Melia Amir, Perempuan yang Menjalankan Iktikaf Sebulan Penuh

Melia Amir, Perempuan yang Menjalankan Iktikaf Sebulan Penuh

  Selasa, 14 May 2019 09:15
ITIKAF: Melia Amir (55) saat beritikaf di Masjid Raya Mujahidin Pontianak. SITI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Tak Takut Sendiri di Masjid, Sudah Lakukan Puluhan Tahun 

Tepat di pojok kiri shaf wanita, Masjid Raya Mujahidin, terbentang selimut, bantal, dan beberapa barang lainnya. Barang-barang tersebut milik Melia Amir. Selama bulan Ramadan ini, wanita tersebut akan beritikaf di masjid tersebut.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Salat, berzikir, dan mengaji, adalah aktivitas paling mendominasi yang dilakukan oleh Melia Amir saat berada di Masjid Raya Mujahidin. Perempuan berusia 55 tahun ini, telah berkomitmen selama sebulan penuh, selama bulan Ramadan, menjadi mutakif. Mutakif adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang yang melaksanakan itikaf. Itikaf, dalam konteks ibadah merupakan aktivitas berdiam diri di dalam masjid untuk mencari ridha Allah.

“Terasa nikmat sekali kalau lagi beritikaf,” tutur wanita ini, mengawali pembicaraan di antara kami, Minggu (12/5).

Tahun ini pun, bukanlah yang pertama baginya. Itikaf di bulan Ramadan tahun ini, adalah yang kesekian kalinya. Meski tak ingat sudah sejak tahun berapa ia mulai rutin beritikaf di bulan Ramadan satu bulan penuh, namun yang pasti, ibadah satu ini sudah ia sukai sejak berusia gadis.

“Sudah sejak gadis saya suka beritikaf. Waktu masih tinggal Balikpapan dulu, kalau tidak salah dari tahun 1982 saya sudah kenal dengan itikaf,” kata wanita berkacamata ini.

Melia saat ini bekerja sebagai seorang guru di salah satu sekolah negeri di Kota Pontianak. Meski telah berkomitmen untuk beritikaf, namun kagiatan mengajar tak lantas ia tinggalkan. Selama Bulan Ramadan, selepas mengajar, ia kembali ke Masjid Raya Mujahidin untuk melanjutkan itikafnya. Aktivitas pribadi lainnya, seperti mandi, juga ia lakukan di sana. Hanya sesekali saja menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya apabila ada keperluan.

“Kalau tahun lalu saya bisa hampir full berada di masjid, karena libur sekolah bertepatan dengan bulan puasa. Kalau tahun ini kan tidak,” tutur dia.

Beritikaf sendiri di masjid tersebut, adalah hal yang biasa baginya. Tak ada perasaan takut yang timbul. Selama bulan Ramadan ini pun, kadang ia menginap sendiri. Maklum, iktikaf akan lebih ramai dilakukan pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. 

Selain tidur, Aktivitasnya di malam hari, lebih banyak dihabiskan dengan beribadah. Terutama salat, zikir, dan mengaji. “Kadang malah tidak tidur sama sekali, banyakin salat pokoknya,” kata nenek tiga orang cucu ini. 

Sengaja ia lakukan hal tersebut karena ingin mendapatkan pahala sekaligus ridha dari Allah SWT. Terlebih di sepertiga malam terkahir, ia meyakini malaikat turun ke bumi, guna melihat aktivitas hamba-hamba Allah. Ia ingin, saat malaikat turun itu, ia tengah beribadah, merenungi kekuasaan Allah. 

Mengenai kebutuhannya untuk sahur dan berbuka, ia tidak pernah khawatir. Kebutuhan itu, selalu tersedia bagi dirinya. “Kalau untuk sahur, makanan diberikan oleh Remaja Mujahidin,” kata dia. Sementara untuk berbuka, masjid tersebut memang telah menyediakan makanan berbuka.

Melia pun berkomitmen untuk terus melakukan itikaf di Ramadan-ramadan yang akan datang. Ia juga mengajak umat muslim untuk menyempatkan diri untuk beritikaf, terutama di bulan Ramadan. “Di Ramadan ini, kita harus tingkatkan amal ibadah kita. Ibadah yang kita lakukan ini, Insya Allah sangat berguna bagi kehidupan,” pungkas dia. (*)

Berita Terkait