Mbah Kijem, Lebih dari Setengah Abad Hidup di Gua Langse

Mbah Kijem, Lebih dari Setengah Abad Hidup di Gua Langse

  Jumat, 21 June 2019 10:40
PILIHAN HIDUP: Mbah Kijem menikmati hari-harinya di Gua Langse, Gunungkidul, Jogjakarta. Anisatul Umah/JAWA POS

Berita Terkait

Mau Nge-Charge HP, Harus Naik Tebing Dulu

Bukan perkara mudah menjangkau Gua Langse di Purwosari, Gunungkidul, Jogjakarta. Dibutuhkan keberanian ekstra karena harus menyusuri tebing tegak lurus laut selatan sejauh 350 meter. Di situlah Mbah Sakijem tinggal hingga lebih dari setengah abad.

ANISATUL UMAH, Jogjakarta

Gua Langse terletak tidak begitu jauh dari Pantai Parangtritis, Bantul. Dari Kota Jogja, diperlukan waktu 1,5 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Sesampai di tebing, kita harus mengisi presensi dan memberikan uang seikhlasnya sebagai biaya perawatan gua kepada Kuncen. ”Nginep pinten dinten Mbak? (Menginap berapa malam, Mbak?),” kata Pak Parijo, salah seorang kuncen sambil menyodorkan kertas presensi. 

Kebanyakan pengunjung datang menginap untuk bersemedi. Sebaiknya, jika mengunjungi Gua Langse, jangan sendirian. Selain sepi, medannya berbahaya. Apalagi bagi yang belum terbiasa. Perlu jalan kaki sekitar 500 meter melewati hutan yang banyak dihuni monyet liar. Setelah sampai di tebing, kita harus turun. Tak ada pegangan yang layak. Mesti sangat hati-hati.   

Sesampai di Gua Langse, penulis bertemu empat orang yang tengah bersiap semedi di gua. Siang itu Mbah Sakijem tampak tidur siang dengan nyenyak di dalam gua. Tidak ada pergerakan tubuh. Ramai orang mengobrol tak mengganggu lelapnya. Beberapa perabot seperti ceret dan tungku ada di samping kanan gua. Dua lemari dari kayu berada di samping tempat tidur Mbah Kijem. Salah satunya terkunci dengan gembok. 

Di situlah Mbah Kijem tinggal. Dia tak sendiri. Ada Bambang, anjing yang setia menemani selama empat tahun terakhir. Bambang sangat ramah. Saat ada tamu datang, dia tidak menggonggong. Bambang hanya mendekati tamu itu, lantas menjilat-jilat minta dibelai.

Sembari menunggu Mbah Kijem bangun, pengunjung gua bernama Pangestu, 44, bercerita baru datang dari Bali. Dia berencana bermalam tujuh hari di Gua Langse bersama tiga anggota keluarga lainnya. ”Ini kali kedua datang ke sini, saya juga semedi di beberapa gua lain,” katanya dengan logat Bali yang kental.

Sekitar setengah jam berselang, Mbah Kijem bangun. Bambang bergerak cepat menghampiri tuannya. ”Badhe siram, Mbah? (Mau mandi, Mbah?),” tanya Jawa Pos melihat Mbah Kijem membawa pasta gigi, sabun, dan sikat yang dimasukkan di ember kecil. ”Njih (iya),” ungkap Mbah Kijem sambil berjalan diikuti Bambang ke kamar mandi dekat gua.

Setelah Mbah Kijem mandi, perbincangan dimulai. Semua obrolan siang menjelang duhur itu menggunakan bahasa Jawa kromo. Mbah Kijem bercerita bahwa dirinya mulai tinggal di Gua Langse sekitar 1968. Dia lupa, bulan 5 atau 6. Sebelumnya Mbah Kijem tinggal di Gua Cerme, Imogiri, Bantul, selama empat bulan. Menurut keyakinan Mbah Kijem, keinginannya untuk mendapatkan penghasilan akan terwujud jika berpindah ke Gua Langse.

Saat memutuskan tinggal di Gua Langse, umurnya baru 18–19 tahun. Lagi-lagi lupa tepatnya. Dia datang ke gua hanya dengan berpegangan pada akar-akar pohon yang tumbuh di tebing. Jalan ke lokasi saat ini, menurut dia, sudah jauh lebih enak karena diberi kayu-kayu untuk memanjat dan berpegangan. ”Saya di sini sejak masih ting-ting (perawan, Red),” tuturnya mengenang, lalu tersenyum sedikit genit.

Mbah Kijem pernah menikah dengan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1974. Setelah itu, dia hamil. Di usia kandungan sekitar 2–3 bulan, Mbah Kijem kembali ke gua. Dia baru pulang ketika melahirkan putra bernama Karno pada 1975. 

Menurut Mbah Kijem, suaminya stres tidak bisa menerima keputusannya untuk tetap tinggal di gua dan akhirnya meninggal. Sayang, Mbah Kijem tidak berkenan cerita lebih jauh kapan suaminya meninggal. Pernikahannya waktu itu digelar meriah dengan nanggap wayang. ”Suami nggak mau saya balik lagi ke gua. Dia orang Jogja,” cerita Mbah Kijem sambil sesekali dihampiri Bambang yang bermanja kepadanya.

Mbah Kijem tinggal di rumah hingga Karno berumur 8 bulan. Setelah itu, dia kembali ke gua. Karno dititipkan ke orang tua Mbah Kijem. ”Saya punya satu adik perempuan. Penjahit di Papua,” tuturnya sambil sesekali membenarkan posisi duduknya di atas tumpukan kayu agar tetap nyaman.

