Media Massa Perintis untuk Memperbaiki Bahasa

Media Massa Perintis untuk Memperbaiki Bahasa

  Jumat, 7 December 2018 10:15
MENANG: Pemred Pontianak Post, Heriyanto Sagiya menerima penghargaa penilaian penggunaan Bahasa Indonesia di media massa Kalimantan Barat 2018. ISTIMEWA

Berita Terkait

Penilaian Penggunaan Bahasa Indonesia 

Pontianak Post meraih pemenang pertama pada penilaian penggunaan Bahasa Indonesia di media massa cetak surat kabar Kalimantan Barat 2018. Disusul Suara Pemred dan  Harian Berita Khatulistiwa di posisi dua dan tiga. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak

KAMIS (6/12), Pemimpin Redaksi Pontianak Post, Heriyanto Sagiya menerima tropi penilaian penggunaan Bahasa Indonesia di media massa cetak surat kabar Kalimantan Barat 2018. Penilaian penggunaan Bahasa Indonesia ini dilakukan tim Balai Bahasa Kalbar selama Oktober 2018, bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa. 

Aminulatif, kepala Balai Bahasa Kalbar menjelaskan, penilaian ini dilakukan terhadap beberapa media cetak di Kalbar. Dari hasil penilaian dipilih tiga media berdasarkan skor tertinggi. Pontianak Post meraih jumlah nilai 1.815, Suara Pemred dengan nilai 1.724, dan Harian Berita Khatulistiwa senilai 1.543. 

Ada beberapa poin penilaian, mulai dari gaya bahasa yang digunakan, pemakaian ejaan, hingga paragraf, penggunaan kosakata asing dan padanan kata.  

“Misalnya dari gaya bahasa itu, kita melihat secara umum apakah pemberitaan membuat pembaca menjadi tertarik, atau sudah merasa jenuh sebelum selesai,” ujarnya. 

Di dalam gaya bahasa itu, lanjut dia, tim penilai akan melihat titik-titik mana berita itu layak dibaca atau tidak. Termasuk judul dan teras beritanya. Sedangkan pada pemakaian ejaan, paling banyak ditemukan kesalahan pada pemenggalan kata. “Hampir semua sering pemenggalan kata yang tidak tepat,” ungkapnya. 

Aminulatif menjelaskan, media massa kata dia merupakan perintis untuk memperbaiki bahasa, atau bisa pula merusak bahasa, memperkaya bahasa atau pun memiskinkan bahasa. Jika media massa banyak menampilkan komunikasi-komunikasi lisan yang positif, atau memperkaya bahasa yang digunakan maka  kata dia akan menjadi rujukan. Begitu pula ketika media massa menampilkan bahasa yang tidak baik, atau buruk maka cenderung akan dikuti masyarakat. 

“Efek media massa itu menurut saya tajam sekali. Karena mengapa? Karena orang akan menjadi terbiasa membaca dan menerima informasi dari media massa,” ungkapnya. 

Khusus media cetak, kata dia, harus terus memperkaya bahasa dengan tulisan-tulisan yang disajikan. Media cetak sering menjadi rujukan pembaca. 

“Itulah kita punya kebijakan bagaimana nanti sama-sama media massa edukasi dan penyegaran berbahasa. Penyegaran berbahasa bagi wartawan akan berpengaruh terhadap tulisan. Itu akan memengaruhi publik,” ulasnya. 

Aminulatif mengungkapkan, bahasa itu terus berkembang. Setiap tahunnya ada banyak kosakata baru yang diusulkan. Pada percetakan kamus tahun 2016, kata dia, ada 126 ribu kosakata baru. Sedangkan untuk saat ini sudah ada lebih dari 15 ribuan kosakata yang diusulkan melalui daring. 

“Karena sekarang kita bisa mengusulkan kosakata baru. Apalagi yang mengusulkan itu dari Aceh hingga Papua,” papar dia. 

Mengusulkan kosakata baru juga melewati berbagai pertimbangan, apakah digunakan hanya musiman atau kelompok tertentu saja, atau sering digunakan dalam waktu yang lama. Jika sudah terbukti kosakata tersebut dipakai dalam waktu yang lama, maka akan dimasukkan dalam kamus. 

“Biasanya kalau kosakatanya digunakan kelompok tertentu, atau musiman akan hilang sendiri, maka tidak akan dimasukkan dalam kamus,” pungkasnya.(*) 

Berita Terkait