas hasil panen selama satu tahun pertanian. 

"Sekarang gawai adalah bentuk syukur atas bebagai keberhasilan pekerjaan, sesuai profesi kita masing-masing," tuturnya.

Gawai tersebut jangan dipandang seremonial dan hura-hura. Tetapi itu adalah kegiatan yang menjadi ajang silaturahmi masyarakat. Beberapa bulan terakhir, kata Petrus, DAD selalu hadir terhadap gawai di kecamatan. 

"DAD sepenuhnya mendukung gawai Dayak dari Forum Ketemenggungan, kami sudah terbitkan surat. Forum mendapat bansos yang diwujudkan dengan gawai Forum Ketemenggungan Dayak Kaluas Hulu," ujarnya.

Petrus menegaskan DAD Kapuas Hulu belum mengagendakan kegiatan gawai Dayak kabupaten. 

"Berdasarkan muasyarawah DAD di tahun 2017, gawai dilaksanakan apabila Betang sudah selesai pembangunannya. Sekarang betang itu sedang dalam tahap pengerjaan," ujarnya. Wabup Kapuas Hulu, Anton Pamero menuturkan, seni budaya tidak ada sekat. "Kesan pluraritas itu disampaikan ke berbagai pihak melalui gawai," tuturnya.

Sekarang ini, semangat melestarikan budaya mulai tergerus teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi itu mempercepat globalisasi mempengaruhi berbagai sisi kehidupan. 

"Teknologi menghubungan kita dengan daerah luas, budaya asing masuk dan budaya daerah mengalami pergeseran. Pengaruh budaya asing yang masuk lewat internet membuat kita lebih tahu budaya asing dan mengikutinya, padahal belum tentu cocok dengan budaya daerah," ujarnya.

Komunitas suku dayak adalah kelompok penjaga seni budaya luhur. Pelaksanaan gawai dayak selanjutnya harus lebih semarak, bersama berbagai etnis yang ada. 

"Kita tampilkan keragaman, cirri khas Kapuas Hulu," tegas Wabup.

Sementara itu, Asisten I Pemprov Kalbar, Alexander Rambonang menuturkan, gawai adalah hal yang penting dalam mengembangkan sumberdaya manusia. "Ini sejalan dengan Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan. Eksistensi kebudayaan Indonesia harus terus diupayakan," tegas Alex.

Karya budaya tentu memberi manfaat kepada kepariwisataan. Salah satunya dengan mengaktualisasikan kearifan lokal. 

"Melalui gawai dayak ini, adalah salah satu wujud dukungan masyarakat dayak pada pemerintah dalam pelestarian budaya. Dayak punya keunikan budaya, dengan mengedepankan keimanan pada Tuhan yang Maha Esa," ucap Alex.

Selain itu, kata Alex, kegiatan gawai adalah kebutuhan untuk mengatasi pengaruh globalisasi. Kalau tidak begitu kita mudah terpengaruh hal-hal yang dapat memecah bangsa," tuntasnya.(*)