Melawat ke Kopitiam Legendaris di Pontianak

Melawat ke Kopitiam Legendaris di Pontianak

  Sabtu, 9 February 2019 10:04

Berita Terkait

Bertahan karena Kekhasan, Warnai Budaya Ngopi Kekinian

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern di Indonesia, keberadaan warung kopi legendaris tak berarti menemui senja kala. Tradisi ngopi ini justru mewarnai kekiniannya budaya ngopi belakangan ini. 

Salah satu warung kopi legendaris adalah warung kopi Asiang di Pontianak, Kalimantan Barat. Meskipun berkonsep kopitiam, pemilik kedai Gouw Thiam Siang (Asiang) lebih memilih untuk menggunakan istilah warung kopi. 

Pada pukul 02.30 dinihari Asiang mulai membuka warung kopinya. Asiang memang meminta koran ini datang pada jam-jam sepi. Katanya, agar ngobrolnya lebih nikmat. Eh, ternyata tetap saja, meskipun kedainya baru buka, sejumlah orang sudah antre pesan kopi. Padahal, langit masih gelap. Akhirnya, ngobrol soal kopitiam bersama Asiang pun dilakukan sambil nyeduh kopi.

Meskipun memilih istilah warung kopi, kekhasan kopitiam tetap disajikan oleh Asiang. Terutama dalam penyeduhan kopinya. Asiang masih mempertahankan penyeduhan dengan teko dan saringan kain. Penyeduhannya juga dilakukan dengan cara ”ditarik”.

Asiang mengatakan, penyeduhan seperti itu diwarisi dari resep bapaknya. Ayah Asiang mulai merintis usaha kopitiam pada 1958. Saat itu ayahnya membuka kedai di tepi Jalan H. Agus Salim. Sekitar 50 meter dari lokasi kedai Asiang saat ini.

Usaha menemui Asiang dini hari itu tak sia-sia. Pria plontos tersebut membuka banyak rahasia dapurnya. Salah satunya soal kopi yang digunakan. Asiang mengatakan bahwa kopi yang dia pakai jenis Arabika. ”Dapatnya dari sini aja (Kalimantan Barat, Red),” ujarnya. Biji kopi itu disangrai sendiri di rumahnya, kawasan Margosari.

Tiap hari Asiang bisa menjual rata-rata 500 gelas kopi. Warung kopi itu buka mulai pukul 03.00 sampai 17.00. Asiang bertugas sebagai barista hingga pukul 11.00. Setelah itu, penyeduhan kopi dilakukan oleh anak buahnya.

”Setiap hari habis 20 kilogram kopi dan 50 kaleng susu. Sebab, yang paling banyak dipesan kopi susu,” terang Asiang. Di kopitiam, sebenarnya penyebutan kopi susu cukup dengan kata ”kopi”. Sedangkan kopi hitam disebut kopi o. Tapi, di Asiang sudah mengalami modifikasi.

Dalam pembicaraan dengan koran ini, Asiang juga membocorkan merek susu yang dia gunakan. Padahal, di warungnya, Asiang sengaja melepas merek susu tersebut. Asiang selama ini menggunakan jenis krim kental manis. Kalau di sejumlah kopitiam Singapura maupun Malaysia, selain kental manis, digunakan juga susu evaporasi. 

Di Pontianak, budaya ngopi subuh-subuh ternyata bukan hal aneh. Salah satu warga Pontianak yang rajin datang ke Asiang pagi-pagi adalah Ilham Januardi, 31. Sejak 2010, Ilham rutin mampir ke warung kopi Asiang selepas salat Subuh. 

Kok Tong, Pematang Siantar

Tim ekspedisi kopitiam juga melawat ke Sumatera Utara. Tepatnya ke Pematang Siantar. Di sana, kami mengulik kedai kopi legendaris Kok Tong. Kedai kopi itu berdiri sejak 25 Januari 1925. Kini dikelola generasi ketiga, namanya Djamin Halim. 

Meski kedai itu sudah sepuh, tidak berarti yang datang ke sana hanya opa-opa. Justru yang datang untuk mencecap kopi atau teh di sana adalah orang-orang yang berusia 20–40 tahun. Jawa Pos sengaja datang pagi. Ternyata, sudah banyak orang yang mencecap kopi di sana.

Djamin mengatakan, Kok Tong bisa tetap eksis hingga sekarang karena mempertahankan kekhasan masa lalu. Sejak berdiri hingga sekarang, Kok Tong tak berubah banyak. Modernisasi memang ada, tapi tak menyentuh hal-hal yang khas seperti menu minuman dan kopi.  

Kedai utama Kok Tong di persimpangan Jalan Cipto dan Jalan Wahidin masih mempertahankan menu-menu khas kopitiam. Misalnya, kopi susu, kopi o, teh tarik, dan roti selai srikaya. ”Kalau di cabang kami, mungkin ada menu-menu modern seperti kopi jelly, tapi di sini tidak ada,” kata Djamin. Kok Tong memang mulai berekspansi ke banyak daerah. Ada Medan, Jakarta, dan Surabaya.

Bukan hanya menu yang dipertahankan. Djamin juga tetap mempertahankan pengolahan kopi mulai roasting hingga brewing. Dari sisi roasting, Djamin masih mempertahankan penggunaan bara api kayu. Bukan mesin-mesin roasting modern seperti yang ada saat ini. (*)

Berita Terkait