Melatih Balita Berpuasa

Melatih Balita Berpuasa

  Rabu, 16 May 2018 10:16

Berita Terkait

Bulan Ramadan selalu dinanti oleh umat Islam. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun berpuasa di bulan penuh berkah. Bahkan, ada juga orang tua yang mengajak balitanya berpuasa.   

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Kasihan. Ungkapan yang sering kali terdengar ketika orang tua melihat anaknya berpuasa. Bahkan, tak jarang berujung rasa khawatir, terlebih jika buah hatinya masih balita. Akhirnya banyak orang tua yang menganggap usia enam hingga tujuh tahun paling ideal untuk anak mulai berpuasa.  

Seperti dilakukan Ayudia Anita. Wiraswasta muda ini merasa ragu mengajak Nino, buah hati tercinta yang baru menginjak usia lima tahun untuk berpuasa. Nino dikenal sebagai anak yang senang beraktivitas. Nino juga memiliki rutinitas mengonsumsi makanan ringan (camilan). Ayudia dan suami khawatir Nino tak akan bisa mengimbangi proses puasa yang harus menahan rasa lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam.

Suatu ketika, ketika dalam perjalanan menuju sekolah, Nino menyatakan ingin belajar puasa pada tahun ini. Sebab, teman sekelasnya yang mulai berpuasa dari tahun lalu.  

"Nino merasa senang saat mendengar cerita temannya bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala dari Allah. Dari situlah Nino termotivasi untuk berpuasa," kata Ayudia. 

Kini,  Ayudia dan suami mulai mengenalkan makna dan manfaat berpuasa kepada Nino. Mereka juga mengajarkan doa serta ibadah lainnya supaya sang anak lebih dekat dengan Allah SWT.  Namun, Ayudia tak memaksa Nino untuk bisa berpuasa hingga azan magrib berkumandang. Dia dan Nino telah membuat perjanjian. Jika buah hati mulai lapar di siang hari atau sekitar pukul 12.00,  Nino boleh membatalkan puasanya.

Psikolog klinis Dwi S. Purwanti, M.Psi mengatakan mengajak dan mengenalkan tentang puasa sejak dini akan membuat buah hati  terbiasa dengan aktivitas berpuasa di lingkungan terdekatnya. Selain itu, orang tua lebih mudah mendisiplinkan anak untuk beribadah puasa. 

"Jika tidak dimulai, orang tua akan kesulitan untuk mendisiplinkan anaknya berpuasa. Hal ini dikarenakan anak belum terbiasa akan ibadah puasa," ujarnya.

Pengenalan berpuasa bisa dilakukan saat anak menginjak usia tiga tahun. Menurut Dwi, di usia ini anak sudah mampu memahami komunikasi dua arah dengan lebih baik. Di samping  itu, pada usia tiga tahun, anak mulai mengerti arti sebuah kedisiplinan dan lebih mengenal Tuhan serta keyakinannya. Namun, orang tua tidak boleh melupakan bahwa perkembangan kematangan emosi dan pola pikir setiap anak berbeda meskipun anak-anak ini berada di usia yang sama. Hal ini menjadi sebuah tantangan untuk para orang tua dalam memberikan pemahaman tentang berpuasa.

"Secara garis besar anak-anak di usia tiga tahun ke atas sudah bisa dikenalkan tentang ibadah puasa. Orang tua diperbolehkan memberi motivasi pada buah hati agar anak menjadi lebih semangat menjalani ibadah puasanya," tambah Dwi.

Staff SDM Stikes Yarsi Pontianak ini menuturkan setiap orang tua memiliki cara mengajar berpuasa yang berbeda-beda. Kebanyakan orang tua mengajarkan anaknya berpuasa dengan iming-iming hadiah, baik berupa uang atau barang yang anak inginkan. Tak jarang lupa memberikan batasan pada anaknya mengenai hadiah yang diinginkan. 

“Jangan heran jika suatu saat permintaan anak dapat melampaui batas kemampuan orang tuanya,” ungkapnya. 

Sebagian orang tua pasti akan menyanggupi permintaan buah hati tercinta, meski harus merogoh kocek yang sangat dalam. Namun, tak lupa tetap harus memikirkan prioritas. Jangan sampai iming-iming tersebut membuat  pemasukan dan pengeluaran menjadi tidak stabil. Karena menjalankan ibadah dengan iming-iming menjadi momen yang anak tunggu di setiap tahunnya.

Biasanya semakin bertambahnya usia keinginan anak, semakin besar hadiah yang diinginkan anak. 

Orang tua juga harus memahami jika reward harus disertai dengan keteguhan hati. Karena tak jarang orang tua ingkar janji, memilih tak memenuhi keinginan anak karena terlalu melampaui batas kemampuan finansialnya. Bagi orang tua tampak sepele dan beranggapan anak hanya sedih sesaat dan marah.

Tapi, tidak bagi anak. Kondisi ini akan berdampak cukup besar bagi dirinya. Anak akan merasa kecewa. Kekecewaan itu bisa membekas di ingatan anak dalam jangka waktu yang lama. Orang tua bisa dilabeli sebagai orang yang tak menepati janji atau dikatakan “mama papa dan suka bohong”. Perilaku ingkar janji ini membuat anak mulai menurunkan antusiasnya terhadap momen ibadah puasa di tahun berikutnya.  

Dwi menyarankan sebelum mengiming–imingi hadiah pada anak, ada baiknya orang tua lebih dulu menanamkan nilai kecintaan agama dengan cara sederhana. Orang tua bisa memulai dengan memberikan pengertian tentang makna puasa. Cara ini bisa menjadi langkah orang tua agar semakin termotivasi berpuasa. Selain itu, orang tua dapat memberikan proses pembelajaran yang kreatif dan interaktif, misalnya dengan media cerita dongeng tentang ibadah puasa. Dengan begitu orang tua bisa membuat buah hati tercintanya lebih mudah dalam memahami maksud dan makna puasa yang sebenarnya.

"Sehingga, tidak masalah jika balita langsung diajak berpuasa. Orang tua bisa memainkan rentang waktu puasa anak dalam satu hari, agar puasa tidak menjadi momen yang menakutkan bagi buah hati," tutup Dwi. (**)

Berita Terkait