Melampaui Pengetahuan Autisme

Melampaui Pengetahuan Autisme

  Selasa, 3 April 2018 08:57   142

“Memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia”

Oleh: Husni Mubarok

(Peneliti Psikososial, Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta)

TIDAK ada data yang pasti jumlah anak penyandang autis di Indonesia. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai autis menyebabkan minimnya kesadaran mengenainya. Melampaui pengetahuan autism berarti mengilmuinya dan membangun kesadaran untuk menanganinya. Tulisan ini merupakan penjelasan singkat mengenal autism menyambut hari kesadaran autism sedunia yang diperingati 2 April setiap tahunnya.

Menurut Dr Rudi Sutadi, Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan nerobiologis yang berat. Terjadi pada anak, dimulai sejak usia 6 bulan dalam kandungan dan berlanjut terlihat dalam masa perkembangannya dan terus sampai dewasa jika tidak ditatalaksana secara tepat. Penyandang autisme mengalami gangguan/masalah pada interaksi sosial, komunikasi non-verbal dan verbal,  juga pada minat serta aktivitas yang terbatas dan berulang-ulang.

Autisme pada dasarnya disebabkan oleh faktor genetik, namun faktor lingkungan dan pola hidup ibu hamil menjadi faktor pemicu. Beberapa pemicu adalah logam berat, pertisida, bakteri, virus yang masuk atau menginfeksi ibu hamil. Logam berat masuk kedalam tubuh manusia bisa melalui kosmetik, biasanya mengandung mercury. Selain itu makanan instan dan bumbunya banyak mengandung logam berat dan zat kimia diduga mengandung logam berat.

Provinsi Kalimantan Barat memiliki dua Pusat Pelayanan Autis. Pertama di Kota Pontianak yang beralamatkan di Jalan Tabrani Ahmad, Pal Lima, Pontianak Barat, Kota Pontianak  dan Kota Singkawang yang berlokasi di Jalan  Demang Akub, Naram, Singkawang Utara, Naram, Singkawang, Kota Singkawang. Jumlah tersebut tentu masih belum mampu untuk melayani penyandang Autisme di Kalimantan Barat yang luasnya hampir tiga kali Pulau Jawa.

Sebagai anak berkebutuhan khusus, anak autis tentu membutuhkan pelakuan khusus dalam keseharian. Dalam tulisanNelson Raymond di website Imaculata Autism Boarding School sebagian peneliti berpendapat bahwa anak autistik mempunyai beberapa masalah di saluran pencernaannya sehingga makanan yang merupakan faktor pemicu atau faktor yang menambah masalah pada saluran cerna tersebut hendaknya tidak dikonsumsi.

Anak autis harus menghindari makanan mengandung kasein (susu, yoghurt, keju, mentega, beberapa margarin, es krim, susu cokelat, biskuit dan beberapa produk olahan yang menggunakan susu) dan/atau gluten (roti, pizza, produk pasta, pastry, biskuit, beberapa produk sereal dan produk-produk lainnya yang dibuat dengan menggunakan terigu). Hindari juga makanan yang mengandung bahan tambahan pangan (seperti MSG, bahan pengawet, pemanis buatan dan bahan pewarna/penambah cita rasa buatan), mengandung ragi (roti, vinegar, keju, kecap dan produk fermentasi lainnya) serta gula, dan makanan penyebab alergi dan/atau intoleransi (susu sapi, telur dan makanan mengandung gluten).

Pada kehidupan keseharian anak autis memiliki perilaku yang khas, yakni rutinitas dan pengulangan. Perilaku rutinitas adalah perilaku yang selalu dilakukan setelah perilaku tertentu sebelumnya. Contohnya, setiap selesai makan anak autis menceburkan diri kedalam kolam air atau kolam ikan. Sedangkan perilaku yang berulang, seperti sering menggerakkan tangan dan kaki secara terus menerus, berjalan atau berlari mondar-mandir terus menerus.

Ada salah pemahaman antara autism dan keterbelakangan mental/ retardasi mental (idiot). Anak autis mengalami masalah keterbatasan dengan komunikasi, keterampilan sosial, dan reaksi berlebih terhadap lingkungan sekitar mereka. Sedangkan anak retardasi mental/ idiot mengalami keterbatasan fungsi intelektual (IQ kurang dari 70 dari rata-rata 100) dan keterampilan adaptif.

Dalam dunia kesehatan ada ungkapan, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Kaidah ini mengajak kita semua untuk sadar menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan. Kesadaran austis merupakan implementasi dari pengetahuan yang cukup mengenai autisme. Mengurangi resiko faktor pemicu autis berawal dari kesadaran ini. Di era teknologi informasi yang maju memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai tema autism.

Deteksi dini autisme masih sulit dilakukan, belum ada petunjuk mendeteksi autis pada bayi  sebelum gejalanya muncul. Namun ibu yang cermat memantau tumbuh kembanga anaknya mungkin bisa melihat keganjilan sebelum anak berusia satu tahun. Salah satunya tidak adanya atau sangat kurangnya tatapan mata. Deteksi dini ini sangat penting, sehingga anak yang didiagnosa autis dapat mendapatkan terapi sejak dini.

Ada beberapa pertanyaan yang biasanya ditanyakan, apakah seorang penyandang autis bisa kembali normal. Jawaban para ahli menyatakan bahwa hal ini bergantung pada berat tidaknya ganguan yang ada pada anak dan kecepatan diagnosa dan terapi yang diberikan. Semakin berat gangguan maka akan semakin kecil untuk bisa kembali normal.

Kesadaran autisme bisa berawal dari pemilihan produk konsumsi yang digunakan dalam keluarga terutama untuk ibu hamil. Ketelitian mimilih kosmetik yang digunakan dan menghindari mewarnai rambut dengan produk yang mengandung zat kimia berbahaya atau mercury. Menghindari makanan instan dengan mengkonsumsi menu makan yang sehat dan higienis sangat dianjurkan. Hal ini cukup mengurangi potensi paparan negatif lingkungan yang menjadi faktor pemicu.

Meskipun demikian belum ada penelitian yang memastikan penyebab autis. Beberapa penelitian di negara maju menyebutkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh interaksi antara faktor genetic/keturunan dan paparan negatif lingkungan. Begitu kompleksnya tema autisme berbanding lurus dengan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk penanganan terapinya.

Mahalnya terapi penanganan autism menyebabakan tidak semua orangtua yang memiliki anak autis mampu mengaksesnya. Masyarakat awam pun masih kurang peduli dengan keberadaan anak autis di lingkungannya. Masyarakat kurang toleran dan cenderung melecehkan individu autis. Merubah sikap disktiminatif terhadap anak autis adalah hal mendesak yang harus dilakukan. Berempati tehadap kesusahan yang dialami orangtua anak autis sangat penting dan menjadi motivasi mereka berjuang.

Akhir kalam, hal terpenting dalam pengetahuan mengenai autisme adalah terbangunnya kesadaran yang menggerakan. Mengilmuinya berarti mampu bersikap bijak dan welas asih kepada mereka sebagai sesama manusia. Menyampaikan dengan amal merupakan bentuk kerja-kerja kemanusiaan hidup berdampingan dengan individu autis. Mereka, para penyandang autis adalah manusia seperti kita, sebagai anggota masyarakat dan hamba Tuhan yang sama-sama ingin hidup bahagia. (*)