Mantap Menatap April Mop

Mantap Menatap April Mop

  Senin, 21 March 2016 09:21

Berita Terkait

LONDON – Tidak ada yang ingin terkena jebakan April Fool’s Day, atau di Indonesia sering disebut April Mop. Termasuk pelatih Leicester City, Claudio Ranieri. April yang biasanya menjadi bulan penentuan klub-klub untuk menjuarai Premier League bisa jadi jebakan. 

Salah-salah, kans The Foxes – julukan Leicester – bisa pupus pada bulan April nanti. Akan tetapi, hasil pada pekan ke-30 kemarin (19/3) memantapkan Ranieri bahwa pada bulan April tidak akan ada jebakan baginya. Leicester mempertahankan jalannya ke tangga juara dengan mengalahkan Crystal Palace 1-0.

Riyad Mahrez menjadi hero dengan golnya memanfaatkan assist Jamie Vardy di menit ke-34. Sebelum Tottenham Hotspur memainkan laga di pekan ke-30-nya melawan Bournemouth pada Minggu tengah malam kemarin (20/3), gap delapan angka jadi modal Ranieri menatap April Mop. 

’’Sekarang semuanya berada di tangan kami. Kami harus menekan diri kami sendiri, tidak penting untuk melihat tim lain, karena tidak satupun yang membantu kami. Kamilah yang harus menuntaskan ini semua,’’ ujar Ranieri, sebagaimana yang dikutip dari Goal.

Di atas kertas, tidak akan ada potensi April Mop. Karena, dari empat laga bulan April, tidak satu pun yang menyajikan potensi bahaya. Mulai dari Southampton (3/4), Sunderland (10/4), West Ham (17/4), dan Swansea City (24/4). Yang ada hanya potensi kejutan dari Soton dan West Ham.

Bandingkan dengan Tottenham dan Arsenal sebagai pesaing terdekatnya dalam perburuan gelar juara Premier League ini. Spurs misalnya, yang harus menjalani pekan terjal melawan Liverpool (2/4) dan Manchester United (10/4). Sedangkan Arsenal juga bisa disibukkan West Ham dalam derby London (9/4).

Ranieri hanya berharap pertolongan 60 persen rekor kemenangan kandangnya musim ini. Bersama Swansea, Soton dan West Ham dihadapi Leicester di King Power Stadium, homeground-nya. ’’Tiga laga kandang harus kami amankan. Sekarang saya ingin melihat sejauh mana kuda saya bisa berlari,’’ lanjutnya.

’’Kami tetap berjuang laga per laga. Setidaknya saat ini kami sudah mengunci satu slot ke Europa League musim depan. Lalu, kami sedikit lagi mendapatkan tiket lolos ke playoff Liga Champions. Itu yang sudah nyata saat ini,’’ tutur pelatih yang baru-baru ini namanya dipakai sebagai nama sosis tersebut.

Dalam mengamankan setiap langkahnya menuju juara Premier League untuk kali pertama itu, Leicester kembali ke performa aslinya. Bermain efektif dan menggunakan counter attack plus bola-bola jauh sebagai senjata mematikannya. Opta mencatat, pesta di Selhurst Park kemarin menjadi pesta ke-13 yang dilakukan Leicester dengan marjin satu gol.

Wes Morgan dkk menjadi klub terbanyak mencatatkan kemenangan dengan marjin satu gol dibandingkan klub Premier League lainnya. Statistik itu pun menguatkan label Leicester sebagai klub dengan efektivitas serangan terbaik. Karena mereka hanya butuh 7,6 tembakan untuk per satu golnya. 

Mahrez pun untuk ketujuh kalinya menjadi pemain penentu kemenangan. Tujuh kali menjadi hero itu belum disamai pemain mana pun di Premier League. ’’Saya bangga bisa membantu tim ini untuk terus menang. Tapi, jalan masih panjang, Tottenham saja belum bermain,’’ tutur pemain kandidat kuat Pemain Terbaik Tahun Ini versi PFA tersebut kepada Mirror. 

Pemain berkebangsaan Aljazair itu meminta rekan-rekannya agar tidak limbung. Sebagai klub yang pemainnya dominant belum pernah mengangkat trofi Premier League, mental bisa mengubah segalanya. Mahrez tidak mau Leicester hanya menjadi sensasi tanpa victory.

’’Permainan yang solid dan kompak seperti ini harus tetap dilanjutkan. Ini (juara Premier League) sudah semakin mendekat, tetapi masih ada tujuh laga ke depan. Jalan masih panjang, dan kami harus fokus ke tim kami sendiri, lalu melihat apa yang bisa kami capai,’’ imbuhnya. (ren)

Berita Terkait