Masalah Gizi Selalu Ada

Masalah Gizi Selalu Ada

  Jumat, 25 January 2019 10:06

Berita Terkait

SELAMAT Hari Gizi Nasional! Setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, yang mana dulunya diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan Tenaga Gizi Indonesia. Hari Gizi Nasional pertama kali diselenggarakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an. Direktorat Gizi pun melanjutkan penyelenggaraannya pada tahun 1970-an hingga sekarang.

Tentunya Hari Gizi Nasional menjadi momennya para ahli gizi untuk lebih terekspos. Yup, nggak bisa dipungkiri kalo permasalahan gizi selalu ada dan penyakit nggak akan mudah teratasi. Peran ahli gizi sangat dibutuhkan masyarakat karena gizi erat kaitannya dengan penyakit. 

“Tantangan saat ini terletak pada pertukaran informasi yang langsung diadopsi masyarakat. Misalnya nih, sejenis makanan dikatakan sebagai obat berbagai penyakit. Masa satu jenis bahan makanan bisa menjadi obat segala penyakit, sumbernya dari mana dan terkadang masyarakat dengan mudah mempercayainya,” jelas Jurianto Gambir, S.Si., M.Kes selaku Ketua Prodi D-IV Gizi, Poltekkes Kemenkes Pontianak.

Jurianto Gambir menghimbau masyarakat agar selektif dalam membaca dan memilih referensi karena kemajuan teknologi emang dapat menjadi alat bantu penyampaian informasi pada masyarakat, tapi informasi tersebut harus difilter kembali. Menurut Jurianto, ahli gizi dapat berinovasi dalam mengimplementasi ilmu yang dimiliki untuk membantu masyarakat menyaring informasi.

Proses hingga menjadi ahli gizi pun terbilang nggak mudah, Jurianto mengungkapkan ahli gizi harus menempuh jalur pendidikan formal dengan mengambil jurusan gizi di universitas. Setelah lulus, calon ahli gizi kudu mengikuti uji kompetensi dan pendidikan profesi. Setelah semuanya dilakukan, akan mendapatkan gelar profesi dengan sebutan RD (Registration Ditetion).

“Ada kepuasan tersendiri terutama saat melihat anak-anak yang pernah bermasalah dengan gizi dan sudah mendapat konseling menjadi membaik. Hal-hal kecil yang kami lakukan bisa bermanfaat bagi orang lain adalah yang paling membahagiakan,” ungkapnya.

Riyana Ulfa, salah seorang mahasiswi gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak pun menceritakan kuliah di jurusan gizi memberikannya banyak manfaat. Selama berkuliah, Riyana mempelajari berbagai macam olahan makanan untuk orang sehat, terlebih lagi makan untuk orang sakit karena kebutuhannya berbeda dengan orang sehat. 

“Gizi tuh identik sekali dengan masakan dan makanan. Makanya kadang mahasiswa gizi tuh sering dikirain tukang masak. Tapi nggak masalah juga, karena masakan mahasiswa gizi udah pasti bergizi dan rasanya enak-enak,” kekehnya.

Mempelajari ilmu gizi diakui Riyana membuat dirinya tahu kebutuhan dan bisa mengatur makanan untuk dia dan keluarganya. “Kita bisa tahu makanan apa yang harusnya dibatasi, makanan apa yang sebaiknya kita konsumsi. Seberapa porsinya, udah mencukupi gizi seimbang atau belum. Kalo udah kerja jadi ahli gizi pastinya semua ilmu gizinya diterapkan ke lingkungan kerja, nggak hanya ke diri dan keluarga,” pungkasnya. (ind)

 

Berita Terkait