Melihat Aktivitas PPN Pemangkat, Sambas

Melihat Aktivitas PPN Pemangkat, Sambas

  Kamis, 13 June 2019 12:31
BERSANDAR: Kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat. HARYADI/PONTIANAKPOST

*Perputaran Uang Hingga Miliaran Rupiah, Hidupi 2000an Pekerja

Aktivitas di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat, tidak pernah sepi. Aktivitas itu meliputi pendaratan hasil tangkapan, bongkar muat, hingga transaksi jual beli hasil perikanan. Perputaran ekonomi yang dihasilkan dari aktvitas ini, mencapai miliaran rupiah dalam sehari.

SITI SULBIYAH, Pemangkat

Hujan pada Rabu (29/5), tidak menghentikan aktivitas para anak buah kapal (ABK) dan pekerja pelabuhan terhenti. Siang itu, ada satu kapal yang berlabuh di PPN Pemangkat, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kapal itu mendaratkan berton-ton tangkapan hasil perikanan, setelah belayar di laut lepas berhari-hari. 

“Sekitar seminggu kami berlayar,” ungkap Agung (20), salah satu ABK.

Hasil tangkapan yang saat itu berada di kapal tersebut, oleh para ABK dan pekerja pelabuhan dioper ke ruangan TPI Higienis, sebuah ruangan yang difungsikan untuk melakukan bongkar muat hasil tangkapan. Keranjang-keranjang yang berisi ikan pun dimasukkan satu per satu, untuk kemudian ditimbang beratnya. Setelah itu, ikan-ikan akan ditampung oleh agen yang kemudian dipasarkan. Sebelumnya, hasil tangkapan sudah dikelompokkan berdasarakan jenis dan kualitasnya ketika di atas kapal.

Pemilik ikan, atau agen pertama, berdasarkan aturan yang berlaku di sana, tidak diperbolehkan menjualnya secara langsung kepada pembeli yang berasal dari luar PPN. Pemilik ikan di PPN tersebut, adalah mereka yang memiliki kapal nelayan. Di sana, diketahui ada sekitar lima pengusaha besar yang memiliki lebih dari satu kapal nelayan. Mereka juga memiliki cool storage atau ruangan pendingin, sebagai tempat untuk menampung hasil perikanan yang belum terjual.

PPN Pemangkat termasuk dalam 22 pelabuhan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pelabuhan ini merupakan sentra perikanan yang berlokasi di Jalan Penjajap Timur, Desa Penjajap, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas. Lokasinya dinilai strategis, karena berdekatan dengan Fishing Ground (Laut Cina Selatan, Natuna) dan dekat dengan daerah pemasaran (Pontianak, Sarawak, dan Batam).

Salah satu pemilik kapal, M Isa menyebut, dalam satu kali melaut kapal yang dimilikinya mampu mengangkut ikan seberat 5-10 ton. Banyak sedikitnya tangkapan, menurutnya amat tergantung dengan cuaca. “Kalau (cuaca) bagus bisa sampai 10 ton, kalau lagi jelek bisa cuma lima ton, bahkan pernah cuma satu ton,” kata dia.

M Isa sendiri memiliki lima buah kapal nelayan. Dalam satu kali berlayar, dapat menghabiskan waktu satu minggu, atau 10 hari, bahkan hingga satu bulan. “Tetapi ada juga yang harian,” sebut dia.

Beberapa jenis ikan yang paling banyak ditangkap adalah tongkol, tenggiri, layang, dan mayong. Untuk harganya, M Isa menyebut sesuai dengan grade atau kualitasnya. Uniknya, kebanyakan ikan dengan kualitas terbaik, justru di pasarkan ke luar Sambas, terutama di Kota Pontianak. Sementara yang grade kedua, dijual secara lokal di sekitar Pemangkat. “Kalau yang jelek dijual ke sana (Pontianak) harganya akan jatuh,” tutur dia.

Kepala PPN Pemangkat, Sarwono menuturkan, produksi hasil perikanan yang didaratkan di PPN Pemangkat cukup besar guna memenuhi kebutuhan ikan di Kalimantan Barat. Bahkan boleh dikatakan, PPN tersebut merupakan PPN terbesar di provinsi ini.  Dalam sehari, 25-30 ton hasil tangkapan di daratkan.

“Sebagian besar (hasil tangkapan) untuk memenuhi kebutuhan di Pemangkat, Sambas, Singkawang, Pontianak, bahkan sampai ke Sintang,” ungkap dia.

Sekitar 185 kapal yang terdata berlabuh di pelabuhan tersebut, dengan jumlah ABK sekitar 2000 orang. Belum lagi termasuk di dalamnya para pekerja pelabuhan, serta para agen yang memiliki kios. Perputaran ekonomi pun tidak hanya berasal dari transaksi jual beli hasil tangkapan, namun aktivitas lainnya yang menunjang aktivitas utama tersebut.

“Dalam satu hari perputaran uang di sini bisa mencapai satu miliar rupiah, mulai dari penjualan ikan, serta transaksi kebutuhan melaut bagi nelayan, seperti BBM, dan lain sebagainya,” ucap dia.

PPN Pemangkat saat ini masih dalam proses pembangunan. Sarwono mengatakan, PPN yang tersebut saat ini memiliki luas lahan sekitar 3,5 hektare. Namun pemanfaatannya baru sekitar 40 persen atau 1,5 hektare. Selebihnya, yakni 2 hektare masih dalam proses pembangunan. Dia pun menyebut, saat ini galangan kapal sebagai tempat untuk perbaikan kapal belum tersedia.

“Kekurangannya, kami belum punya tempat untuk perbaikan kapal, seperti galangan kapal, atau docking repair kapal,” pungkas dia.**