Manjanya Si ‘Anak’ Nenek

Manjanya Si ‘Anak’ Nenek

  Rabu, 28 September 2016 09:30

Berita Terkait

Kakek dan nenek cenderung memanjakan cucu-cucunya. Keduanya pun kerap mengikuti kemauan para cucu. Begitu pula ketika orangtua memarahi buah hatinya, mereka pun segera membela. Akhirnya tak jarang orangtua mengeluh karena sang anak menjadi lebih manja dan lebih dekat dengan kakek dan neneknya. 

Oleh : Marsita Riandini

Perbedaan pola asuh orangtua dengan sang kakek dan nenek sering menjadi masalah. Di saat orangtua memarahi anaknya karena suatu kesalahan, nenek pun menjadi pelindung. Begitu pula saat orangtua menolak permintaan anak, sang kakek pun dengan segera mengabulkan permintaan itu. Akhirnya, anak pun menjadi sangat manja dengan kakek dan neneknya. 

Kondisi ini dialami pula oleh Mirna, ibu satu anak yang namanya disamarkan. Mirna memiliki anak balita. Sejak kecil, ia berusaha mendidik anaknya menjadi pribadi yang tak manja. Tak semua permintaan anaknya dituruti. Ketika buah hatinya melakukan kesalahan, Mirna pun berusaha menegurnya. 

“Tetapi kalau dengan neneknya, semua dituruti. Saya jarang memberi cokelat, tetapi kalau sudah dengan neneknya diberi cokelat. Akhirnya jadi batuk dan tak mau makan nasi,” ungkap Mirna.

Begitu pula ketika Mirna bersikap tegas kepada anaknya. Sang nenek dengan sigap membela. “Kalau saya menegur anak, neneknya protes. Padahal saya tak pernah menegur dengan main fisik. Saya tak pernah mencubit, memukul, dan lainnya. Hanya menegur,” jelas Mirna.

Perbedaan pola asuh ini kadang menimbulkan kesalahpahaman antara orangtua dan nenek ataupun kakek. Lantas apa yang harus dilakukan orangtua?

Dr. Fitri Sukmawati, M. Psi, Psikolog menyatakan tak ada salahnya anak dekat dengan kakek neneknya. Hal ini bagus bagi keduanya. Anak akan menjadi sayang dengan sang kakek dan nenek, begitu sebaliknya kakek dan nenek akan merasa bahagia karena kehadiran sang cucu di hari tuanya. 

Hanya saja memang ada pengaruhnya terhadap pola asuh yang akan diterapkan orangtua.  Situasi semakin dilema bila kakek nenek ikut mewarnai pengasuhan sang buah hati. 

“Jika pola asuhnya sejalan, mungkin tidak masalah. Yang sering jadi dilema, jika pola asuh yang ingin diterapkan orangtua dengan pola asuh yang diterapkan kakek neneknya berbeda,” ujar Ketua Himpunan Psikologi (HIMPSI) Kalbar ini. 

Fitri menuturkan umumnya karena rasa kasih sayang kepada cucunya, kakek dan nenek lebih banyak menerapkan pola asuh permisif. Pola asuh ini memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan sehingga seringkali pola asuh seperti ini yang disukai oleh anak. 

“Lebih banyak membolehkannya dari pada tidak. Ini yang kadangkala bertentangan dengan orang tua. Anak pun merasa si nenek atau kakeknya lebih sayang, karena membolehkan apa yang anak mau, sementara orang tua melarangnya. Akhirnya disiplin anak menjadi kurang, aturan yang ditetapkan orang tua tidak jalan,” jelasnya. 

Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan peran orangtua menjadi kurang. Sebaliknya, pola asuh dari kakek dan nenek yang lebih mendominasi. Ini biasanya menjadi tantangan yang cukup besar bagi pasangan yang masih tinggal dengan keluarga besar. 

“Ini juga tantangan bagi orangtua yang menitipkan anaknya di rumah nenek, baik itu untuk sementara waktu atau dalam waktu yang lama. Misalnya orangtua bekerja jauh, anak dititipkan dengan nenek dan kakeknya,” ungkapnya.

Tapi bukan berarti pola asuh yang di terapkan kakek dan neneknya itu salah. Sebab pasti ada hal-hal positif yang bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Sebagaimana kakek dan nenek menerapkan pola asuhnya kepada Anda ketika masih dalam pengasuhan mereka. “Ada pola asuh kakek nenek yang keliru, tetapi ada juga yang bagus sehingga anak mampu menyerap hal positif dari kakek neneknya,” pungkasnya. **

Berita Terkait