Saat ini anak semata wayangnya itu tinggal di Tangerang dan sudah berkeluarga. Mbah Kijem punya tiga cucu dari Karno. Salah satu cucunya sudah mau masuk kuliah. Karno pernah mengajaknya ikut tinggal di Tangerang. Tapi, Mbah Kijem tidak betah. Setelah 23 hari, dia kembali ke Gua Langse.

”Saya pernah dijemput, di Tangerang ada rumah, ada mobil tapi saya nggak betah, terus balik lagi ke sini,” tuturnya sambil mengakui umurnya kini rasanya sudah 70 tahun.

Mbah Kijem mengatakan tidak suka mobil. Begitu juga dengan barang-barang lainnya meski mengaku bisa membeli itu semua. Lebih enak hidup di gua. Lapar tinggal makan, ngantuk ya tidur. Mbah Kijem akan bertahan di Gua Langse menghabiskan sisa umurnya. ”Enak, nyatanya saya nggak mau pindah dari sini,” tuturnya. 

Kegiatan sehari-hari Mbah Kijem adalah memasak bagi siapa saja yang datang ke Gua Langse. Dulu semua kebutuhan memasak diangkutnya sendiri melewati tebing. Seiring dengan bertambahnya usia, barang-barang diantarkan orang dari warung langganannya. ”Saya bawa handphone, telepon warung dikirimi. Ngisi batu (baterai HP, Red), ya naik. Tidak ada listrik di sini,” tutur Mbah Kijem yang juga bercerita pernah mengenyam bangku sekolah rakyat atau setara sekolah dasar.

Siapa saja yang memesan makan dan minum di Gua Langse tidak ditetapkan tarif. Mereka memberi semaunya. Seringnya dengan jumlah uang yang lebih dari nilai sepiring nasi. Kadang ada juga yang memberinya beras. Dia pernah mendapat beras dari Keraton Jogja setengah kuintal. ”Mereka tanya ada nasi, Mbah? Saya jawabnya, ada, ini lauknya tahu,” paparnya mencontohkan percakapannya dengan orang yang datang untuk ke Gua Langse.

Bambang si anjing kembali menghampiri. ”Mbang duduk,” kata si mbah. Bambang manut. Mbah Kijem merawat Bambang saat anjing itu berusia 15 hari. ”Bambang itu setia, jujur,” pujinya.

Selain masak, sehari-hari Mbah Kijem reresik gua. Halaman sekitar gua disapu setiap hari. Dia sudah tidak mau apa-apa selain menghabiskan sisa hidupnya di gua. ”Pun ngoten mawon (Sudah itu saja, Red),” paparnya meminta obrolan terkait cerita hidupnya diakhiri.

Sugiyanto, 72, salah seorang kuncen atau pemandu di Gua Langse, ditemui selepas dari gua menceritakan bahwa tidak ada yang tahu secara persis siapa dan kapan Gua Langse ditemukan. Karena lokasinya yang sulit dijangkau, banyak yang memperkirakan penemunya adalah orang yang tengah berlayar di laut selatan. ”Dalam sehari biasanya ada sekitar lima orang yang datang ke Gua Langse,” ungkapnya ramah.

Konon ada beberapa orang yang tidak sanggup memanjat tebing di Gua Langse dan akhirnya terjatuh. Medannya yang sangat terjal dengan banyaknya batu karang menyebabkan pengunjung yang terjatuh meninggal. ”Cerita soal orang terjatuh dan mati di tebing baru saya ceritain sekarang,” kata Sugiyanto. ”Kalau belum turun, ya nggak saya ceritain. Nanti takut,” tambahnya, lalu terkekeh. 

Camat Kecamatan Purwosari Purwono menerangkan, Gua Langse masuk kategori wisata minat khusus. Keberadaan Mbah Kijem membantu wisatawan karena tidak perlu repot-repot membawa bekal makanan. Semua sudah disediakan Mbah Kijem, mulai kopi hingga nasi, meski dengan menu seadanya. ”Medannya sulit dijangkau,” ungkapnya.

Dia menerangkan, pengunjung Gua Langse biasanya punya niat khusus dalam perjalanan itu. Banyak pengunjung yang bernazar, jika niat khususnya tercapai, akan menyembelih kambing di mana masakannya dinikmati warga sekitar. ”Pengunjung akan minta tolong Bu Sakijem yang menunaikan nazarnya,” jelasnya.

Mbah Kijem bukanlah orang yang tidak mampu sehingga tinggal di gua. Menurut Purwono, rumahnya di Nglegok, RT 04, RW 02, Giritirto, Purwosari, Gunungkidul, tergolong mentereng bila dibandingkan dengan tetangganya. Jaraknya sekitar 10 km dari tebing gua. Jika ada saudara punya hajatan, Mbah Kijem dijemput untuk pulang. ”Waktu anaknya nikah juga Bu Sukijem nanggap wayang,” terangnya.

Mbah Kijem bahagia dengan pilihan hidupnya. Setelah meminta obrolan berakhir, Mbah Kijem berjalan diikuti Bambang ke dapur. Dia memasak air dan membuat teh hangat. Sambil memegang cangkir teh, dia duduk menatap luasnya laut hingga menjelang sore. Waktu beberapa jam berlalu tanpa obrolan. ”Mbah sudah sore, saya pamit dulu,” ungkapnya. Mbah Kijem membalas dengan senyuman. Tanpa kata, dia mengangguk tanda mempersilakan. (*/c10/ayi)
 

Berita Terkait